Dibalik Kebesaran Soekarno
By : Unknown
Dibalik
Kebesaran Soekarno
“AKU ini bukan apa-apa
kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku
penyambung lidah rakyat.” Pengakuan ini meluncur dari Soekarno, Presiden RI
pertama, dalam karyanya Menggali Api Pancasila. Sadar atau tidak sadar ia
mengucapkannya, terkesan ada kejujuran di sana. Soekarno, sang orator ulung dan
penulis piawai, memang selalu membutuhkan dukungan orang lain. Ia tak tahan
kesepian dan tak suka tempat tertutup. Dari pidato dan tulisannya yang memperlihatkan
betapa mahirnya ia menggunakan bahasa, tersirat sebuah kebutuhan untuk selalu
mendapat dukungan dari orang lain.
Gejala berbahasa Soekarno, Bung Karno, merupakan fenomena langka yang mengundang kagum banyak orang. Wajar kalau muncul pertanyaan “Apakah kemahiran Soekarno menggunakan bahasa dengan segala ma-cam gayanya berhubungan dengan kepribadiannya?” Analisis terhadap kepribadian Soekarno melalui autobiografi, karangan-karangannya, dan buku-buku sejarah yang memuat sepak terjangnya dapat membantu memberikan jawaban. Dengan menggunakan pendekatan teori psi-kologi individual dari Alfred Adler (Hall dan Lindzey, 1985) dapat dipahami bagaimana Proklamator Kemerdekaan RI ini bisa menjadi pribadi yang berapi-api, pembakar semangat banyak orang, gagah dan teguh sekaligus sensitif, takut pada kesendirian, dan sangat membutuhkan dukungan sosial.
Pribadi yang kesepian
Di akhir masa kekuasaannya, Soekarno sering merasa kesepian. Dalam autobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat, ia menceritakannya.
“Aku tak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat tidur barang sekejap. Kadang-kadang, di larut malam, aku menelepon seseorang yang dekat denganku seperti misalnya Subandrio, Wakil Perdana Menteri Satu dan kataku, ‘Bandrio datanglah ke tempat saya, temani saya, ceritakan padaku sesuatu yang ganjil, ceritakanlah suatu lelucon, berceritalah tentang apa saja asal jangan mengenai politik. Dan kalau saya tertidur, maafkanlah.’… Untuk pertama kali dalam hidupku aku mulai makan obat tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.”
(Adams, 2000:3)
“Ditinjau secara keseluruhan maka jabatan presiden tak ubahnya seperti suatu pengasingan yang terpencil… Seringkali pikiran oranglah yang berubah-ubah, bukan pikiranmu… Mereka turut menciptakan pulau kesepian ini di sekelilingmu.”
(Adams, 2000:14)
Apa yang ditampilkan Soekarno dapat dilihat sebagai sindrom orang terkenal. Ia diklaim milik rakyat Indonesia. Walhasil, ia tak bisa lagi bebas bepergian sendiri menikmati kesenangannya (Adams, 2000:12). Namun, melihat ke masa mudanya, kita juga menemukan tanda-tanda kesepian di sana. Semasa sekolah di Hogere Burger School (HBS), ia menekan kesendiriannya dengan berkubang dalam buku-buku, sebuah kompensasi dari kemiskinan yang dialaminya. Kebiasaan ini berlanjut hingga masa ia kuliah di Bandung. Soekarno terkenal sebagai pemuda yang pendiam dan suka menarik diri (Adams, 2000:89-91).
Indikasi kesepian juga kita dapatkan dalam ceritanya tentang penjara. Malam-malam di penjara menyiksanya dengan ruang yang sempit dan tertutup. Dinding-dinding kamar tahanannya terlalu menjepit dirinya. Lalu muncullah perasaan badannya yang membesar hingga makin terjepit dalam ruang tahanan itu.
“Yang paling menekan perasaan dalam seluruh penderitaan itu adalah pengurungan. Seringkali jauh tengah malam aku merasa seperti dilak rapat dalam kotak kecil berdinding batu yang begitu sempit, sehingga kalau aku merentangkan tangan, aku dapat menyentuh kedua belah dindingnya. Rasanya aku tak bisa bernafas. Kupikir lebih baik aku mati. Suatu perasaan mencekam diriku, jauh sama sekali dari keadaan normal.” (Adams, 2000:135)
Lebih jauh lagi ke masa kecilnya, Soekarno sering merasa sedih karena hidup dalam kemelaratan sehingga tak dapat menikmati benda-benda yang diidamkannya. Di saat anak-anak lain dapat menikmati makanan jajanan dan mainan, Karno hanya dapat menyaksikan mereka dengan perasaan sedih. Lalu ia menangis mengungkapkan ketidakpuasan sekaligus ketakberdayaannya. Selain itu, di lingkungan sekolah ia harus berhadapan dengan anak-anak Belanda yang sudah terbiasa memandang remeh pribumi.
Pengalaman yang cukup traumatis terjadi di masa lima tahun pertama. Soekarno pernah berturut-turut menderita penyakit seperti tifus, disentri, dan malaria yang berujung pada penggantian namanya dari Kusno menjadi Karno, nama seorang tokoh pewayangan putra Kunti yang berpihak pada Kurawa demi balas budi dan kewajiban membela negara yang menghidupinya. Sakit yang melemah-kan secara fisik dapat berpengaruh terhadap kondisi psikis. Sangat mungkin muncul perasaan lemah, tak berdaya, dan terasing pada diri Soekarno kecil. Untungnya dilakukan penggantian nama disertai penjelasan dari ayahnya tentang makna pergantian nama yang memberinya kebanggaan karena menyandang nama pejuang besar.
Pengalaman sakit-sakitan dan hidup dalam kemiskinan tampak membekas kuat dalam ingatan Soekarno. Di masa tuanya, ia menafsirkan kegemarannya bersenang-senang sebagai kompensasi dari masa lalunya yang dirampas kemiskinan (Adams, 2000). Ada semacam dendam terhadap kemiskinan dan ketidakberdayaan yang telah berkilat dalam dirinya. Dendam yang kemudian menggerakkannya pada semangat perjuangan kemerdekaan dan keinginan belajar yang tinggi.
Mitos-mitos dari masa kecil
Sejak kecil, Soekarno sudah menyimpan mitos tentang diri-nya sebagai pejuang besar dan pembaru bagi bangsanya. Ibunya, Ida Nyoman Rai, menceritakan makna kelahiran di waktu fajar.
“Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing. Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar.” (Adams, 2000:24)
Tanggal kelahiran Soekarno pun dipandangnya sebagai pertanda nasib baik.
“Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku sesungguhnya. Dua sifat yang berlawanan.” (Adams, 2000:25)
Soekarno melihat dirinya yang terdiri dari dua sifat yang berlawanan sebagai satu kemungkinan pertanda nasibnya di dunia politik.
“Karena aku terdiri dari dua belahan, aku dapat memperlihatkan segala rupa, aku dapat mengerti segala pihak, aku memimpin semua orang. Boleh jadi ini secara kebetulan bersamaan. Boleh jadi juga pertanda lain. Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu menjadikanku seseorang yang merangkul semua-nya.”
Kejadian lain yang dianggap pertanda nasib oleh Soekarno adalah meletusnya Gunung Ke-lud saat ia lahir. Tentang ini ia menyatakan, “Orang yang percaya kepada takhayul meramalkan, ‘Ini adalah penyambutan terhadap bayi Soekarno,” Selain itu, penjelasan tentang penggantian nama Kusno menjadi Karno pun memberi satu mitos lagi dalam diri Soekarno kecil tentang dirinya sebagai calon pejuang dan pahlawan bangsanya.
Kepercayaan akan pertanda-pertanda yang muncul di hari kelahiran Soekarno memberi semacam gambaran masa depan dalam benak Soekarno sejak masa kecilnya. Dalam kerangka pemikiran Adler, gambaran masa depan itu disebut fictional final goals (tujuan akhir fiktif). Meskipun fiktif (tak didasari kenyataan), tetapi gambaran masa depan ini berperan menggerakkan kepribadian manusia untuk mencapai kondisi yang tertuang di dalamnya (Adler, 1930:400). Riwayat hidup Soekarno memperlihatkan bagaimana gambaran dirinya di masa depan dan persepsinya tentang Indonesia menggerakkannya mencapai kemerdekaan Indonesia.
Bombasme bahasa dan keinginan merengkuh massa
Setelah menjadi presiden, Soekarno berpidato tiap tanggal 17 Agustus. Di sana dapat kita temukan kalimat-kalimat muluk, penggunaan perumpamaan elemen-elemen alam yang megah dan hiperbolisme bahasa. Dari tahun ke tahun pidatonya makin gegap-gempita, mencoba membakar semangat massa pendengarnya dengan retorika kata-kata muluk.
Dari kalimat-kalimat itu dapat dibayangkan seperti apakah kondisi psikis orang yang menggunakannya. Dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1949, contohnya, ia berseru, “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali.” Di sini ada indikasi ia menempatkan diri sebagai orang yang bersemangat elang rajawali sehingga memiliki hak dan kewajiban untuk menyerukan pada rakyatnya agar memiliki semangat yang sama dengannya.
Seruan-seruan yang sering dilontarkan dalam pidatonya adalah tentang perjuangan yang harus dilakukan tak henti-henti.
“Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangun soal-soal, tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu.”
(Pidato 17 Agustus 1948)
“Tidak seorang yang menghitung-hitung: Berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya.”
(Pidato 17 Agustus 1956)
“Karena itu segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia: “Terlepas dari perbedaan apa pun, jagalah Persatuan, jagalah Kesatuan, jagalah Keutuhan! Kita sekalian adalah machluk Allah! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini se-olah-olah adalah buta.”
(Pidato 17 Agustus 1966)
Selain ajakan untuk berjuang, tersirat juga dari petikan-petikan tersebut bahwa Soekarno memandang dirinya sebagai orang yang terus-menerus berjuang mengisi kemerdekaan. Pengaruh fictional final goals-nya terlihat jelas, Soekarno yang sejak kecil membayangkan diri menjadi pemimpin bangsanya dengan kepercayaan tinggi menempatkan dirinya sebagai guru bagi rakyat.
“Adakanlah ko-ordinasi, ada-kanlah simponi yang seharmonis-harmonisnya antara kepentingan sendiri dan kepentingan umum, dan janganlah kepentingan sendiri itu dimenangkan diatas kepentingan umum.”
(Pidato 17 Agustus 1951)
“Kembali kepada jiwa Proklamasi …. kembali kepada sari-intinya yang sejati, yaitu pertama jiwa Merdeka Nasional… kedua jiwa ichlas… ketiga jiwa persatuan… keempat jiwa pembangunan.”
(Pidato 17 Agustus 1952)
“Dalam pidatoku “Berilah isi kepada kehidupanmu” kutegaskan: “Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner…. jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan…” kita adalah “fighting nation” yang tidak mengenal “journey’s-end”
(Pidato 17 Agustus 1956)
Keinginannya untuk merengkuh massa sebanyak-banyaknya tampak dari kesenangannya tampil di depan massa. Bombasme-kecenderungan yang kuat untuk menggunakan kalimat-kalimat muluk dan ide-ide besar yang tidak disertai oleh tindakan konkret-praktis untuk mencapainya yang ditampilkannya dapat diartikan sebagai usaha memikat hati rakyat. Pidato-pidatonya banyak mengandung gaya hiperbola dan metafora yang berlebihan seperti “Laksana Malaikat yang menyerbu dari langit”, “adakanlah simfoni yang seharmonis-harmonisnya antara kepentingan sendiri dan kepentingan umum”, “Bangsa yang gila kemuktian, satu bangsa yang berkarat”, dan “memindahkan Gunung Semeru atau Gunung Kinibalu sekalipun.” Simak kutipan-kutipan berikut bagaimana gaya bahasa yang digunakan untuk memikat massa.
“Janganlah melihat ke masa depan dengan Mata Buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca mata benggalanya dari pada masa yang akan datang.”
(Pidato 17 Agustus 1966)
“Atau hendakkah kamu menjadi bangsa yang ngglenggem”? Bangsa yang ‘zelfgenoegzaam’? Bangsa yang angler memeteti burung perkutut dan minum teh nastelgi? Bangsa yang demikian itu pasti hancur lebur terhimpit dalam desak mendesaknya bangsa-bangsa lain yang berebut rebutan hidup!”
(Pidato 17 Agustus 1960)
Kita mau menjadi satu Bangsa yang bebas Merdeka, berdaulat penuh, bermasyarakat adil makmur, satu Bangsa Besar yang Hanyakrawati, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja, otot kawat balung wesi, ora tedas tapak palune pande, ora tedas gurindo.
(Pidato 17 Agustus 1963)
Gaya menggurui dari tahun ke tahun makin jelas terlihat dalam pidato Soekarno. Ia makin sering membuka pidatonya dengan kalimat “Saya akan memberi kursus tentang”. Pengaruh gambaran masa kecilnya tentang Soekarno sebagai pembuka fajar baru bagi bangsanya makin tegas. Ia tak menyadari bahwa gambaran itu bersifat fiktif, tak didasari kenyataan. Soekarno melambung tinggi dengan ide-idenya dan cenderung mengabaikan kondisi konkret bangsanya terutama kondisi ekonomi.
Gejala berbahasa Soekarno, Bung Karno, merupakan fenomena langka yang mengundang kagum banyak orang. Wajar kalau muncul pertanyaan “Apakah kemahiran Soekarno menggunakan bahasa dengan segala ma-cam gayanya berhubungan dengan kepribadiannya?” Analisis terhadap kepribadian Soekarno melalui autobiografi, karangan-karangannya, dan buku-buku sejarah yang memuat sepak terjangnya dapat membantu memberikan jawaban. Dengan menggunakan pendekatan teori psi-kologi individual dari Alfred Adler (Hall dan Lindzey, 1985) dapat dipahami bagaimana Proklamator Kemerdekaan RI ini bisa menjadi pribadi yang berapi-api, pembakar semangat banyak orang, gagah dan teguh sekaligus sensitif, takut pada kesendirian, dan sangat membutuhkan dukungan sosial.
Pribadi yang kesepian
Di akhir masa kekuasaannya, Soekarno sering merasa kesepian. Dalam autobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat, ia menceritakannya.
“Aku tak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat tidur barang sekejap. Kadang-kadang, di larut malam, aku menelepon seseorang yang dekat denganku seperti misalnya Subandrio, Wakil Perdana Menteri Satu dan kataku, ‘Bandrio datanglah ke tempat saya, temani saya, ceritakan padaku sesuatu yang ganjil, ceritakanlah suatu lelucon, berceritalah tentang apa saja asal jangan mengenai politik. Dan kalau saya tertidur, maafkanlah.’… Untuk pertama kali dalam hidupku aku mulai makan obat tidur. Aku lelah. Terlalu lelah.”
(Adams, 2000:3)
“Ditinjau secara keseluruhan maka jabatan presiden tak ubahnya seperti suatu pengasingan yang terpencil… Seringkali pikiran oranglah yang berubah-ubah, bukan pikiranmu… Mereka turut menciptakan pulau kesepian ini di sekelilingmu.”
(Adams, 2000:14)
Apa yang ditampilkan Soekarno dapat dilihat sebagai sindrom orang terkenal. Ia diklaim milik rakyat Indonesia. Walhasil, ia tak bisa lagi bebas bepergian sendiri menikmati kesenangannya (Adams, 2000:12). Namun, melihat ke masa mudanya, kita juga menemukan tanda-tanda kesepian di sana. Semasa sekolah di Hogere Burger School (HBS), ia menekan kesendiriannya dengan berkubang dalam buku-buku, sebuah kompensasi dari kemiskinan yang dialaminya. Kebiasaan ini berlanjut hingga masa ia kuliah di Bandung. Soekarno terkenal sebagai pemuda yang pendiam dan suka menarik diri (Adams, 2000:89-91).
Indikasi kesepian juga kita dapatkan dalam ceritanya tentang penjara. Malam-malam di penjara menyiksanya dengan ruang yang sempit dan tertutup. Dinding-dinding kamar tahanannya terlalu menjepit dirinya. Lalu muncullah perasaan badannya yang membesar hingga makin terjepit dalam ruang tahanan itu.
“Yang paling menekan perasaan dalam seluruh penderitaan itu adalah pengurungan. Seringkali jauh tengah malam aku merasa seperti dilak rapat dalam kotak kecil berdinding batu yang begitu sempit, sehingga kalau aku merentangkan tangan, aku dapat menyentuh kedua belah dindingnya. Rasanya aku tak bisa bernafas. Kupikir lebih baik aku mati. Suatu perasaan mencekam diriku, jauh sama sekali dari keadaan normal.” (Adams, 2000:135)
Lebih jauh lagi ke masa kecilnya, Soekarno sering merasa sedih karena hidup dalam kemelaratan sehingga tak dapat menikmati benda-benda yang diidamkannya. Di saat anak-anak lain dapat menikmati makanan jajanan dan mainan, Karno hanya dapat menyaksikan mereka dengan perasaan sedih. Lalu ia menangis mengungkapkan ketidakpuasan sekaligus ketakberdayaannya. Selain itu, di lingkungan sekolah ia harus berhadapan dengan anak-anak Belanda yang sudah terbiasa memandang remeh pribumi.
Pengalaman yang cukup traumatis terjadi di masa lima tahun pertama. Soekarno pernah berturut-turut menderita penyakit seperti tifus, disentri, dan malaria yang berujung pada penggantian namanya dari Kusno menjadi Karno, nama seorang tokoh pewayangan putra Kunti yang berpihak pada Kurawa demi balas budi dan kewajiban membela negara yang menghidupinya. Sakit yang melemah-kan secara fisik dapat berpengaruh terhadap kondisi psikis. Sangat mungkin muncul perasaan lemah, tak berdaya, dan terasing pada diri Soekarno kecil. Untungnya dilakukan penggantian nama disertai penjelasan dari ayahnya tentang makna pergantian nama yang memberinya kebanggaan karena menyandang nama pejuang besar.
Pengalaman sakit-sakitan dan hidup dalam kemiskinan tampak membekas kuat dalam ingatan Soekarno. Di masa tuanya, ia menafsirkan kegemarannya bersenang-senang sebagai kompensasi dari masa lalunya yang dirampas kemiskinan (Adams, 2000). Ada semacam dendam terhadap kemiskinan dan ketidakberdayaan yang telah berkilat dalam dirinya. Dendam yang kemudian menggerakkannya pada semangat perjuangan kemerdekaan dan keinginan belajar yang tinggi.
Mitos-mitos dari masa kecil
Sejak kecil, Soekarno sudah menyimpan mitos tentang diri-nya sebagai pejuang besar dan pembaru bagi bangsanya. Ibunya, Ida Nyoman Rai, menceritakan makna kelahiran di waktu fajar.
“Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing. Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar.” (Adams, 2000:24)
Tanggal kelahiran Soekarno pun dipandangnya sebagai pertanda nasib baik.
“Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku sesungguhnya. Dua sifat yang berlawanan.” (Adams, 2000:25)
Soekarno melihat dirinya yang terdiri dari dua sifat yang berlawanan sebagai satu kemungkinan pertanda nasibnya di dunia politik.
“Karena aku terdiri dari dua belahan, aku dapat memperlihatkan segala rupa, aku dapat mengerti segala pihak, aku memimpin semua orang. Boleh jadi ini secara kebetulan bersamaan. Boleh jadi juga pertanda lain. Akan tetapi kedua belahan dari watakku itu menjadikanku seseorang yang merangkul semua-nya.”
Kejadian lain yang dianggap pertanda nasib oleh Soekarno adalah meletusnya Gunung Ke-lud saat ia lahir. Tentang ini ia menyatakan, “Orang yang percaya kepada takhayul meramalkan, ‘Ini adalah penyambutan terhadap bayi Soekarno,” Selain itu, penjelasan tentang penggantian nama Kusno menjadi Karno pun memberi satu mitos lagi dalam diri Soekarno kecil tentang dirinya sebagai calon pejuang dan pahlawan bangsanya.
Kepercayaan akan pertanda-pertanda yang muncul di hari kelahiran Soekarno memberi semacam gambaran masa depan dalam benak Soekarno sejak masa kecilnya. Dalam kerangka pemikiran Adler, gambaran masa depan itu disebut fictional final goals (tujuan akhir fiktif). Meskipun fiktif (tak didasari kenyataan), tetapi gambaran masa depan ini berperan menggerakkan kepribadian manusia untuk mencapai kondisi yang tertuang di dalamnya (Adler, 1930:400). Riwayat hidup Soekarno memperlihatkan bagaimana gambaran dirinya di masa depan dan persepsinya tentang Indonesia menggerakkannya mencapai kemerdekaan Indonesia.
Bombasme bahasa dan keinginan merengkuh massa
Setelah menjadi presiden, Soekarno berpidato tiap tanggal 17 Agustus. Di sana dapat kita temukan kalimat-kalimat muluk, penggunaan perumpamaan elemen-elemen alam yang megah dan hiperbolisme bahasa. Dari tahun ke tahun pidatonya makin gegap-gempita, mencoba membakar semangat massa pendengarnya dengan retorika kata-kata muluk.
Dari kalimat-kalimat itu dapat dibayangkan seperti apakah kondisi psikis orang yang menggunakannya. Dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1949, contohnya, ia berseru, “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali.” Di sini ada indikasi ia menempatkan diri sebagai orang yang bersemangat elang rajawali sehingga memiliki hak dan kewajiban untuk menyerukan pada rakyatnya agar memiliki semangat yang sama dengannya.
Seruan-seruan yang sering dilontarkan dalam pidatonya adalah tentang perjuangan yang harus dilakukan tak henti-henti.
“Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangun soal-soal, tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu.”
(Pidato 17 Agustus 1948)
“Tidak seorang yang menghitung-hitung: Berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya.”
(Pidato 17 Agustus 1956)
“Karena itu segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia: “Terlepas dari perbedaan apa pun, jagalah Persatuan, jagalah Kesatuan, jagalah Keutuhan! Kita sekalian adalah machluk Allah! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini se-olah-olah adalah buta.”
(Pidato 17 Agustus 1966)
Selain ajakan untuk berjuang, tersirat juga dari petikan-petikan tersebut bahwa Soekarno memandang dirinya sebagai orang yang terus-menerus berjuang mengisi kemerdekaan. Pengaruh fictional final goals-nya terlihat jelas, Soekarno yang sejak kecil membayangkan diri menjadi pemimpin bangsanya dengan kepercayaan tinggi menempatkan dirinya sebagai guru bagi rakyat.
“Adakanlah ko-ordinasi, ada-kanlah simponi yang seharmonis-harmonisnya antara kepentingan sendiri dan kepentingan umum, dan janganlah kepentingan sendiri itu dimenangkan diatas kepentingan umum.”
(Pidato 17 Agustus 1951)
“Kembali kepada jiwa Proklamasi …. kembali kepada sari-intinya yang sejati, yaitu pertama jiwa Merdeka Nasional… kedua jiwa ichlas… ketiga jiwa persatuan… keempat jiwa pembangunan.”
(Pidato 17 Agustus 1952)
“Dalam pidatoku “Berilah isi kepada kehidupanmu” kutegaskan: “Sekali kita berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner…. jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan…” kita adalah “fighting nation” yang tidak mengenal “journey’s-end”
(Pidato 17 Agustus 1956)
Keinginannya untuk merengkuh massa sebanyak-banyaknya tampak dari kesenangannya tampil di depan massa. Bombasme-kecenderungan yang kuat untuk menggunakan kalimat-kalimat muluk dan ide-ide besar yang tidak disertai oleh tindakan konkret-praktis untuk mencapainya yang ditampilkannya dapat diartikan sebagai usaha memikat hati rakyat. Pidato-pidatonya banyak mengandung gaya hiperbola dan metafora yang berlebihan seperti “Laksana Malaikat yang menyerbu dari langit”, “adakanlah simfoni yang seharmonis-harmonisnya antara kepentingan sendiri dan kepentingan umum”, “Bangsa yang gila kemuktian, satu bangsa yang berkarat”, dan “memindahkan Gunung Semeru atau Gunung Kinibalu sekalipun.” Simak kutipan-kutipan berikut bagaimana gaya bahasa yang digunakan untuk memikat massa.
“Janganlah melihat ke masa depan dengan Mata Buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca mata benggalanya dari pada masa yang akan datang.”
(Pidato 17 Agustus 1966)
“Atau hendakkah kamu menjadi bangsa yang ngglenggem”? Bangsa yang ‘zelfgenoegzaam’? Bangsa yang angler memeteti burung perkutut dan minum teh nastelgi? Bangsa yang demikian itu pasti hancur lebur terhimpit dalam desak mendesaknya bangsa-bangsa lain yang berebut rebutan hidup!”
(Pidato 17 Agustus 1960)
Kita mau menjadi satu Bangsa yang bebas Merdeka, berdaulat penuh, bermasyarakat adil makmur, satu Bangsa Besar yang Hanyakrawati, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja, otot kawat balung wesi, ora tedas tapak palune pande, ora tedas gurindo.
(Pidato 17 Agustus 1963)
Gaya menggurui dari tahun ke tahun makin jelas terlihat dalam pidato Soekarno. Ia makin sering membuka pidatonya dengan kalimat “Saya akan memberi kursus tentang”. Pengaruh gambaran masa kecilnya tentang Soekarno sebagai pembuka fajar baru bagi bangsanya makin tegas. Ia tak menyadari bahwa gambaran itu bersifat fiktif, tak didasari kenyataan. Soekarno melambung tinggi dengan ide-idenya dan cenderung mengabaikan kondisi konkret bangsanya terutama kondisi ekonomi.
SEJARAH FILSAFAT KUNO
By : Unknown
SEJARAH FILSAFAT KUNO
1. Filsafat Yunani
Para sarjana filsafat mengatakan bahwa
mempelajari filsafat Yunani
berarti menyaksikan kelahiran
filsafat. Karena itu tidak ada pengantar
filsafat yang lebih ideal dari pada study
perkembangan pemikiran filsafat
di negeri Yunani. Alfred Whitehead mengatakan tentang Plato:
"All Western phylosophy is but a
series of footnotes to Plato". Pada
Plato dan filsafat Yunani umumnya dijumpai
problem filsafat yang masih
dipersoalkan sampai hari ini. Tema-tema filsafat Yunani seperti ada,
menjadi, substansi, ruang, waktu,
kebenaran, jiwa, pengenalan, Allah dan
dunia merupakan tema-tema bagi filsafat
seluruhnya.
Filsuf- Filsuf Pertama
Ada tiga filsuf dari kota Miletos yaitu
Thales, Anaximandros dan
Anaximenes.
Ketiganya secara khusus menaruh perhatian pada alam dan
kejadian-kejadian alamiah, terutama
tertarik pada adanya perubahan yang
terus menerus di alam. Mereka mencari suatu asas atau prinsip yang
tetap
tinggal sama di belakang
perubahan-perubahan yang tak henti-hentinya
itu.
Thales mengatakan bahwa prinsip itu adalah air, Anaximandros
berpendapat to apeiron atau yang tak
terbatas sedangkan Anaximenes
menunjuk udara.
Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak
di atas air. Tentang
bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi
persis berada di pusat jagat raya
dengan jarak yang sama terhadap semua badan
yang lain. Sedangkan mengenai
kehidupan bahwa semua makhluk hidup berasal
dari air dan bentuk hidup yang
pertama adalah ikan. dan manusia pertama
tumbuh dalam perut
ikan. Sementara Anaximenes dapat dikatakan
sebagai pemikir pertama yang
mengemukakan persamaan antara tubuh manusia
dan jagat raya. Udara di alam
semesta ibarat jiwa yang dipupuk dengan
pernapasan di dalam tubuh manusia.
Filosof berikutnya yang perlu diperkenalkan
adalah
Pythagoras. Ajaran-ajarannya yang pokok
adalah pertama dikatakan bahwa
jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian
manusia, jiwa pindah ke dalam
hewan, dan setelah hewan itu mati jiwa itu
pindah lagi dan
seterusnya. Tetapi dengan mensucikan
dirinya, jiwa dapat selamat dari
reinkarnasi itu. Kedua dari penemuannya terhadap interval-interval
utama
dari tangga nada yang diekspresikan dengan
perbandingan dengan
bilangan-bilangan, Pythagoras menyatakan
bahwa suatu gejala fisis dikusai
oleh hukum matematis. Bahkan katanya
segala-galanya adalah
bilangan. Ketiga mengenai kosmos, Pythagoras
menyatakan untuk pertama
kalinya, bahwa jagat raya bukanlah bumi
melainkan Hestia (Api),
sebagaimana perapian merupakan pusat dari
sebuah rumah.
Pada jaman Pythagoras ada Herakleitos Di
kota Ephesos dan menyatakan
bahwa api sebagai dasar segala sesuatu. Api
adalah lambang perubahan,
karena api menyebabkan kayu atau bahan apa
saja berubah menjadi abu
sementara apinya sendiri tetap menjadi api.
Herakleitos juga berpandangan
bahwa di dalam dunia alamiah tidak
sesuatupun yang tetap. Segala sesuatu
yang ada sedang menjadi. Pernyataannya yang
masyhur "Pantarhei kai uden
menei" yang artinya semuanya mengalir
dan tidak ada sesuatupun yang
tinggal tetap.
Filosof pertama yang disebut sebagai
peletak dasar metafisika adalah
Parmenides.
Parmenides berpendapat bahwa yang ada ada, yang tidak ada
tidak ada. Konsekuensi dari pernyataan ini
adalah yang ada 1) satu dan
tidak terbagi, 2) kekal, tidak mungkin ada
perubahan, 3) sempurna, tidak
bisa ditambah atau diambil darinya, 4)
mengisi segala tempat, akibatnya
tidak mungkin ada gerak sebagaimana klaim
Herakleitos. Para filsuf
tersebut dikenal sebagai filsuf monisme
yaitu pendirian bahwa realitas
seluruhnya bersifat satu karena terdiri
dari satu unsur saja.
Para Filsuf berikut ini dikenal sebagai
filsuf pluralis, karena
pandangannya yang menyatakan bahwa realitas
terdiri dari banyak
unsur.
Empedokles menyatakan bahwa realitas terdiri dari empat rizomata
(akar) yaitu api, udara, tanah dan air.
Perubahan-perubahan yang terjadi
di alam dikendalikan oleh dua prinsip yaitu
cinta (Philotes) dan benci
(Neikos). Empedokles juga menerangkan bahwa
pengenalan
(manusia) berdasarkan prinsip yang sama
mengenal yang sama. Pruralis yang
berikutnya adalah Anaxagoras, yang
mengatakan bahwa realitas adalah
terdiri dari sejumlah tak terhingga
spermata (benih). Berbeda dari
Empedokles yang mengatakan bahwa setiap
unsur hanya memiliki kualitasnya
sendiri seperti api adalah panas dan air
adalah basah, Anaxagoras
mengatakan bahwa segalanya terdapat dalam
segalanya. Karena itu rambut
dan kuku bisa tumbuh dari daging. Perubahan yang membuat benih-benih
menjadi kosmos hanya berupa satu prinsip
yaitu Nus yang berarti roh atau
rasio.
Nus tidak tercampur dalam
benih-benih dan Nus mengenal serta
mengusai segala sesuatu. Karena itu, Anaxagoras dikatakan sebagai
filsuf
pertama yang membedakan antara "yang
ruhani" dan "yang jasmani".
Pluralis Leukippos dan Demokritos juga
disebut sebagai filsuf
atomis.
Atomisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang
tak dapat dibagi-bagi lagi, karenanya
unsur-unsur terakhir ini disebut
atomos. Lebih lanjut dikatakan bahwa
atom-atom dibedakan melalui tiga
cara: (seperti A dan N), urutannya (seperti
AN dan NA) dan posisinya
(seperti N dan Z). Jumlah atom tidak
berhingga dan tidak mempunyai
kualitas, sebagaimana pandangan Parmenides
atom-atom tidak dijadikan dan
kekal. Tetapi Leukippos dan Demokritos
menerima ruang kosong sehingga
memungkinkan adanya gerak. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa realitas
seluruhnya terdiri dari dua hal: yang penuh
yaitu atom-atom dan yang
kosong.
Menurut Demokritos jiwa juga terdiri dari
atom-atom. Menurutnya
proses pengenalan manusia tidak lain
sebagai interaksi antar atom. Setiap
benda mengeluarkan eidola
(gambaran-gambaran kecil yang terdiri dari
atom-atom dan berbentuk sama seperti benda
itu). Eidola ini masuk ke
dalam panca indra dan disalurkan kedalam
jiwa yang juga terdiri dari
atom-atom eidola. Kualitas-kualitas yang
manis, panas, dingin dan
sebagainya, semua hanya berkuantitatif
belaka. Atom jiwa bersentuhan
dengan atom licin menyebabkan rasa manis,
persentuhan dengan atom kesat
menimbulkan rasa pahit sedangkan sentuhan
dengan atom berkecepatan tinggi
menyebabkan rasa panas, dan seterusnya.
Kaum Sofis dan Socrates
Filsafat dalam periode ini ditandai oleh
ajarannya yang
"membumi" dibandingkan
ajaran-ajaran filsuf sebelumnya. Seperti dikatakan
Cicero --sastrawan Roma-- bahwa Socrates telah memindahkan
filsafat dari langit ke atas bumi. Maksudnya, filsuf pra-Socrates
mengkonsentrasikan diri pada persoalan alam
semesta sedangkan Socrates
mengarahkan obyek penelitiannya pada
manusia di atas bumi. Hal ini juga
diikuti oleh para sofis. Seperti telah
disebutkan di depan, sofis
(sophistes) mengalami kemerosotan makna.
Sophistes digunakan untuk
menyebut guru-guru yang berkeliling dari
kota ke kota dan memainkan peran
penting dalam masyarakat. Dalam dialog Protagoras, Plato mengatakan
bahwa
para sofis merupakan pemilik warung yang
menjual barang ruhani.
Sofis pertama adalah Protagoras, menurutnya
manusia ialah ukuran
segala-galanya. Pandangan ini bisa disebut
"relativisme" artinya
kebenaran tergantung pada manusia. Berkaitan dengan relativisme ini maka
diperlukan seni berdebat yang memungkinkan
orang membuat argumen yang
paling lemah menjadi paling kuat. Ajarannya
tentang negara mengatakan
bahwa setiap negara mempunyai adat
kebiasaan sendiri; seorang dewa
berkunjung kepada manusia dan memberi
anugerah --keinsyafan akan keadilan
dan aidos hormat pada orang lain-- yang
memungkinkan manusia dapat hidup
bersama. Filsuf berikutnya adalah Gorgias
yang mempertahankan tiga
pendiriannya; 1) Tidak ada sesuatupun, 2)
Seandainya sesutu tidak ada,
maka ia tidak dapat dikenali, 3) Seandainya
sesuatu dapat dikenali, maka
hal itu tidak bisa disampaikan kepada orang
lain. Sofis Hippias
berpandangan bahwa Physis (kodrat) manusia
merupakan dasar dari tingkah
laku manusia dan susunan masyarakat,
bukannya undang-undang (nomos) karena
undang-undang sering kali memperkosa kodrat
manusia. Sofis Prodikos
mengatakan bahwa agama merupakan penemuan
manusia. Sedangkan Kritias
berpendapat bahwa agama ditemukan oleh
penguasa-penguasa negara yang
licik.
Sebagaimana para sofis, Socrates memulai
filsafatnya dengan bertitik
tolak dari pengalaman keseharian dan
kehidupan kongkret. Perbedaannya
terletak pada penolakan Socrates terhadap
relatifisme yang pada umumnya
dianut para sofis. Menurut Socrates tidak benar bahwa yang baik
itu baik
bagi warga negara Athena dan lain lagi bagi
warga negara Sparta. Yang baik
mempunyai nilai yang sama bagi semua
manusia, dan harus dijunjung tinggi
oleh semua orang. Pendirinya yang terkenal
adalah pandangannya yang
menyatakan bahwa keutamaan (arete) adalah
pengetahuan, pandangan ini
kadang-kadang disebut intelektualisme etis.
Dengan demikian Socrates
menciptakan suatu etika yang berlaku bagi
semua manusia. Sedang ilmu
pengetahuan Socrates menemukan metode
induksi dan memperkenalkan
definisi-definisi umum.
Plato.
Hampir semua karya Plato ditulis dalam
bentuk dialog dan Socrates diberi
peran yang dominan dalam dialog tersebut.
Sekurang-kurangnya ada dua
alasan mengapa Plato memilih yang
begitu. Pertama, sifat karyanya
Socratik
--Socrates berperan sentral-- dan diketahui bahwa Socrates tidak
mengajar tetapi mengadakan tanya jawab
dengan teman-temannya di
Athena. Dengan demikian, karya plato dapat
dipandang sebagai monumen bagi
sang guru yang dikaguminya. Kedua, berkaitan dengan anggapan plato
mengenai filsafat. Menurutya, filsafat pada intinya tidak lain
daripada
dialog, dan filsafat seolah-olah drama yang
hidup, yang tidak pernah
selasai tetapi harus dimulai kembali.
Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu
tentang idea, jiwa dan proses
mengenal.
Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu inderawi yang
selalu berubah dan dunia idea yang tidak
pernah berubah. Idea merupakan
sesuatu yang obyektif, tidak diciptakan
oleh pikiran dan justru sebaliknya
pikiran tergantung pada idea-idea tersebut.
Idea-idea berhubungan dengan
dunia melalui tiga cara; Idea hadir di
dalam benda, idea-idea
berpartisipasi dalam kongkret, dan idea
merupakan model atau contoh
(paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada gilirannya juga
memberikam dua pengenalan. Pertama pengenalan tentang idea; inilah
pengenalan yang sebenarnya. Pengenalan yang dapat dicapai oleh rasio ini
disebut episteme (pengetahuan) dan
bersifat, teguh, jelas, dan tidak
berubah. Dengan demikian Plato menolak
relatifisme kaum sofis. Kedua,
pengenalan tentang benda-benda disebut doxa
(pendapat), dan bersifat tidak
tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat
dicapai dengan panca
indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato
bisa mendamaikan persoalan
besar filsafat pra-socratik yaitu pandangan
panta rhei-nya Herakleitos dan
pandangan yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi
memang selalu berubah sedangkan dunia idea
tidak pernah berubah dan abadi.
Memang jiwa Plato berpendapat bahwa jika
itu baka, lantaran terdapat
kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut
dikatakan bahwa jiwa sudah ada
sebelum hidup di bumi. Sebelum bersatu
dengan badan, jiwa sudah mengalami
pra eksistensi dimana ia memandang
idea-idea. Berdasarkan pandangannya
ini, Plato lebih lanjut berteori bahwa
pengenalan pada dasarnya tidak lain
adalah pengingatan (anamnenis) terhadap
idea-idea yang telah dilihat pada
waktu pra-eksistansi. Ajaran Plato tentang
jiwa manusia ini bisa disebut
penjara. Plato juga mengatakan, sebagaimana
manusia, jagat raya juga
memiliki jiwa dan jiwa dunia diciptakan
sebelum jiwa-jiwa manusia.
Plato juga membuat uraian tentang negara.
Tetapi jasanya terbesar
adalah usahanya membuka sekolah yang
bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi
nama "Akademia" yang paling
didedikasikan kepada pahlawan yang bernama
Akademos. Mata pelajaran yang paling
diperhatikan adalah ilmu
pasti. Menurut cerita tradisi, di pintu
masuk akademia terdapat
tulisan; "yang belum mempelajari
matematika janganlah masuk di sini".
Aristoteles.
Ia berpendapat bahwa seorang tidak dapat
mengetahui suatu obyek jika ia
tidak dapat mengatakan pengetahuan itu pada
orang lain. Barangkali dengan
pandangannya yang seperti ini jumlah
karyanya sangat banyak bisa
dijelaskan. Spektrum pengetahuan yang
diminati oleh Aristoteles luas
sekali, barangkali seluas lapangan
pengetahuan itu sendiri. Menurutnya
pengetahuan manusia dapat disistemasikan
sebagai berikut;
Pengetahuan
--------------------------------------------------------------------
Teoritis
Praktis Produktif
-------------------------------------- --------------- -----------
Teologi/metafisik Matematika Fisika Etika Politik Seni
---------------------- --------
Ilmu Hitung Ilmu Ukur Retorika
Aristoteles berpendapat bahwa logika tidak
termasuk ilmu pengetahuan
tersendiri, tetapi mendahului ilmu pengetahuan
sebagai persiapan berfikir
secara ilmiah. Untuk pertama kalinya dalam
sejarah, logika diuraikan
secara sistematis. Tidak dapat
dibantah bahwa logika Aristoteles
memainkan peranan penting dalam sejarah
intelektual manusia; tidaklah
berlebihan bila Immanuel Kant mengatakan
bahwa sejak Aristoteles logika
tidak maju selangkahpun.
Mengenai pengetahuan, Aristoteles
mengatakan bahwa pengetahuan dapat
dihasilkan melalui jalan induksi dan jalan
deduksi, Induksi mengandalkan
panca indera yang "lemah",
sedangkan deduksi lepas dari pengetahuan
inderawi. Karena itu dalam logikanya
Aristoteles sangat banyak memberi
tempat pada deduksi yang dipandangnya
sebagai jalan sempurna menuju
pengetahuan baru. Salah satu cara
Aristoteles mempraktekkan deduksi adalah
Syllogismos (silogosme).
a. Fisika
Di dalam fisikanya, Aristoteles mempelajari
dan membagi gerak
(kinetis) menjadi dua; gerak spontan dan
gerak karena kekerasan. Gerak
spontan
yang diartikan sebagai perubahan secara umum dikelompokkan
menjadi gerak subsitusional yakni sesuatu
menjadi sesuatu yang lain
seperti seekor anjing mati dan gerak
aksidental yakni perubahan yang
menyangkut salah satu aspek saja. Gerak
aksidental ini berlangsung melalui
tiga cara; yaitu gerak lokal seperti meja
pindah dari satu tempat ke
tempat lain, gerak kualitatif seperti daun
hijau menjadi kuning, dan gerak
kuantitatif seperti pohon tumbuh membesar.
Dalam setiap gerak ada
1) keadaan terdahulu, 2) keadaan baru, dan
3) substratum yang
tetap. Sebagai contoh air dingin menjadi
panas; dengan dingin sebagai
keadaan terlebih dahulu, panas sebagai
keadaan baru dan air sebagai
substratum.
Analisa gerak ini menuntut kita membedakan
antara aktus dan
potensi. Dalam fase pertama panas menjadi
potensi air dan pada fase kedua
panas manjadi aktus. Aristoteles juga
mengintrodusir pengertian bentuk
(morphe atau eidos) dan materi (hyle) ke
dalam analisa geraknya. Dalam
contoh air dingin menjadi panas, air
sebagai hyle dan dingin serta panas
sebagai morphe.
Aristoteles berpendapat behwa setiap
kejadian mempunyai empat sebab
yang harus disebut. Keempat sebab tersebut
adalah penyebab efisien sebagai
sumber kejadian, penyebab final sebagai
tujuan atau arah kejadian,
penyebab material sebagai bahan tempat
kejadian tempat berlangsung dan
penyebab formal sebagai bentuk menyusun
bahan. Keempat kejadian ini
berlaku untuk semua kejadian alamiah maupun
yang disebabkan oleh manusia.
Aristoteles juga membicarakan phisis
sebagai prinsip perkembangan yang
terdapat dalam semua benda alamiah. Semua
benda mempunyai sumber gerak
atau diam dalam dirinya sendiri. Pohon
kecil tumbuh besar karena
phisisnya, pohon tetap tinggal pohon berkat
phisis atau
kodratnya. Mengenai alam, Aristoteles
berpendirian bahwa dunia ini
bergantung pada tujuan (telos) itu. Ia
mengatakan "Alam tidak membuat
sesuatupun dengan sia-sia dan tidak membuat
sesuatu yang berlebihan", atau
katanya lagi: "Alam berindak seolah-olah ia mengetahui konsekuensi
perbuatannya". Teologi ini mencakup
juga alam yang tidak hidup yang
terdiri dari empat anasir api, udara, air
dan tanah. Aristoteles
mengatakan bahwa setiap anasir menuju
ketempat kodratinya (locus
naturalis).
Berkaitan dengan jagat raya Aristoteles
mengatakan bahwa kosmos
terdiri dari dua wilayah yaitu wilayah
sublunar (di bawah bulan) dan
wilayah yang meliputi bulan, planet-planet
dan bintang-bintang. Jagat raya
berbentuk bola dan terbatas, tetapi tidak
mempunyai permulaan dan
kekal. Badan-badan jagat raya diluar bumi
semua terdiri dari anasir kelima
yaitu ether yang tidak dapat dimusnahkan
dan tidak dapat berubah menjadi
anasir lain. Gerak kodrati anasir ini
adalah melingkar. Berkaitan dengan
jagat raya ini Aristoteles mempunyai
pandangan yang masyhur mengenai
penggerak pertama yang tidak digerakkan.
b. Psikologi
Menurut Aristoteles jiwa dan badan dipandang
sebagai dua aspek dari
satu substansi. Badan adalah materi dan
jiwa dalam bentuk dan
masing-masing berperan sebagai potensi dan aktus. Pada
manusia, jiwa dan
tumbuh merupakan dua aspek dari substansi
yang sama yakni
manusia. Anggapan ini mempunyai konsekuensi
bahwa jiwa tidak kekal karena
jiwa tidak dapat hidup tanpa materi.
Potensi dan aktus juga mempunyai dalam
pengenalan inderawi. kita
menerima bentuk tanpa materi. Pengenalan
inderawi tidak lain adalah
peralihan dari potensi ke aktus suatu organ
tubuh dari aktus
obyek. Sebagaimana proses pengenalan
inderawi dalam pengenalan rasional
bentuk tepatnya bentuk intelektual diterima
oleh rasio. Bentuk intelektual
ialah bentuk hakikat atau esensi suatu
benda. Fungsi rasio dibagi menjadi
dua macam yaitu rasio pasif (nus
pathetikos) yang menerima esensi dan
rasio aktif (nus poitikos) yang
"membentuk" esensi.
c. Metafisika
Ta meta ta physica berarti hal-hal sesudah
hak-hal fisis. Metafisika
merupakan pengetahuan yang semata-mata
berkaitan dengan tuhan dan fenomena
yang terpisah dari alam. Di dalam
Metaphysica-nya Aristoteles membahas
Penggerak Utama. Gerak utama di jagat raya
tidak mempunyai permulaan
maupun penghabisan. Karena setiap sesuatu
yang bergerak, digerakkan oleh
sesuatu yang lain perlulah menerima satu
Penggerak Pertama yang
menyebabkan gerak itu, tetapi ia sendiri
tidak digerakkan. Penggerak ini
sama sekali lepas dari materi, karena
segalanya yang mempunyai meteri
mempunyai potensi untuk bergerak. Allah
sebagai Penggerak Pertama tidak
mempunyai potensi apapun juga dan Allah
harus dianggap sebagai aktus
murni. Allah bersifat immaterial atau tak
badani, Ia harus disamakan
dengan kesadaran atau pemikirannya. Karena
itu aktifitas-Nya tidak lain
adalah berpikir saja dan Allah merupakan
pemikiran yang memandang
pemikirannya. Allah sebagai penyebab final
dari gerak jagat raya
ini; segala sesuatu pengejar penggerak yang
sempurna dan Ia menggerakkan
karena dicintai.
Ajaran lain dari Aristoteles adalah tentang
filsafat praktis yaitu
etika dan politika. Lanjut di sini. Dalam
filsafat, Aristoteles disebut
sebagai tokoh madzhab peripatis (peripatos,
berjalan-jalan) yang
menyadarkan diri pada deduksi untuk
memperoleh kebijaksanaan. Sedangkan
gurunya, Plato merupakan tokoh madzhab
illuminasionis yang juga
mengandalkan jalan hati, asketisme dan
penyucian jiwa dalam menyingkap
realitas.
[] dari berbagai sumber.
Filsafat, agama, dan ilmu pengetahuan
By : Unknown
Filsafat, agama, dan ilmu pengetahuan
a. Filsafat dan agama
Dalam buku Filsafat Agama karangan Dr. H.
Rosjidi diuraikan tentang
perbedaan filsafat dengan agama, sebab
kedua kata tersebut sering dipahami
secara keliru.
Filsafat
1) Filsafat berarti berpikir, jadi yang
penting ialah ia dapat berpikir.
2) Menurut William Temple, filsafat adalah
menuntut pengetahuan untuk
memahami.
3) C.S. Lewis membedakan 'enjoyment' dan
'contemplation', misalnya
laki-laki
mencintai perempuan. Rasa cinta disebut 'enjoyment', sedangkan
memikirkan rasa cintanya disebut 'contemplation', yaitu pikiran si
pecinta
tentang rasa cintanya itu.
4) Filsafat banyak berhubungan dengan
pikiran yang dingin dan tenang.
5) Filsafat dapat diumpamakan seperti air
telaga yang tenang dan jernih
dan dapat dilihat dasarnya.
6) Seorang ahli filsafat, jika berhadapan
dengan penganut aliran atau
paham lain, biasanya bersikap lunak.
7) Filsafat, walaupun bersifat tenang dalam
pekerjaannya, sering
mengeruhkan pikiran pemeluknya.
8) Ahli filsafat ingin mencari kelemahan
dalam tiap-tiap pendirian dan
argumen, walaupun argumenya sendiri.
Agama
1) Agama berarti mengabdikan diri, jadi
yang penting ialah hidup secara
beragama sesuai dengan aturan-aturan agama itu.
2) Agama menuntut pengetahuan untuk
beribadat yang terutama merupakan
hubungan manusia dengan Tuhan.
3) Agama dapat dikiaskan dengan 'enjoyment'
atau rasa cinta seseorang,
rasa pengabdian (dedication) atau 'contentment'.
4) Agama banyak berhubungan dengan hati.
5) Agama dapat diumpamakan sebagai air
sungai yang terjun dari bendungan
dengan gemuruhnya.
6) Agama, oleh pemeluk-pemeluknya, akan
dipertahankan dengan
habis-habisan, sebab mereka telah terikat dn mengabdikan diri.
7) Agama, di samping memenuhi pemeluknya
dengan semangat dan perasaan
pengabdian diri, juga mempunyai efek yang menenangkan jiwa pemeluknya.
8) Filsafat penting dalam mempelajari
agama.
Demikianlah antara lain perbedaan yang
terdapat dalam filsafat dan agama
menurut Dr. H. Rosjidi.
b. Filsafat dan ilmu pengetahuan
Apakah hubungan antara filsafat dengan ilmu
pengetahuan? Oleh Louis
Kattsoff dikatakan: Bahasa yang pakai dalam
filsafat dan ilmu pengetahuan
dalam beberapa hal saling melengkapi. Hanya
saja bahasa yang dipakai dalam
filsafat mencoba untuk berbicara mengenai
ilmu pengetahuan, dan bukanya di
dalam ilmu pengetahuan. Namun, apa yang
harus dikatakan oleh seorang
ilmuwan mungkin penting pula bagi seorang
filsuf.
Pada bagian lain dikatakan: Filsafat dalam
usahanya mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan pokok yang kita
ajukan harus memperhatikan
hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu
pengetahuan dalam usahanya menemukan
rahasia alam kodrat haruslah mengetahui
anggapan kefilsafatan mengenai
alam kodrat tersebut. Filsafat
mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari
ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang
berada di luar tujuan dan metode
ilmu pengetahuan.
Dalam hubungan ini Harold H. Titus
menerangkan: Ilmu pengetahuan mengisi
filsafat dengan sejumlah besar materi yang
faktual dan deskriptif, yang
sangat perlu dalam pembinaan suatu
filsafat. Banyak ilmuwan yang juga
filsuf. Para filsuf terlatih di dalam
metode ilmiah, dan sering pula
menuntut minat khusus dalam beberapa ilmu
sebagai berikut:
1) Historis, mula-mula filsafat identik
dengan ilmu pengetahuan,
sebagaimana juga filsuf identik dengan ilmuwan.
2) Objek material ilmu adalah alam dan
manusia. Sedangkan objek material
filsafat adalah alam, manusia dan ketuhanan.
c. Bedanya filsafat dengan ilmu-ilmu lain.
1) Filsafat menyelidiki, membahas, serta
memikirkan seluruh alam
kenyataan, dan menyelidiki bagaimana hubungan kenyataan satu sama
lain. Jadi ia memandang satu kesatuan yang belum dipecah-pecah serta
pembahasanya secara kesuluruhan. Sedangkan ilmu-ilmu lain atau ilmu vak
menyelidiki hanya sebagian saja dari alam maujud ini, misalnya ilmu
hayat
membicarakan tentang hewan, tumbuh-tumbuhan dan manusia; ilmu bumi
membicarakan tentang kota, sungai, hasil bumi dan sebagainya.
2) Filsafat tidak saja menyelidiki tentang
sebab-akibat, tetapi
menyelidiki hakikatnya sekaligus. Sedangkan ilmu vak membahas tentang
sebab dan akibat suatu peristiwa.
3) Dalam pembahasannya filsafat menjawab
apa ia sebenarnya, dari mana
asalnya,
dan hendak ke mana perginya. Sedangkan ilmu vak harus menjawab
pertanyaan bagaimana dan apa sebabnya.
Sebagian orang menganggap bahwa filsafat
merupakan ibu dari ilmu-ilmu
vak. Alasannya ialah bahwa ilmu vak sering
menghadapi kesulitan dalam
menentukan batas-batas lingkungannya
masing-masing. Misalnya batas antara
ilmu alam dengan ilmu hayat, antara
sosiologi dengan
antropologi. Ilmu-ilmu itu dengan
sendirinya sukar menentukan batas-batas
masing-masing. Suatu instansi yang lebih
tinggi, yaitu ilmu filsafat,
itulah yang mengatur dan menyelesaikan
hubungan dan perbedaan batas-batas
antara ilmu-ilmu vak tersebut.
Rangkuman
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang
menyelidiki segala sesuatu, dengan
mencari sebab-sebab terdalam, berdasarkan
kekuatan pikiran manusia sendiri.
Ilmu pengetahuan adalah kumpulan
pengetahuan mengenai suatu hal tertentu
(objek atau lapangannya), yang merupakan
kesatuan yang sistematis, dan
memberikan penjelasan yang dapat
dipertanggungjawabkan dengan menunjukkan
sebab-sebab hal itu.
Jadi berarti ada metode, ada sistem, ada
satu pandangan yang dipersatukan
(memberi sintesis), dan yang dicari ialah
sebab-sebabnya. Demikian
filsafat mempunyai metode dan sistem
sendiri dalam usahanya untuk mencari
hakikat dari segala sesuatu, dan yang
dicari ialah sebab-sebab yang
terdalam. Ilmu-ilmu pengetahuan dirinci
menurut lapangan atau objek dan
sudut pandangan. Objek dan sudut pandangan
filsafat disebut juga dalam
definisinya, yaitu "segala
sesuatu".
Lapangan filsafat sangat jelas; ia meliputi
segala apa yang
ada. Pertanyaan-pertanyaan kita itu
mengenai kesemuanya yang ada, tak ada
yang dikecualikan. Hal-hal yang tidak
kentara pun (seperti jiwa manusia,
kebaikan, kebenaran, bahkan Tuhan sendiri
pun) dipersoalkan. Lapangan yang
sangat luas ini nanti kita bagi-bagi ke
dalam beberapa lapangan pokok.
Sebab-sebab yang terdalam
Dengan ini ditunjuk sudut pandangan, aspek
khusus, sudut khusus yang
dipelajari dalam segala sesuatu itu. Sudut
pandangan (juga disebut "object
formal") ini yang membedakan berbagai
ilmu pengetahuan yang mengenai objek
atau lapangan yang sama. Misalnya ilmu
kedoktoran mempelajari manusia
dilihat dari sudut tubuhnya yang sakit dan
harusnya disembuhkan, sosiologi
mempelajari manusia dalam sudut
kemasyarakatan. Demikianlah filsafat
mempelajari dalam segala sesuatu itu ialah
keterangan yang penghabisan,
yang terakhir, dan terdalam, sampai habis,
sampai pada sebab yang
terakhir. Yang kita cari ialah
kebijaksanaan, hakikat dari seluruh
kenyataan, intisari dan esensi dari semua
yang ada.
Kekuatan pikiran manusia sendiri
Dengan ini ditunjuk alat yang kita gunakan
dalam usaha kita untuk mencapai
kebijaksanaan itu, yaitu pikiran kita
sendiri. Ini membedakan filsafat
dari teologi (ilmu ke-Allahan) yang juga
mengenai segala sesuatu, tetapi
yang berdasarkan wahyu Tuhan. Filsafat
tidak berdasarkan wahyu Tuhan,
tidak meminta pertolongan dari Kitab Suci,
tetapi berdasarkan asas-asas
dan dasar-dasarnya hanya dengan cara
analisis-analisis oleh pikiran kita
sendiri. Justru karena itu, filsafat dapat
merumuskan hukum-hukum yang
berlaku umum, bagi setiap orang, terserah
agama mana yang dianutnya. Akan
tetapi, ini pun kelemahan filsafat: jika
hanya filsafat saja yang cukup
dipakai sebagai pegangan hidup, pandangan
hidup, maka ini tidak cukup,
sebab banyak pertanyaan yang tidak dapat
dijawab dengan 100% memuaskan
oleh filsafat, sedangkan filsafat sendiri
dalam usahanya mencari hakikat
dari seluruh kenyataan menunjuk kepada
Tuhan sebagai sumber terakhir dan
sebab pertama. (Jadi, sebetulnya filsafat
dan agama !! tidak bertentangan,
tetapi saling melengkapi).
+++
Karena sangat luasnya lapangan yang
diselidiki dan sulit serta
berbelit-belitnya soal-soal yang dihadapi
maka lapangan yang sangat luas
ini dibagi-bagi ke dalam beberapa lapangan
pokok agar penyelidikan dapat
dilakukan dengan sistemis dan baik.
Pembagian ini diadakan secara induksi,
yaitu dengan melihat dulu
persoalan-persoalan mana yang timbul dan
minta diselesaikan.
a. Tentang pengetahuan (alat untuk mencapai
'insight' itu)
1) Logika formal (logic)
Membentangkan hukum-hukum yang harus
ditaati agar kita berpikir dengan
lurus dan baik dan dapat mencapai
kebenaran. Ini akan dipelajari lebih
lanjut dalam masa akan datang.
2) Kritika atau logika material
(epistemology)
Memandangkan isi pengetahuan kita,
sumber-sumbernya, proses terjadinya
pengetahuan, dan memberikan
pertanggungjawaban tentang kemungkinan dan
batas-batas pengetahuan kita (soal
kekeliruan, kepastian, dan sebagainya).
b. Tentang pertanyaan dan sebab-sebabnya
yang terdalam
3) Metafisika (ontology/metaphysics)
Mengupas apa ertinya "ada" itu,
apa tujuannya, apa sebab-sebabnya, dan
mencari hakikat dari semua barang yang ada
(hylemorphisme)
4) Theodycea atau teologia naturalis
(natural theology)
Merupakan konsekuensi terakhir dari penyelidikan
filsafat, dengan
menunjukkan sebab pertama dan tujuan
terakhir; mencari berdasarkan
kekuatan pikiran manusia sendiri
bukti-bukti tentang adanya Tuhan,
sifat-sifat-Nya, dan hubunganNya dengan
dunia.
c. Tentang manusia dan dunia
5) Filsafat tentang manusia (philosophy of
man)
(Juga sering disebut antropologia
metafisika atau psikologia
metafisika). Ini merupakan inti dan
pangkalan dari seluruh filsafat: Orang
mengetahui tentang "ada" itu dari
adanya sendiri. Maka diselidiki apa
kodrat (nature) manusia itu, bagaimana
susunannya atas badan dan jiwa,
bagaimana terjadinya pengetahuan, apa
kehendak bebas, apa arti dan peranan
keinderaan dan perasaan, apa arti
kepribadian, dan sebagainya.
6) Kosmologia (philosophy of nature)
Mempersoalkan dunia material, susunannya,
aturannya, mencari hakikat dari
waktu dan tempat, gerakan, hidup, dan
sebagainya.
d. Tentang kesusilaan
7) Etika atau filsafat moral (ethics)
Membentangkan apa yang baik, apa yang
buruk, apa ukuran-ukurannya,
bagaimana dan mengapa manusia terikat oleh
aturan-aturan ke susilaan,
bagaimana kita dipimpin oleh suara batin,
bagaimana tujuan hidup dapat
kita capaui, dan sebagainya.
8) Etika sosial
Merupakan bagian dari etika yang sangat
penting pula, taitu yang
membicarakan norma-norma hidup kemasyarakatan
(keluarga, negara
internasional).
e. Lain-lain
Lapangan-lapangan yang tersebut di atas
merupakan lapangan-lapangan pokok
dari filsafat. Di samping. Di samping itu
ada beberapa lapangan yang
penting pula, yang merupakan rincian legih
lanjut, penerapan asa-asas
filsafat pada lapangan-lapangan hidup
tertentu. Antara lain: asas-asas
filsafat pada lapangan-lapangan hidup
tertentu. Antara lain:
" filsafat kebudayaan (kombinasi etika
dan filsafat tentang manusia).
" filsafat kesenian atau estetika, praktis
" filsafat hukum
" filsafat tentang sejarah, bahasa,
ekonomi, teknik, agama, kerja dan
lain-lain.
+++
Kepentingan filsafat
Akhirnya sepatah kata tentang kepentingan
filsafat. Filsafat sering
dianggap teori belaka, yang jauh dari
kenyataan hidup konkret. Akan
tetapi, filsafat ada segi praktisnya juga.
Sikap dan pandangan yang
dipertanggungjawabkan, seperti yang kita
cari dalam filsafat, dengan
sendirinya akan mempengaruhi sikap kita
praktis juga. Kebijaksanaan tidak
hanya berarti "pengetahuan yang mendalam",
tetapi juga "sikap hidup yang
benar", yang tepat, sesuai dengan
pengetahuan yang telah dicapai itu.
Ini nampak dengan jelas terutama pada
pelajaran etika dan logika yang
bersama-sama memberikan pegangan dan
bimbingan kepada pikiran dan kepada
kehendak, agar hidup dengan 'benar' dan
'baik'. maka konkretnya:
1) Filsafat menolong mendidik, membangun
diri kita sendiri: dengan
berpikir lebih mendalam, kita mengalami dan
menyadari kerohanian
kita. Rahasia hidup yang kita selidiki
justru memaksa kita untuk berpikir
untuk hidup sesadar-sadarnya, dan
memberikan isi kepada hidup kita
sendiri.
2) Filsafat memberikan kebiasaan dan
kepandaian untuk melihat dan
memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup
sehari-hari. Orang yang hidup
secara "dangkal" saja, tidak
mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi
melihat pemecahnya. Dalam filsafat kita
dilatih melihat dulu apa yang
menjadi persoalan, dan ini merupakan syarat
mutlak untuk memecahkannya.
3) Filsafat memberikan pandangan yang luas,
membendung "akuisme" dan
"aku-sentrisme" (dalam segala hal
hanya melihat dan mementingkan
kepentingan dan kesenangan si aku).
4) Filsafat merupakan latihan untuk
berpikir sendiri, hingga kita tak
hanya ikut-ikutan saja, membuntut pada
pandangan umum, percaya akan setiap
semboyan dalam surat-surat kabar, tetapi
secara kritis menyelidiki apa
yang dikemukakan orang, mempunyai pendapat
sendiri, "berdiri-sendiri",
dengan cita-cita mencari kebenaran.
5) Filsafat memberikan dasar-dasar, baik
untuk hidup kita sendiri
(terutama dalam etika) maupun untuk
ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya,
seperti sosiologi, ilmu jiwa, ilmu
mendidik, dan sebagainya.
Aliran-aliran dalam filsafat
By : Unknown
Aliran-aliran dalam filsafat
Aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat
sangat banyak dan kompleks.
Di bawah ini akan kita bicarakan aliran
metafisika, aliran etika, dan
aliran-aliran teori pengetahuan.
a. Aliran-aliran metafisika
Menurut Prof. S. Takdir Alisyahbana,
metafisika ini dibagi menjadi dua
golongan besar, yaitu (1) yang mengenai
kuantitas (jumlah) dan (2) yang
mengenai kualitas (sifat).Yang mengenai
kuantitas terdiri atas (a)monisme,
(b) dualisme, dan (c) pluralisme. Monisme
adalah aliran yang mengemukakan
bahwa unsur pokok segala yang ada ini
adalah esa (satu). Menurut
Thales: air menurut Anaximandros: 'apeiron'
menurut
Anaximenes: udara. Dualisme adalah aliran
yang berpendirian bahwa unsur
pokok sarwa yang ada ini ada dua, yaitu roh
dan benda. Pluralisme adalah
aliran yang berpendapat bahwa unsur pokok hakikat
kenyataan ini
banyak. Menurut Empedokles: udara, api, air
dan tanah.
Yang mengenai kualitas dibagi juga menjadi
dua bagian besar, yakni
(a) yang melihat hakikat kenyataan itu
tetap, dan (b) yang melihat hakikat
kenyataan itu sebagai kejadian.
Yang termasuk golongan pertama (tetap)
ialah:
" Spiritualisme, yakni aliran yang
berpendapat bahwa hakikat itu bersifat roh.
" Materialisme, yakni aliran yang
berpendapat bahwa hakikat itu bersifat
materi.
Yang termasuk golongan kedua (kejadian)
ialah:
" Mekanisme, yakni aliran yang
berkeyakinan bahwa kejadian di dunia ini
berlaku dengan sendirinya menurut hukum
sebab-akibat.
" Aliran teleologi, yakni aliran yang
berkeyakinan bahwa kejadian yang
satu berhubungan dengan kejadian yang lain, bukan oleh hukum
sebab-akibat,
melainkan semata-mata oleh tujuan yang sama.
" Determinisme, yaitu aliran yang
mengajarkan bahwa kemauan manusia itu
tidak merdeka dalam mengambil putusan-putusan yang penting, tetapi sudah
terpasti lebih dahulu.
" Indeterminisme, yaitu aliran yang
berpendirian bahwa kemauan manusia itu
bebas dalam arti yang seluas-luasnya.
b. Aliran-aliran etika
Aliran-aliran penting dalam etika banyak
sekali, diantaranya ialah:
1)
Aliran etika nuturalisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa
kebahagiaan
manusia itu diperoleh dengan menurutkan panggilan natural
(fitrah) kejadian manusia sekali.
2)
Aliran etika hedonisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa perbuatan
susila itu ialah perbuatan yang menimbulkan 'hedone' (kenikmatan dan
kelazatan).
3)
Aliran etika utilitarianisme, yaitu aliran yang menilai baik dan
buruknya perbuatan manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaat bagi
manusia (utility = manfaat).
4)
Aliran etika idealisme, yaitu aliran yang menilai baik buruknya
perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir, tetapi
haruslah didasarkan atas prinsip kerohanian (idea) yang lebih tinggi.
5)
Aliran etika vitalisme, yaitu aliran yang menilai baik-buruknya
perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidak adanya daya hidup
(vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan itu.
6)
Aliran etika theologis, yaitu aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran
baik dan buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai atau tidak
sesuainya dengan perintah Tuhan (Theos = Tuhan).
c. Aliran-aliran teori pengetahuan
Aliran ini mencoba menjawab pertanyaan,
bagaimana manusia mendapat
pengetahuannya sehingga pengetahuan itu
benar dan berlaku.
Pertama, golongan yang mengemukakan asal
atau sumber pengetahuan. Termasuk
ke dalamnya:
" Rationalisme, yaitu aliran yang
mengemukakan bahwa sumber pengetahuan
manusia ialah pikiran, rasio dan jiwa manusia.
" Empirisme, yaitu aliran yang
mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu
berasal dari pengalaman manusia, dari dunia luar yang ditangkap
pancainderanya.
" Kritisisme (transendentalisme),
yaitu aliran yang berpendapat bahwa
pengetahuan manusia itu berasal dari luar maupun dari jiwa manusia itu
sendiri.
" Kedua, golongan yang mengemukakan
hakikat pengetahuan manusia. Termasuk
ke
dalamnya:
" Realisme, yaitu aliran yang
berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu
adalah gambar yang baik dan tepat dari kebenaran dalam pengetahuan yang
baik tergambarkan kebenaran seperti sungguh-sungguhnya ada.
" Idealisme, yaitu aliran yang
berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak
lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang
diketahui manusia itu sekaliannya terletak di luarnya.
d. Aliran-aliran lainnya dalam filsafat
Di samping aliran-aliran di atas, masih
banyak aliran yang lain dalam
filsafat. Aliran-aliran itu antara lain
ialah:
1)
Eksistensialisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat harus
bertitik tolak pada manusia yang kongkret, yaitu manusia sebagai
eksistensi, dan sehubungan dengan titik tolak ini. maka bagi manusia
eksistensi itu mendahului esensi.
2)
Pragmatisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa benar dan tidaknya
sesuatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung pada berfaedah
atau tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk
bertindak di dalam kehidupannya.
3)
Fenomenologi, yaitu aliran yang berpendapat bahwa hasrat yang kuat
untuk mengerti yang sebenarnya dan keyakinan bahwa pengertian itu dapat
dicapai jika kita mengamati fenomena atau pertemuan kita dengan
realitas.
4)
Positivisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa filsafat hendaknya
semata-mata berpangkal pada peristiwa yang positif, artinya
peristiwa-peristiwa yang dialami manusia.
5)
Aliran filsafat hidup, yaitu aliran yang berpendapat bahwa berfilsafat
barulah mungkin jika rasio dipadukan dengan seluruh kepribadian sehingga
filsafat itu tidak hanya hal yang mengenai berpikir saja, tetapi juga
mengenai ada, yang mengikutkan kehendak, hati, dan iman, pendeknya
seluruh
hidup.
Cabang-cabang filsafat
By : Unknown
Cabang-cabang filsafat
Telah kita ketahui bahwa filsafat adalah
sebagai induk yang mencakup semua
ilmu khusus. Akan tetapi, dalam
perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu khusus
itu satu demi satu memisahkan diri dari
induknya, filsafat. Mula-mula
matematika dan fisika melepaskan diri,
kemudian diikuti oleh ilmu-ilmu
lain. Adapun psikologi baru pada
akhir-akhir ini melepaskan diri dari
filsafat, bahkan di beberapa insitut,
psikologi masih terpaut dengan
filsafat.
Setelah filsafat ditinggalkan oleh
ilmu-ilmu khusus, ternyata ia tidak
mati, tetapi hidup dengan corak baru
sebagai 'ilmu istimewa' yang
memecahkan masalah yang tidak terpecahkan
oleh ilmu-ilmu khusus. Yang
menjadi pertanyaan ialah : apa sajakah yang
masih merupakan bagian dari
filsafat dalam coraknya yang baru ini?
Persoalan ini membawa kita kepada
pembicaraan tentang cabang-cabang filsafat.
Ahi filsafat biasanya mempunyai pembagian
yang berbeda-beda. Cuba
perhatikan sarjana-sarjana filsafat di
bawah ini:
1. H. De Vos menggolongkan filsafat sebagai
berikut:
" metafisika,
" logika,
" ajaran tentang ilmu pengetahuan
" filsafat alam
" filsafat sejarah
" etika,
" estetika, dan
" antropologi.
2. Prof. Albuerey Castell membagi
masalah-masalah filsafat menjadi enam
bagian, yaitu:
" masalah teologis
" masalah metafisika
" masalah epistomologi
" masalah etika
" masalah politik, dan
" masalah sejarah
3 Dr. Richard H. Popkin dan Dr Avrum
Astroll dalam buku mereka, Philosophy
Made Simple, membagi pembahasan mereka ke
dalam tujuh bagian, yaitu:
" Section I Ethics
" Section II Political Philosophy
" Section III Metaphysics
" Section IV Philosophy of Religion
" Section V Theory of Knowledge
" Section VI Logics
" Secton VII Contemporary Philosophy,
4. Dr. M. J. Langeveld mengatakan: Filsafat
adalah ilmu Kesatuan yang
terdiri atas tiga lingkungan masalah:
" lingkungan masalah keadaan
(metafisika manusia, alam dan seterusnya)
" lingkungan masalah pengetahuan
(teori kebenaran, teori pengetahuan,
logika)
" lingkungan masalah nilai (teori
nilai etika, estetika yang bernilai
berdasarkan religi)
5. Aristoteles, murid Plato, mengadakan
pembagian secara kongkret dan
sistematis menjadi empat cabang, yaitu:
a) Logika. Ilmu ini dianggap sebagai ilmu
pendahuluan bagi filsafat.
b) Filsafat teoretis. Cabang ini
mencangkup:
" ilmu fisika yang mempersoalkan dunia materi dari alam nyata ini,
" ilmu matematika yang mempersoalkan hakikat segala sesuatu dalam
kuantitasnya,
" ilmu metafisika yang mempersoalkan hakikat segala sesuatu. Inilah
yang
paling utama dari filsafat.
c) Filsafat praktis. Cabang ini mencakup:
" ilmu etika. yang mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam hidup
perseorang
" ilmu ekonomi, yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran di dalam
negara.
d) Filsafat poetika (Kesenian).
Pembagian Aristoteles ini merupakan
permulaan yang baik sekali bagi
perkembangan pelajaran filsafat sebagai
suatu ilmu yang dapat dipelajari
secara teratur. Ajaran Aristoteles sendiri,
terutama ilmu logika, hingga
sekarang masih menjadi contoh-contoh
filsafat klasik yang dikagumi dan
dipergunakan.
Walaupun pembagian ahli yang satu tidak
sama dengan pembagian ahli-ahli
lainnya, kita melihat lebih banyak
persamaan daripada perbedaan. Dari
pandangan para ahli tersebut di atas dapat
disimpulkan bahwa filsafat
dalam coraknya yang baru ini mempunyai
beberapa cabang, yaitu metafisika,
logika, etika, estetika, epistemologi, dan
filsafat-filsafat khusus
lainnya.
1. Metafisika: filsafat tentang hakikat
yang ada di balik fisika, hakikat
yang bersifat transenden, di luar jangkauan pengalaman manusia.
2. Logika: filsafat tentang pikiran yang
benar dan yang salah.
3. Etika: filsafat tentang perilaku yang
baik dan yang buruk.
4. Estetika: filsafat tentang kreasi yang
indah dan yang jelek.
5. Epistomologi: filsafat tentang ilmu pengetahuan.
6. Filsafat-filsafat khusus lainnya:
filsafat agama, filsafat manusia,
filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan,
dan
sebagainya.
Seperti telah dikatakan, ilmu filsafat itu
sangat luas lapangan
pembahasannya. Yang ditujunya ialah mencari
hakihat kebenaran dari segala
sesuatu, baik dalam kebenaran berpikir
(logika), berperilaku (etika),
maupun dalam mencari hakikat atau keaslian
(metafisika). Maka persoalannya
menjadi apakah sesuatu itu hakiki (asli)
atau palsu (maya).
Dari tinjauan di atas kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa dalam
tiap-tiap pembagian sejak zaman Aristoteles
hingga dewasa ini
lapangan-lapangan yang paling utama dalam
ilmu filsafat selalu berputar di
sekitar logika, metafisika, dan etika.




