Popular Post

MAHASISWA DAN PERUBAHAN SOSIAL

By : Unknown


MAHASISWA DAN PERUBAHAN SOSIAL

PMII




DEFINISI MAHASISWA

Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut atau akademi. Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi dapat disebut sebagai mahasiswa. Tetapi pada dasarnya makna mahasiswa tidak sesempit itu. Terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi hanyalah syarat administratif menjadi mahasiswa, tetapi menjadi mahasiswa mengandung pengertian yang lebih luas dari sekedar masalah administratif itu sendiri.

Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa begitu besar. Pengertian mahasiswa tidak bisa diartikan kata per kata, Mahasiswa adalah Seorang agen pembawa perubahan. Menjadi seorang yang dapat memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh suatu masyarakat bangsa di berbagai belahan dunia.

 PERAN DAN FUNGSI MAHASISWA
Sebagai mahasiswa berbagai macam lebel pun disandang, ada beberapa macam label yang melekat pada diri mahasiswa, misalnya:
1.    Direct Of Change, mahasiswa bisa melakukan perubahan langsung karena SDMnya yg banyak
2.    Agent Of Change, mahasiswa agent perbahan,maksudnya sdm2 untuk melakukan perubahan
3.     Iron Stock, sumber daya manusia dari mahasiswa itu ga akan pernah habis.
4.    Moral Force, mahasiswa itu kumpulan orang yg memiliki moral yg baik.
5.    Social Control, mahasiswa itu pengontrol kehidupan sosial,cntoh mengontrol kehidupan sosial yg dilakukan masyarakat.

Namun secara garis besar, setidaknya ada 3 peran dan fungsi yang sangat penting bagi mahasiwa, yaitu :

Pertama, Peranan Moral, dunia kampus merupakan dunia di mana setiap mahasiswa dengan bebas memilih kehidupan yang mereka mau. Disinilah dituntut suatu tanggung jawab moral terhadap diri masing-masing sebagai indidu untuk dapat menjalankan kehidupan yang bertanggung jawab dan sesuai dengan moral yang hidup dalam masyarakat.

Kedua, Peranan Sosial. Selain tanggung jawab individu, mahasiswa juga memiliki peranan sosial, yaitu bahwa keberadaan dan segala perbuatannya tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga harus membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Ketiga, Peranan Intelektual. Mahasiswa sebagai orang yang disebut-sebut sebagai insan intelek haruslah dapat mewujudkan status tersebut dalam ranah kehidupan nyata. Dalam arti menyadari betul bahwa fungsi dasar mahasiswa adalah bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik dengan intelektualitas yang ia miliki selama menjalani pendidikan.

MANIFESTO CORDOBA (Manfesto Gerakan Mahasiswa Internasional)

Ditahun 1960-an, dunia menyaksikan sebuah gelombang besar kebangkitan mahasiswa. Mahasiswa di berbagai belahan dunia mengambil alih aksi-aksi radikal dan berperan penting dalam berbagai perubahan politik di negaranya masing-masing. Pemaparan singkat dan selektif tentang pengalaman perjuangan mahasiswa di seluruh dunia akan memberikan gambaran berbagai kemungkinan dan pelajaran yang sistematis mengenai arah dan peranan gerakan.
Mahasiswa Amerika Latin adalah penyumbang pertama langkah awal yang besar dalam aksi mahasiswa. Manifesto Cordoba 1918 adalah deklarasi hak mahasiswa yang pertama di Dunia; dan sejak itu mahasiswa Amerika Latin memainkan peran yang konstan dan militan dalam kehidupan politik di Negaranya. Pengalaman mahasiswa Amaerika Latin ini mengajarkan bahwa tuntutan-tuntutan akademis dan aktivitas politik adalah dua hal yang saling melengkapi, bukannya malah bertentangan.
Baik dalam dunia akademik maupun politik, mahasiswa Amerika Latin memiliki tradisi yang panjang. Militansi ini sebagian disebabkan oleh sejarah gerakan reformasi pendidikan di universitas-universitas, sebagian lagi karena struktur sosial-politik negara-negara Amerika Latin sendiri. Gerakan reformasi pendidikan universitas di Amerika Latin lahir dari Manifesto Cordoba 1918, ketika mahasiswa Cordoba di Argentina mengeluarkan sebuah manifesto yang menuntut otonomi universitas dan keterlibatan mahasiswa dalam mengelola administrasi universitas-cogobierno. Manifesto itu mengkritik administrasi lama yang tidak pernah mengalami perubahan kurikulum dan aturan. Mahasiswa Cordoba dengan tegas menyatakan “Kami Ingin Menghapus Konsep Otoritas Yang Kuno Dan Barbar Dari Organisasi Universitas, Yang Menjadikan Universitas Sebagai Benteng Pertahanan Tirani Yang Absurd”. Manifesto juga mendeklarasikan kepercayaan penuh pada kemampuan mahasiswa untuk menjalankan urusan mereka sendiri dan merupakan musuh utama dari korupsi akademis.
Untuk melengkapi Manifesto Cordoba, pertemuan lanjutan dari serikat-serikat mahasiswa Argentina menambahkan tuntutan-tuntutan yang dianggap menjadi pokok-pokok gerakan reformasi:
§  Kehadiran fakultatif (boleh memilih)
§  Penghapusan pembatasan agama tentang apa yang boleh dipikirkan dan siapa yang ditetapkan untuk bertugas di Universitas,
§  Bantuan keuangan mahasiswa,
§  Orientasi sosial universitas di tempat dia berdiri,
Dalam tuntutan-tuntutan diatas jelas mahasiswa berusaha melakukan perlawanan terhadap penindasan yang terjadi di dalam kampus terutama terhadap kepentingan mereka yaitu mendapatkan pendidikan yang murah, berkualitas, demokratis, mendukung kedewasaan serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat. 
Program perubahan total ini mendobrak pandangan konservatif yang melihat bahwa pihak universitas (struktur birokrasi, dosen dan karyawan ) memiliki otonomi penuh, termasuk atas mahasiswa-mahasiswanya. Sehingga gerakan perubahan “otonomi” yang dimaksud bukan hanya independensi otoritas universitas dari kontrol pemerintah tetapi juga kesempatan bagi mahasiswa untuk berbagi kekuasaan dengan otoritas kampus dalam seluruh kegiatan akademis. Dalam tempo 20 tahun, tuntutan mahasiswa Argentina ini menyebar ke seluruh Amerika Latin.
Kondisi kampus-kampus di Argentina pada masa awal 60-an mengalami masa-masa bebas dari polisi dan tentara, dan mahasiswa mempraktekkan congobierno dalam menominasikan dosen-dosen mereka. Universitas secara fisik immune dan sistem kekuasaan tripartite antara mahasiswa, alumni dan dosen mempunyai suara yang sama dalam pengambilan keputusan. Situasi ini bertahan sampai di Argentina terjadi kup Ongania 28 Juni 1966. Representasi murni adalah bentuk ideal dari cita-cita Manifesto Cordoba dan menyebar ke sembilan universitas nasional di Argentina, termasuk universitas terbesar Buenas Aires yang mempunyai 81.000 mahasiswa. 
29 Juli 1966 rezim Ongania mendeklarasikan penghapusan otonomi universitas dan memberikan pada Menteri Pendidikan seluruh kekuasaan administrasi universitas. Merespon deklarasi ini malam harinya mahasiswa, dosen dan profesor bertemu di universitas untuk memprotes represi ini. Pertemuan mereka ini dibubarkan oleh polisi bersenjata, dengan perintah penjahat fasis Tacuara, yang menginvasi kampus. Akibat penyerbuan ini rektor Hilario Fernández Long mundur bersama 10 dekan di Universitas Buenas Aires. Banyak terjadi penangkapan, dua hari kemudian kesembilan universitas nasional di Argentina ditutup sampai Universitas Buenas Aires dibuka kembali pada bulan agustus dan serikat-serikat mahasiswa dibubarkan. Ongania mengangkat rektor-rektor pilihannya, dan kerusuhan pecah ketika universitas dibuka lagi. 7.500 mahasiswa bentrok dengan polisi di Cordoba dan tiga minggu kemudian 100.000 mahasiswa Argentina ambil bagian dalam “Hari Perlawanan dan Perjuangan” menentang kediktatopran Ongania.  
Perlu di perhatikan pula bahwa peran politis yang selalu di perankan oleh mahasiswa, membuat mereka sering kali dijadikan target serangan kaum konservatif, bahkan diduga keras kontrol terhadap gerakan mahasiswa ini juga mengunakan standar akademis. Lewat para intelektualnya menyusun kurikulkum sedemikian rupa sehingga mahasiswa terjebak dalam studi yang begitu berat dan tidak proporsional sehingga mahasiswa terasing dari lingkungan sosialnya. Manifesto Cordoba sebagai sebuah gerakan awal mahasiswa dalam menuntut demokratisasi kampus memberikan pelajaran berharga bagi seluruh mahasiswa di Dunia. Dan tentunya penglaman mahasiswa Argentina 90 tahun lalu itu juga mampu memberikan semangat kepada kita untuk memperoleh hak-hak kita terhadap pendidikan yang murah, berkualitas, demokratis, mendukung kedewasaan serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Karena mahasiswa tidaklah hanya bertugas untuk belajar tetapi juga ikut mangatur apa yang harus di pelajari, bagaimana metode belajarnya, siapa yang harus mengajarnya, bersama dosen dan aparatus universitas tentunya. Dalam bahasa yang sederhana, mahasiswa bukan hanya pelaksana kebijakan tetapi harus terlibat dalam pengambilan kebijakan universitas.    

 
Boedi Oetomo, merupakan wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar dan mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini  merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya. Pada konggres yang pertama di Yogyakarta, tanggal 5 Oktober 1908 menetapkan tujuan perkumpulan : Kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknikdan industri, serta kebudayaan. Disamping itu, para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda, salah satunya Mohammad Hatta yang saat itu sedang belajar di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging Tahun 1922, disesuaikan dengan perkembangan dari pusat kegiatan diskusi menjadi wadah yang berorientasi politik dengan jelas. Dan terakhir untuk lebih mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, organisasi ini kembali berganti nama baru menjadi Perhimpunan Indonesia Tahun1925. Kehadiran Boedi Oetomo, Indische Vereeninging, dll pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya, yang pertama dalam sejarah Indonesia : Generasi 1908, dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyatmelalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.  

Periode Tahun 1928
Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan  perjuangan di Indonesia, dan melihat situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amatberpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah Kelompok Studi Indonesia(Indonesische Studie-Club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 1929 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, KelompokStudi Umum (Algemeene Studie-Club) direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925.        

Periode Tahun 1945
Dalam perkembangan berikutnya, dari dinamika pergerakan nasional yang ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi, dan akibat pengaruh sikap penguasa Belanda yang menjadi Liberal, muncul kebutuhan baru untuk menjadi partai politik, terutama dengan tujuan memperoleh basis massa yang luas. Kelompok Studi Indonesia berubah menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI), sedangkan Kelompok Studi Umum menjadi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Salah satu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus gerakan kelompok bawah tanah yang antara lain dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni saat itu, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agarsecepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa Rengasdengklok.  

Periode Tahun 1966
Sejak kemerdekaan, muncul kebutuhan akan aliansi antara kelompok-kelompok mahasiswa, diantaranya PerserikatanPerhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang dibentuk melalui Kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun1947. Selanjutnya, dalam masa Demokrasi Liberal (1950-1959), seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan merupakan organisasi dibawah partai-partai politik.Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb. Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawananterhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan. Munculnya KAMI diikuti berbagai aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi PemudaPelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain.Pada tahun 1965 dan 1966, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan 66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secaranasional,, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI.      

Realitas berbeda yang dihadapi antara gerakan mahasiswa 1966 dan 1974, adalah bahwa jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer, untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer. Sebelum gerakan mahasiswa 1974 meledak, bahkan sebelum menginjak awal 1970-an, sebenarnya para mahasiswa telah melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktek kekuasaan rezim Orde Baru, Muncul berbagai pernyataan sikap ketidakpercayaan dari kalangan masyarakat maupun mahasiswa terhadap sembilan partai politik dan Golongan Karya sebagai pembawa aspirasi rakyat. Sebagai bentuk protes akibat kekecewaan, merekamendorang munculnya Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dimotori oleh Arif Budiman, Adnan Buyung Nasution, Asmara Nababan. Dalam tahun 1972, mahasiswa juga telah melancarkan berbagai protes terhadap pemborosan anggaran negara yang digunakan untuk proyek-proyek eksklusif yang dinilai tidak mendesak dalam pembangunan, misalnya terhadap proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di saat Indonesia haus akan bantuan luar negeri.Protes terus berlanjut. Tahun 1972, dengan isu harga beras naik, berikutnya tahun 1973 selalu diwarnai dengan isukorupsi sampai dengan meletusnya demonstrasi memprotes PM Jepang Kakuei Tanaka yang datang ke Indonesia danperistiwa Malari (Malaptaka 15 Januari) pada 15 Januari 1974. Gerakan mahasiswa di Jakarta meneriakan isu ganyang korupsi sebagai salah satu tuntutan Tritura Baru, disamping dua tuntutan lainnya Bubarkan Asisten Pribadi dan Turunkan Harga; sebuah versiterakhir Tritura yang muncul setelah versi koran Mahasiswa Indonesia di Bandung sebelumnya. Gerakan ini berbuntut dihapuskannya jabatan Asisten Pribadi Presiden.    

Setelah peristiwa Malari, hingga tahun 1975 dan 1976, berita tentang aksi protes mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus disamping kuliah sebagain kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, Kuliah Kerja Nyata (KKN), Dies Natalis, acara penerimaan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana. Meskipun disana-sini aksi protes kecil tetap ada. menjelang dan terutama saat-saat antara sebelum dan setelah Pemilu 1977,  barulah muncul kembali pergolakan mahasiswa yang berskala masif.  Berbagai masalah penyimpangan politik diangkat sebagai isu, misalnya soal pemilu mulai dari pelaksanaan kampanye, sampai penusukan tanda gambar, pola rekruitmen anggota legislatif, pemilihan gubernur dan bupati di daerah-daerah, strategi dan hakekat pembangunan, sampai dengan tema-tema kecil lainnya yang bersifat lokal. Gerakan ini juga mengkritik strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional.
Setelah gerakan mahasiswa 1978, praktis tidak ada gerakan besar yang dilakukan mahasiswa selama beberapa tahun akibat diberlakukannya konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) oleh pemerintah secara paksa. Kebijakan NKK dilaksanakan berdasarkan SK No.0156/U/1978  sesaat setelah Dooed Yusuf  dilantik tahun 1979. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik, dan menjauhkan dari aktivitaspolitik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim. Menyusul pemberlakuan konsep NKK, pemerintahdalam hal ini Pangkopkamtib Soedomo melakukan pembekuan atas lembaga Dewan Mahasiswa, sebagai gantinya pemerintah membentuk struktur keorganisasian baru yang disebut BKK. Berdasarkan SK menteri P&KNo.037/U/1979 kebijakan ini membahas tentang Bentuk Susunan Lembaga Organisasi Kemahasiswaan di Lingkungan Perguruan Tinggi,dan dimantapkan dengan penjelasan teknis melalui Instruksi Dirjen Pendidikan Tinggi tahun 1978 tentang pokok-pokokpelaksanaan penataan kembali lembaga kemahasiswaan di Perguruan Tinggi.Beberapa kasus lokal yang disuarakan LSM dan komite aksi mahasiswa antara lain: kasus tanah waduk Kedung Ombo,Kacapiring, korupsi di Bapindo, penghapusan perjudian melalui Porkas/TSSB/SDSB.            

Memasuki awal tahun 1990-an, di bawah Mendikbud Fuad Hasan kebijakan NKK/BKK dicabut dan sebagai gantinyakeluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK). Melalui PUOK ini ditetapkan bahwa organisasikemahasiswaan intra kampus yang diakui adalah Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), yang didalamnya terdiridari Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).Dikalangan mahasiswa secara kelembagaan dan personal terjadi pro kontra, menamggapi SK tersebut. Oleh merekayang menerima, diakui konsep ini memiliki sejumlah kelemahan namun dipercaya dapat menjadi basis konsolidasikekuatan gerakan mahasiswa. Argumen mahasiswa yang menolak mengatakan, bahwa konsep SMPT tidak lain hanyasemacam hiden agenda untuk menarik mahasiswa ke kampus dan memotong kemungkinan aliansi mahasiswa dengankekuatan di luar kampus.Gerakan yang menuntut kebebasan berpendapat dalam bentuk kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademikdi dalam kampus pada 1987 1990 sehingga akhirnya demonstrasi bisa dilakukan mahasiswa di dalam kampusperguruan tinggi. Saat itu demonstrasi di luar kampus termasuk menyampaikan aspirasi dengan longmarch keDPR/DPRD tetap terlarang.                                  

Periode Tahun 1998
Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) pada 1997-1998,  lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini diantaranya: Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung. Gerakan ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.
Era Reformasi-sekarang        

PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL
Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat pada umumnya menyangkut hal yang kompleks. Oleh karena itu Alvin L. Bertrand menyatakan bahwa Perubahan Sosial pada dasarnya tidak dapat diterangkan oleh dan berpegang teguh pada faktor yang tunggal. Menurut Robin Williams, bahwa pendapat dari faham diterminisme monofaktor kini sudah ketinggalan zaman, dan ilmu sosiologi modern tidak akan menggunakai interpretasi-interpretasi sepihak yang mengatakan bahwa perubahan itu hanya disebabkap oleh satu faktor saja.
Jadi jelaslah, bahwa perubahan yang terjadi pada masyarakat tersebut disebabkah oleh banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi. Karenanya perubahan yang terjadi di dalam masyarakat itu dikatakan berkaitan dengan hal yang kompleks. Tentang Perubahan Sosial ini, beberapa sosiolog memberikan beberapa definisi perubahan sosial yang dapat membantu kita untuk lebih mudah memahami apa sebenarnya Perubahan Sosial tersebut, adalah sebagai berikut :
Pengertian Perubahan Sosial Menurut Ahli
1.      William F.Ogburn mengemukakan bahwa “ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial”.
2.      Kingsley Davis mengartikan “perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat”.
3.      MacIver mengatakan “perubahan-perubahan sosial merupakan sebagai perubahanperubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial”.
4.      JL.Gillin dan JP.Gillin mengatakan “perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, idiologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat”.
5.      Samuel Koenig mengatakan bahwa “perubahan sosial menunjukkan pada modifikasimodifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia”.f. Definisi lain adalah dari Selo Soemardjan. Rumusannya adalah “segala perubahanperubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat”.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian perubahan sosial adalah perubahan perubahan yang terjadi pada masyarakat yang mencakup perubahan dalam aspek-aspek struktur dari suatu masyarakat, ataupun karena terjadinya perubahan dari faktor lingkung an, karena berubahnya komposisi penduduk, keadaan geografis, serta berubahnya sistem hubungan sosial, maupun perubahan pada lembaga kemasyarakatannya.





Tag : , ,

ANALISIS MANTRA "MENUMBUK BERAS MENJADI TEPUNG” Metode hermeneutik

By : Unknown
ANALISIS “MANTRA MENUMBUK BERAS MENJADI TEPUNG”



Analisis ini diharapkan agar pembaca bisa mendapatkan informasi, mengenai
Mantra Menumbuk Beras Menjadi Tepung yang berkaitan dengan arti dan hasil
interpretasi. Mantra tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

            Mantra Menumbuk Beras Menjadi Tepung

Nona cantik inten dewata
Bukan aku berkuasa
Bukan aku pemberani
Niat diambil sarinya
Aci bumi aci buahnya

Niat ijin kepada bapak
Mau diambil raganya
Mau diambil sukmanya
Nona dangdang tresnawati
Harus cinta
Harus ikhlas
Kamu hancur dengan jaman
Akan dijaga dengan sungguh-sugguh
Tidak akan jatuh oleh satu pegangan
Tidak akan ingkar dengan arwahnya
Akan dibuka digenggam
Berpisah meski setempat
Bissmillah........

Dalam penafsiran sebuah karya sastra diperlukan penghayatan. karena tanpa penghayatan, maka hasil dari penafsiran tidak akan sempurna. Sebaliknya, jika penuh penghayatan akan lebih jelas. Penafsiran dapat dimulai dengan bagian perbagian, maupun secara menyeluruh kemudian menuju ke arah bagian-bagian. Penafsiran ini akan dimulai dari kata-kata yang ada dalam Mantra Menumbuk Beras Menjadi Tepung.  Dalam bait pertama kata-kata yang akan di tonjolkan adalah sebagai berikut:

Nona cantik inten dewata
Bukan aku berkuasa
Bukan aku pemberani
Niat diambil sarinya
Aci bumi aci buahnya

Kata “nona cantik” menjadi kata pertama yang terdapat dalam bait ini. Nona cantik menunjukan bahwa penulis mantra ini mengajukan permintaan nya kepada seorang wanita yang cantik. “Inten dewata” menunjukan bahwa wanita yang cantik itu sejenis para dewa dimasa lampau. “bukan aku berkuasa” kata ini menunjukan seorang penulis mantra yang merasa rendah dihadapan yang berkuasa. Sama halnya dengan kata “bukan aku pemberani” seakan tidak mau disebut pemberani jika dihapkan dengan inten dewata tadi. Lalu kata yang ditonjolkan lagi ialah “sarinya” menunjukan setelah memanjatkan pujian, ada yang dimintanya yaitu untuk mengambil sarinya. Sari disini menunjukan inti dari suatu perkara yang terdapat dalam bumi dan dalam buahnya.








Niat ijin kepada bapak
Mau diambil raganya
Mau diambil sukmanya
Nona dangdang tresnawati
Harus cinta
Harus ikhlas
Dalam bait ini, kata yang ditonjolkan adalah ijin, raganya, sukmanya, cinta, ikhlas. Sang penulis mantra berniat untuk ijin terlebih dahulu sebelum memulai mengambil raga. Setelah ijin lalu dilanjutkan dengan mengambil raga dan sukmanya. Harus dengan penuh rasa cinta dan dengan penuh rasa ikhlas dalam mengambil raga dan sukma tadi.

Kamu hancur dengan jaman
Akan dijaga dengan sungguh-sugguh
Tidak akan jatuh oleh satu pegangan
Tidak akan ingkar dengan arwahnya
Akan dibuka digenggam
Biar Berpisah walau setempat
Bissmilah.....
Kata yang ditonjolkan dalam bait ini adalah hancur, dijaga, jatuh, ingkar, digenggam, berpisah, bissmillah. Hacur disini menunjukan suatu keadaan yang tak lagi utuh, bisa disengaja maupun tidak disengaja. Penulis mantra berjanji akan menjaganya dengan sungguh-sungguh dan tidak akan membiarkannya jaatuh. Ingkar adalah suatu perbuatan melanggar aturan yang disepakati. Penulis mantra telah memberikan janjinya dan berkata tidak akan ingkar, artinya akan menepati janjinya tadi.
Kata Bissmillah menunjukan seseorang yang akan memuli kegiatannya. Penulis mantra memberikan simbol bahwa beliau akan segera memulai kegiatannya yaitu sesuai dengan judul menumbuk beras menjadi tepung diawali dengan kata bissmillah.



SIMPULAN


 Secara garis besar, mantra diatas dapat daitafsirkan Sesuai dengan judulnya, yaitu “Mantra Menumbuk Beras Menjadi Tepung”  bahwa seorang penulis atau pengarang mantra menunjukan ada beberapa hal penting yang harus dilakukan sebelum melaksanakan kegiatan tertentu. Sangat jelas diceritakan dalam mantra diatas beliau memberikan pujian-pujian khusus kepada inten dewata, lalu memintan ijin kepada bapak, meminta keikhlasan, lalu beliau meminta agar dikabulkan apa yang diinginkannya.
Tag : ,

ANALISIS HERMENEUTIKA MANTRA "MENUMBUK PADI”

By : Unknown

ANALISIS “MANTRA MENUMBUK PADI”




Analisis ini diharapkan agar pembaca bisa mendapatkan informasi, mengenai Mantra Menumbuk Padi yang berkaitan dengan arti dan hasil interpretasi. Mantra tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
Mantra Menumbuk Padi  
                Saya meminta ijin kepada yang cantik
Nyonya diminta kesediaanya
Ditunggu kedatangnnya
Oleh saya akan dipersunting
Jangan menangis karena satu hal
Jangan kaget karena seribu hal
Aku akan menjaga
Tidak akan terjatuh walau satupun
Namun setia
Jangan terkejut jika dikejutkan
Maaf bukan maksud
Nona diminta sayangnya, nona diminta cintanya








Dalam penafsiran sebuah karya sastra diperlukan penghayatan, karena tanpa penghayatan, maka hasil dari penafsiran tidak akan sempurna dan sebaliknya jika penuh penghayatan akan lebih jelas. Penafsiran dapat dimulai dengan bagian perbagian, maupun secara menyeluruh kemudian menuju ke arah bagian-bagian. Penafsiran ini akan dimulai dari kata-kata yang ada dalam Mantra Menumbuk Padi. Dalam bait pertama kata-kata yang akan di tonjolkan adalah sebagai berikut:
Saya meminta ijin kepada yang cantik
Nyonya diminta kesediaanya
Ditunggu kedatangnnya
Oleh saya akan dipersunting

Disebutkan dalam kata-kata yang bergaris bawah  pada puisi bait pertama dibuka dengan kata yang ingin ditonjolkan seperti kata cantik yang berarti seorang perempuan yang cantik jelita akan siap untuk dipersunting, lalu larik berikutnya menunjukan atau memperjelas akan diminta restunya kepada orang tua bahwa perempuan yang sudah siap diperistri dan akan menempuh kehidupan yang baru bersama laki-laki yang menjadi suaminya nanti.

Pada bait kedua kata-kata yang ditonjolkan yakni menangis, kaget, menjaga, terjatuh, setia, terkejut.
Jangan menangis karena satu hal
Jangan kaget karena seribu hal
Aku akan menjaga
Tidak akan terjatuh walau satupun
Namun setia
Jangan terkejut jika dikejutkan

          Kata-kata tersebut  menunjukan bahwa kehidupan seorang  perempuan yang menyatakan siap akan menikah berada pada kata menangis terharu bahwa orang tua melihat dan menjadi saksi pernikahan di antara perempuan dan laki-laki tersebut, dan akan menjaga keluarga dengan pernikahan semoga sakinah, mawadah dan warohmah akan terus berjuang dan mempertahankan pernikahan mereka sampai azal  yang memisahkan kita dalam hidup rumah tangga yang baru. Di bait kedua  pencipta mantra ini mengungkapkan bahwa seorang istri tidak akan perlu takut atas kehidupan yang akan datang walaupun banyak godaan atau cobaan yang menghampiri rumah tangga mereka.

Pada bait terakhir pengarang secara nyata menjelaskan bahwa dalam puisi “menumbuk padi” ini selama bertahun-tahun. Disini pengarang menjelaskan bahwa dalam menggapai rumah tangga tidak semudah membuat tanaman, banyak proses yang harus dihadapi dalam dalam menjaga keharmonisan dalam keularga. Di akhir bait himbauan untuk kita bahwa pernikahan harus dibarengi dengan rasa kepercayaan, kasih sayang, perhatian dan rasa cinta harus tetap ada dalam lindungan keluarga, orang lain, dan Allah SWT.

Nona diminta sayangnya, nona diminta cintanya

Kata-kata yang di tonjolkan oleh pengarang adalah sayangnya, dan cintanya. Kata sayangnya disini mempunyai makna yang berarti dalam menjalankan sebuah pernikahan yang harmonis rasa kasih sayang yang selalu ada dan silih berganti setiap waktunya. Kata cintanya disini yaitu saling menjaga dan melengkapi satu sama lain dalam keadaan susah maupun senang dalam membina rumah tangga.
Secara global makna dari puisi “menumbuk padi” adalah seorang perempuan yang senantiasa melakukan kegiatan di pedasaan zaman dahulu dan zaman sekarang nampak berbeda. Namun dalam puisi ini menjelaskan tentang kisah seorang perempuan yang bersedia untuk di persunting menjadi istrinya.




Simpulan


Secara garis besar puisi diatas dapat ditafsirkan sebagai bentuk pengharapan bagi penulis maupun bagi pengarang, penulis disini menggungkapkan bahwa bahwa puisi diatas adalah menunjukan seorang perempuan yang akan siap untuk dipersunting. Dalam hal ini memberikan sesuatu dan harapan yang sangat besar kepada mereka yang akan menikah dan membina menjadi keluaraga yang sakinah. 
Tag : ,

Resensi Buku tiga madzhab utama filsafat islam

By : Unknown
Laporan Buku

Judul Buku    : Tiga Mazdhab Utama Filsafat Islam

Penulis                        : Sayyed Hossein Nasr
Penerbit                      : IRCiSoD, Diva Pess (Yogyakarta, Maret 2006).
Tahun terbit              : Oktober 2014
Jumlah Halaman       : 244 Halaman
Berat                           : 400 gr
Ukuran                       : 14x20 cm






Memahami filsafat Islam dalam konteks klasik tidak mudah, karena filsafat Islam merupakan suatu kearifan yang memberi gema agama Islam khususnya akan hakekat wujud (metafisika) kedalam filsafat Yunani.(hal.7-14) Pernyataan tersebut memunculkan tanda tanya, tentang apakah filsafat merupakan bagian dari khazanah intelektual Islam? Atau filsafat merupakan peradaban barat yang ditransmisikan dalam Islam. Sehingga, penulis yang sangat kritis akan segi historis lahirnya filsafat dalam Islam. Khususnya perkembangan tradisi intelektual Islam dengan berkuasanya Dinasti Abbasiyah, dibawah kekuasaaan Harun al-Rasyid, al-Ma’mun dan al-Mu’tasim, yang sangat perhatian pada ilmu-ilmu pra muslim pada kurun waktu dua abad ( 750-1000 M ), banyak karya-karya metafisik, filosofis dan ilmiah diterjemahkan ke bahasa arab oleh Hunain Ibn Ishaq (m. 873 ) beragama Kristen dan Tsabit bin Qurra (m.901) beragama Zoroaster yang kemudian masuk Islam.  Melalui terjemahan merekalah Islam membentuk dasar-dasar madzhab filsafat dan pengetahuan sesuai pernyataan Seyyed Hossein Nasr, “come into being as a result of the application of Islamic principles to the various forms of knowledge thereby inherited and the integration of these forms of knowledge into the Islamic perspective” terwujud sebagai hasil dan penerapan prinsip-prinsip islam dengan berbagai bentuk pengetahuan demikian demikian mewarisi dan mengintegrasi bentuk-bentuk pengetahuan kedalam perspektif islam. Dengan demikian, penulis mencoba memaparkan secara konkrit pemikiran serta perkembangan tiga madzhab utama filsafat Islam tentang konsep teologi serta komponen-komponen ilmu yang mewujudkan proses illuminasi Allah kepada hamba-Nya sebagai konsep intelektual ahli hikmah terkemuka.


BAB 1
Ibnu Sina (Avacenna) dan Filsuf-Ilmuwan

Pada bab pertama, penulis membahas tentang filsafat Peripatetik dalam Islam yang didirikan oleh Al-Kindi "the first philosopher of the Arab dan dikembangkan oleh Ibnu Sina dengan mengintegrasikan pemikiran filosof Islam sebelumnya yaitu, al-Farabi dan al-Razi. Setelah mengenyam pendidikan di Bagdad, Al-kindi mulai mendalami ilmu pengetahuan dan filsafat yang berbahasa arab dan berupaya memadukannya dalam perspektif Islam. Sesuai, kutipan pada karyanya Treatise on Metaphysics, “ Kita seharusnya tidak pernah malu untuk mengakui kebenaran dan sumber manapun yang datang kepada kita. Sedangkan, tentang persoalan agama, al-Kindi sebagai donator pemikiran Ibnu Sina setuju dengan teologi mu’tazilah dengan mengedepankan struktur filosofis bahwa wujud penciptaan di dunia ini tergantung pada kehendak tuhan. Padahal secara nyata, Allah mempunyai sifat kehendak dan melaksanakan yang terwujud dalam suatu realitas (immanen).
Ibnu sina pemikirannya sangat domain terhadap metafisika dan ilmu pengetahuan, walaupun metafisika suatu perangai baginya tetapi ia terus berusaha dalam memahaminya, sesuai pernyataan ini : “ At the age of sixteen he was the master of all the siences of his day except for metaphysics as contained in the Metaphysics of Aristoteles which, though he read it over many times and memorized it, he could not understand “ pada usia enam belas tahun, dia telah mahir ilmu pengetahuan pada masanya, kecuali metafisika sebagaimana yang tercantum dalam metafisikanya Aristoteles, meskipun ia membaca lebih berkali-kali dan menghafalnya, ia tidak bisa mengertinya.Tapi hambatan tersebut teratasi dengan komentar al-Farabi terhadap Aristoteles dalam karyanya metafisika yang kompleks.
Sedangkan Ontologi Ibnu Sina secara esensial berkenaan dengan kajian terhadap wujud serta seluruh distingsi mengenainya menempati peran sentral dalam spekulasi-spekulasi metafisiknya. Menurutnya,” the reality of a thing depens upon its existence, and the knowledge og an object is ultimately the knowledge of its ontological status in the chain of universal existence which determines all of its attributes and qualities” Hakikat sesuatu tergantung pada eksistensinya dan pengetahuan atas sebuah objek pada puncaknya adalah pengetahuan terhadap statu ontologisnya dalam rangkaian eksistensi universal yang menentukan seluruh atribut dal kualitasnya. Intinya, Tuhan lebih awal dari semesta dan bersifat transenden. Sedangkan, kajiannya tentang eksistensi pada segala sesuatu tidak terlepas dari distingsi fundamental yang menerangkan kemungkinan.(hal.52-53) Maka kapanpun orang berfikir eksistensi pasti terdapat 2 aspek berbeda pada kerangka berfikirnya, yaitu : 1). Esensi atau kuiditasnya, serta 2). Eksistensi.(hal.53-54) Maka wujud abadi menurut ibnu Sina adalah substansi atau aksidensi` yang sesuai dengan kategorinya terbagi menjadi tiga macam : a). Intelek (‘aql) sepenuhnya terlepas dari materi dan potensialitas; b). Jiwa (nafs) yang terlepas dari materi tapi butuh pada tubuh untuk bertindak; c). Tubuh (jism) yang bisa dibagi serta memiliki panjang lebar dan luas, karena itu mungkin elemen-elemen semesta ini terbagi menjadi tiga unsur tersebut dalam wilayah kosmik.
Sementara kajian kosmologinya mengikuti platonisme yang mendasar pada distingsi berusaha menunjukkan bagaimana yang banyak itu dilahirkan dari yang Satu (ex uno non fit nisi unum) atau inteleksi tuhanlah (akal pertama) penciptaan itu terjadi, yang pada saat bersamaan transenden dalam kaitannya dengan seluruh keragaman (multiplicity). Sedangkan proses penciptaan, atau manifestasi, terkait erat dengan fungsi dan signifikan malaikat sebagai alat yang mewujudkan tindakan penciptaan sebagai akal pertama yang disetarakan dengan malaikat disusul akal yang kedua yaitu jiwa dan tubuh akal langit pertama. Dan melalui kontemplasi akal pertamalah melahirkan akal selanjutnya sampai kesupuluh terpancar illuminasi dan penciptaan Tuhan.
Namun, agama dan wahyu Ibnu Sina terungkap pada misinya yang memiliki dua aspek utama, yaitu : pertama, mengarahkan jiwa manusia menuju kebahagiaan abadi dengan keimanan terhadap eksistensi tuhan; kedua, agama mengarahkan pada aspek-aspek praktis sebagai tindakan ritual. Aspek diatas, mengakhiri filsafat Perepatetik Ibnu Sina yang ditafsirkan pada katedral kosmik dalam realisasi spiritual yang disebut filsafat Timur. (hal.78-85) Pemikiran Ibnu Sina banyak diwarnai filosof Yunani dan mentransformasikannya pada ajaran agama, ilmu pengetahuan dan filsafat Islam.

BAB 2
Suhrawardi dan Kaum Iluminsionis

Pada bab dua, menjelaskan filsafat Islam yang mengalami masa transisi dari peripatetik menuju Isyraqi. Dimulai ketika teologi al-Asya’riyah mulai didukung oleh lingkungan pejabat pemerintah, begitu juga serangan Ghazali sangat keras terhadap para filosof dalam pembatasan kekuasaan rasionalistik dan menjadikan sufisme bisa diterima dikalangan masyarakat. Hal ini menyebabkan keruntuhan filsafat peripatetik di kawasan Timur dan beralih ke barat –Andalusia.
Disamping itu, Suhrawardi sebagai ahli hikmah dan Syaikh al-Isyraq doktrin-doktrinnya telah menggantikan filsafat peripatetik. Pada masa hidupnya ia menulis puluhan buku, diantaranya empat karya besarnya yang bersifat doktrinal dan didaktik, seperti; al-Isyroqi, tetralogi, muqawamat dan mutharahat ketiga-tiganya berbicara tentang modifikasi filsafat aristoteles dan yang terakhir maha karyanya Hikmat al-Isyraq, didalamnya mencakup: a). Risalah-risalah yang pendek dalam bahasa arab dan Persia tentang tetralogi yang di uraikan dalam bahasa yang sederhana; b).Cerita-cerita msitik dan simbolik melukiskan perjalanan jiwa melintas kosmos menuju ilmuninasi dan pencapaian puncaknya; c). Transkripsi, terjemahan dan uraian atas karya-karya filsafat awal serta naskah-naskah suci; d). Doa-doa dan permohonan dalam bahasa arab.
Sumber doktrin Isyraqi Suhrawardi meliputi sufisme (Hallaj dan al-Ghazali) dan beberapa bagian filsafat peripatetik Ibnu Sina, yang ia kritik sebagai dasar penting atas doktrin-doktri al-isyraqi. Ia mengidentifikasi dirinya dengan sekelompok ahli hikmah Persia yang memiliki doktrin esoterik didasarkan pada kesatuan Dasar Ilahiah dan sebagai sosok yang mengangkat tradisi tersembunyi dalam komunitas Zoroastrian sekaligus penyatu kembali al-hikmah al-ladunniyah, atau Kebijaksanaan Ilahiah dan kebijaksanaan kuno.
Menurut Suhrawardi makna Isyraqi adalah sintesis dua kebijaksanaan dari permulaan keahlihan berasal, yang terkait erat dengan Hermitisisme. Definisi tersebut menggabungkan Isyraqi dengan periode pra-Aristotelian sebelum filsafat dirasionalisasikan dan ketika intuisi intelektual masih merupakan jalan pencapaian pengetahuan. Sedangkan kebijakasanaan Isyraqi sendiri berdasarkan diskursif dan intuisi intelektual, melalui latihan formal terhadap pemikiran dan juga pembersihan jiwa berdasarkan empat kategori, yaitu : 1). Mereka yang mulai merasa haus atas pengetahuan lalu berusaha mencarinya; 2). Mereka yang telah memperoleh pengetahuan formal dan menyempurnakan filsafat diskursif tapi masih asing dengan gnosis, seperti Ibnu Sina dan al-Farabi; 3). Mereka yang tidak peduli dengan bentuk pengetahuan-pengetahuan diskursif, karena telah membersihkan jiwa hingga mencapai intuisi intelektual dan pencerahan batin (illumiinasi), seperti Hallaj, Bustami dan Tustari; 4). Mereka yang telah menyempurnakan filsafat diskursif dan juga illuminasi yaitu hakim muta’allih- secara harfiah teosof, seperti Pythagoras dan Plato
Pada kategori-kategori ini terdapat hirarki wujud-wujud spiritual yang samawi atau tak terindera, dipuncaknya terdapat kutub atau imam, yang karenanya seluruh bagian hirarki spiritual bertindak sebagai wakil-wakilnya.
Ia juga mengiritik definisi filsafat Peripatetik aliran Aristoteles termasuk logika, yang telah mereduksi sembilan aksiden menjadi empat, yaitu relasi, kualitas, kuantitas dan gerak. Begitu juga pada Peripatetik Muslim (Ibnu Sina), bahwa dalam setiap sesuatu yang ada (exist), eksistensi merupakan prinsip (ashl) dan realitas esensi tergantung pada eksistensi. Padahal, menurutnya ada esensi yang memiliki realitas serta prinsip, sedang eksistensi memerankan peran sampingan dari aksiden yang ditambahkan pada esensi yaitu prinsipialitas esensi.
Sedangkan ontologinya menyatakan bahwa, seluruh realitas tidak lain berasal dari cahaya yang memiliki beragam tingkatan dan intensitas yang menciptakan segala sesuatu yang pencapaian sepenuhnya pada tahap illuminasi atau penyelamatan.
Kehidupan manusia yang tidak akan abadi karena fisiknya akan mangalami kevakuman dan kematian walaupun jiwanya akan selalu hidup. Oleh sebab itu, dalam filsafat eskatologinya, ia menerangkan kondisi jiwa setelah kematian tergantung pada tingkat kemurnian dan pengetahuan yang telah ia capai, berdasarkan tiga kelompok jiwa: 1). kelompok jiwa yang mencapai ukuran kemurniaan dalam kehidupan, 2). kelompok jiwa yang digelapkan pada kebodohan dan kejahatan, dan 3). kelompok jiwa yang telah mencapai kesucian dan illuminasi dalam hidupnya, yaitu para wali atau para teosof.

BAB 3
Ibnu ‘Arobi dan Kaum Sufi

Pada bab terakhir, penulis menjelaskan pemikiran sufisme Ibnu Arabi' dan kesatuan doktrin dan metode pada ajarannya. Bahwa sufisme bagi Ibnu Arabi' merupakan sebuah jalan realisasi spiritual dan pencapaian kesucian. Sedangkan gnosis merupakan aspek wahyu dalam Islam yang pada dasarnya bagian dari jantung dan dimensi batin atau esoterik dalam diri manusia. Realitas doktrin-doktrin sufisme, berdasarkan Wahyu yang terkait erat dengan ruh (spirit) dan bentuk lahir (from), maka tokoh utmanya yang paling awal dan sempurna adalah Nabi Muhammad, setelahnya diwakili esoterisme Islam, ‘ Ali bin Abi Thalib.
Perlu kita ketahui, bahwa sosok Ibnu ‘Arabi sangat erat dengan doktrin-doktrin kosmologis dan metafisik serta psikologis dan antropologis yang lengkap dari dimensi monumental yang pertama kali tampak pada Sufisme. Dalam tulisannya, kita bertemu dengan formulasi-formulasi seperti kesatuan transenden wujud dan manusia universal yang ditunjukkan pertama kali, meskipun realitasnya sudah ada sejak awal tradisi Sufisme.
Pada ajaran Ibnu’Arabi, doktrin dan metode merupakan dua kaki yang harus dikoordinasikan agar bisa memanjat gunung spiritual. Beberapa doktrin ibnu ‘Arabi diantaranya, yaitu:
  • Bahasa Simbolik, dari semua simbolis hingga geometrik dan matematik, dalam bahasa arab, fenomena alam, ayat-ayat al-qur’an yang mengandung wahyu dan keadaan jiwa yang disebut ayat.

  • Kesatuan Wujud, adalah kesatuan transendental Wujud yang membuatnya dituduh sebagai panteis, panenteis dan monis eksistensial oleh sarjana modern. Padahal maksudnya, ia adalah transenden dalam kaitannya penampakan-Nya melalui wahyu yang tidak sepenuhnya terpisah dari Tuhan.

  • Nama-Nama dan Sifat-Sifat pada Tuhan, diatas segala sifat tapi tidak terlepas dari sifat-sifat yang merupakan esensi dzat-Nya. Pandangannya pada esensi tuhan terletak antara tanzih dan tasybih, dengan meletakkan pada saat yang sama.

  • Manusia Universal atau logis, pada esensinya memiliki tiga aspek berbeda, yaitu : kosmologis, profetik dan inisiatik.

  • Penciptaan dan Kosmologis, pada dasarnya merupakan wujud yang ditampakan oleh cahaya melalui kosmik atau seperangkat cermin wujud realitas tuhan.

  • Kesatuan, yaitu penyatuan dengan tuhan yang merupakan hasil dari manusia kepada keindahan tuhan. Dengan menyadari bahwa eksistensi kita sejak awal adalah milik Tuhan, dan manusia semulanya tidak memiliki eksistensi. Jadi semua eksistensi merupakan pancaran Wujud Tuhan yang mutlak.

  • Kesatuan Agama-Agama, maksudnya adalah keseluruhan umat beragama berjuang untuk mencapai makna batin dan universal pada wahyu secara alamiah tanpa penolakan.

Kesimpulannya, Pada dasarnya bentuk pemikiran dan filsafat Ibnu Sina merupakan konsekuensi dari ilmu-ilmu filsafat Yunani kuno, seperti Aristoteles, Plato dan lainnya. Yang mana mentransformasikan filsafat peripatetik dalam Islam, maka ia merupakan bagian dari Arabic Philoshopy. Sedangkan pondasi pemikiran Suhrawardi dan Ibn ‘Arabi dalam ilmu pengetahuan dan filsafat adalah wahyu Allah. Yang dipelajari agar mendapatkan illuminasi Illahi, sesuai dengan pendahulunya yaitu Ghazali, al-Razi dan lainya. Mereka juga menolak keras filsafat peripatetik Aristotelian dan menghancurkan rasionalistik barat. Tetapi madzhab mereka condong pada ajaran sufisme. Jadi Suhrawardi dan Ibn ‘Arabi merupakan bagian dari Islamic Philoshopy.
Sistematika penulisan "Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam" lebih mengutamakan proses transisi dari pemikiran beberapa filosof klasik yang dintegrasikan oleh Ibnu Sina dalam pengembangannya terhadap filsafat Peripatetik. Kemudian gagasan tersebut dihujat oleh pemikiran Suhrawardi dalam filsafat al-Isyraqi. Sebagai wujud dari ketidak setujuannya terhadap filsafat Peripatetik yang tidak mengakui wujud Tuhan secara mutlak melalui beberapa aspek, diantaranya: wujud Tuhan (metafisika), ontologinya yang berkaitan erat dengan proses kosmologi atau penciptaan alam, yang mana seluruhnya berdasarkan pemikiran filosof Yunani yang tidak mengetahui konsep Tuhan secara kompleks. Dan puncak dari al-Isyraqi sebagai signifikasi ilmu laduni atau khuduri dikembangkan oleh Ibnu Arabi' melalui doktrin dan metodenya yang berlandaskan wihdatul wujud yaitu kepercayaan bahwa eksistensi manusia merupakakan wujud dari Sumber eksistensi di alam ini yaitu Tuhan.
Sehingga judul yang sesuai bagi buku ini adalah Tig   a Madzhab Utama Filsafat Islam (Studi Historis Masa Transisi Filsafat Peripatetik menuju Filsafat Illuminasi). Karena makna utama dalam filsafat Islam sangat luas dan universal dan didalamnya, penulis juga lebih kompleks dalam menerangkan masa transisi filsafat Islam dari filsafat Peripatetik menuju ke pemikiran Suhrawardi yang lebih dikembangkan oleh Ibnu Arabi' yaitu filsafat Illuminasi.

Kelebihan Buku

            Kelebihan Buku dengan judul Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam ini terletak pada susunan pembahasan yang ada di dalamnya. Dimana penulis dengan rinci menceritakan transisi pemikiran filsafat Peripatetik menuju Filsafat Iluminasi. Dalam buku tersebut diceritan pula kronologis pembelajaran dan biodagrafi singkat para tokoh penggagas perippatetik yang mentransformasikannya dalam islam seperti al-kindi, ibnu dan sina. Juga penolakan terhadap filsafat peripatetik yang dicetuskan oleh suhrawardi dengan filsafat isyraqi sebagai bentuk penghujatan terhadap filsafat peripatetik. Serta dalam buku ini dilengkapi dengan catatan kaki, dan Indeks yang lengkap.

Kekurangan Buku

            Kekurangan buku ini terdapat pada pembahasannya yang mana langsung menjuru pada inti dari filsafat secara pengembangannya, tanpa penutur dasar sebelumnya. Sehingga para pembaca mungkin merasa agak kesulitan untuk memahaminya.  
Tag : , ,

Bung Karno dan Ahmadiyah

By : Unknown


Benarkah Bung Karno Penganut Ahmadiyah ?



Tokoh politik dan tokoh agama pada umumnya dipegang oleh tokoh yang berlainan, tetapi rumusan ini tidak berlaku untuk sosok Bung Karno. Demikian tingginya nilai jual Bung Karno sehingga berbagai golongan saling berebut untuk menjadi pengikut Bung Karno, atau dengan tanpa rasa segan mereka menyebut Bung Karno menjadi pengikut aliran atau golongan yang mereka pimpin.
Ahmadiyah sebagai sebuah sekte keagamaan yang senantiasa menimbulkan kontro versi ternyata juga tidak segan-segan untuk mengklaim Bung Karno sebagai pengikutnya. Langkah ini diambil guna mempercepat pertumbuhan Ahmadiyah di Indonesia.
Bayangkan, entah untuk maksud diskredit, atau maksud mencari dukungan, Bung Karno pernah dikabarkan sebagai pendiri Ahmadiyah dan propagandis Ahmadiyah di bagian Celebes (Sulawesi). Bagi yang anti-Sukarno, berita itu bisa dijadikan alat untuk mendiskreditkannya. Sementara bagi penganut Ahmadiyah, “mencatut” nama besar Bung Karno sebagai pendiri Ahmadiyah, bisa menjadi alat propaganda yang luar biasa.
Kabar itu ditiupkan sekitar tahun 1935, tahun di mana Bung Karno (dan keluarga) hidup dalam pembuangan di Endeh. Kabar itu dibawa kawan Bung Karno yang baru datang dari Bandung. Ia mengabarkan bahwa suratkabar Pemandangan telah memasang entrefilet atau semacam maklumat yang menyebutkan bahwa Bung Karno telah mendirikan cabang Ahmadiyah sekaligus menjadi propagandis Ahmadiyah bagian Celebes (Sulawesi).
Saat kabar itu diterima, suratkabar Pemandangan belum lagi sampai di Endeh. Tapi Bung Karno percaya dengan si pembawa kabar. Karenanya, ia berpesan kepada temannya itu untuk langsung melakukan counter, bantahan. “Katakan, bahwa saya bukan anggota Ahmadiyah, jadi mustahil saya mendirikan cabang Ahmadiyah atau menjadi propagandisnya. Apalagi buat bagian Celebes! Sedangkan pelesir ke sebuah pulau yang jauhnya hanya beberapa mil saja dari Endeh, saya tidak boleh!” tegas Bung Karno.
Bung Karno sendiri menengarai, dikait-kaitkannya nama dia dengan Ahmadiyah, sangat mungkin karena intensitasnya mempelajari agama (Islam) selama di Endeh. Ia bersurat-suratan dengan H. Hassan, seorang ulama dari Persatuan Islam yang tinggal di Bandung. Surat-surat keagamaan antara Bung Karno dan Hassan bahkan menjadi kajian yang sangat menarik bagi para pemerhati Islam.
Sekalipun begitu toh, dalam salah satu surat Bung Karno kepada A. Hassan ia menyampaikan terima kasihnya kepada Ahmadiyah. Entah terima kasih untuk apa. Yang jelas, dalam surat tersebut, Bung Karno juga menuliskan sikapnya, “Saya tidak percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah seorang nabi dan belum percaya pula bahwa dia seorang mujadid.”
Itulah Bung Karno, Putera Sang Fajar yang terlahir dengan berbagai kontroversi, namun demikian tetap tidak dapat kita pungkiri bahwa Bung Karno adalah anugerah dari Allah SWT untuk bumi Pertiwi.


Biarkan Aku Yang Terluka
Tidak terlalu berlebihan kiranya apabila Bung Karno mendapat julukan Putera Sang Fajar, secara awam dapat saya katakana bahwa Bung Karno merupakan sosok yang membawa bangsa ini menuju fajar kemerdekaan.
Seluruh kekuaatan bangsa ini ada dalam genggaman Bung Karno, merah kata Bung Karno maka merelah seluruh Indonesia, hitam kata Bung Karno maka hitamlah Indonesia. Perkataan Bung Karno serta ajaran yang disampaikan akan menjadi isi kepala seluruh bangsa Indonesia.
Melihat dari latar belakang diatas maka yang ada dalam fikiran kita adalah: Bung Karno akan menggenggam Indonesia samapai saatnya dia menghadap Sang Pencipta. Pengangkatan Bung Karno sebagai Presiden seumur hidup tentunya melanggar Undang-Undang, tetapi dianggap sebuah kebenaran terutama oleh masyarakat kalangan bawah. Namun demikian sejarah telah menentukan sesuatu yang berbeda, dimana akal dan perkiraan manusia tidak lagi mampu memegang serta menjadi sutradara jalannya sebuah sejarah.
Tulisan yang sangat singkat ini sedikit member gambaran betapa pedihnya sayatan pedang sejarah.
Tak lama setelah mosi tidak percaya Parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dan MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam. Bung Karno dengan wajah sedih membaca surat pengusiran itu. Ia sama sekali tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya.
Wajah-wajah tentara yang diperintahkan Suharto untuk mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. “Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang”.
Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. “Mana kakak-kakakmu?” kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata “Mereka pergi ke rumah Ibu” rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru.
Bung Karno berkata lagi “Mas Guruh, Bapak sudah tidak boleh tinggal di
Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil
lukisan atau hal lain itu punya negara”. Kata Bung Karno lalu ia pergi
ke ruang depan dan mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia.
Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan ia maklum, ajudan itu sudah
ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. “Aku sudah tidak boleh
tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun,
Lukisan-lukisan itu, souvenir, dan macam-macam barang itu milik negara”.
Semua ajudan menangis Bung Karno mau pergi, “Kenapa bapak tidak
melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan” salah satu ajudan hampir
berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno. “Kalian tau apa, kalau
saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau
perang dengan Belanda kita jelas hidungnya beda dengan hidung kita,
perang dengan bangsa sendiri tidak..lebih baik saya yang robek dan
hancur daripada bangsa saya harus perang saudara”. Beberapa orang dari
dapur berlarian saat tau Bung Karno mau pergi, mereka bilang “Pak kami
tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi
belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak
dari biasanya” Bung Karno tertawa “Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga
hari itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya
apa….”
Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang
seorang perwira suruhan Orde Baru. “Pak, bapak segera meninggalkan
tempat ini” beberapa tentara sudah memasuki beberapa ruangan. Dalam
pikiran Bung Karno yang ia takuti adalah bendera pusaka. Ia ke dalam
ruang membungkus bendera pusaka dengan kertas koran lalu ia masukkan
bendera itu ke dalam baju yang dikenakannya di dalam kaos oblong, Bung
Karno bendera pusaka tidak akan dirawat oleh rezim ini dengan benar.
Bung Karno lalu menoleh pada ajudannya Saelan. “Aku pergi dulu” kata
Bung Karno hanya dengan mengenakan kaus oblong putih dan celana panjang
hitam. “Bapak tidak berpakaian dulu” Bung Karno mengibaskan tangannya,
ia terburu-buru. Dan keluar dari Istana dengan naik mobil VW kodok ia
minta diantarkan ke rumah Ibu Fatmawati di Sriwijaya, Kebayoran.
Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan
halaman, matanya kosong. Ia sudah meminta agar Bendera Pusaka itu
dirawat hato-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun yang
tumbuh di halaman. Kadang-kadang ia memegang dadanya, ia sakit ginjal
parah namun obat-obatan yang biasanya diberikan tidak kunjung diberikan.
Hanya beberapa minggu Bung Karno di Sriwijaya tiba-tiba datang satu
truk tentara ke rumah Sriwijaya. Suatu saat Bung Karno mengajak
ajudannya yang bernama Nitri yang orang Bali untuk jalan-jalan. Saat
melihat duku Bung Karno bilang “Aku pengen duku..Tri, Sing Ngelah Pis,
aku tidak punya uang” Nitri yang uangnya juga sedikit ngelihat
dompetnya, ia cukup uang untuk beli duku. Lalu Nitri mendatangi tukang
duku dan berkata “Pak bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil”
Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke Bung Karno “Mau pilih mana Pak,
manis-manis nih” kata Tukang Duku dengan logat betawi. Bung Karno
berkata “Coba kamu cari yang enak” Tukang Duku-nya merasa sangat akrab
dengan suara itu dan dia berteriak “Lha itu kan suara
Bapak…Bapak…Bapak” Tukang Duku berlari ke teman-temannya pedagang
“Ada Pak Karno…ada Pak Karno” serentak banyak orang di pasar
mengelilingi Bung Karno. Bung Karno tertawa tapi dalam hati ia takut
orang ini akan jadi sasaran tentara karena disangka mereka akan
mendukung Bung Karno. “Tri cepat jalan”….. Mendengar Bung Karno sering
keluar rumah maka tentara dengan cepat memerintahkan Bung Karno
diasingkan. Di Bogor dia diasingkan ke Istana Batu Tulis dan dirawat

Kenyataan tragis yang dialami oleh Bung karno merupakan gambaran tragis kondisi politik dan sistim alih kekuasaan di Indonesia. Bung Karno telah memberikan seluruh catatan hidupnya untuk kebangkitan Bangsa Indonesia, walau pada akhirnya di Indonesia pula Bung Karno di campakkan.


Salam Revolusi




Tag : , ,

Kata-kata soekarno (soekarno quotes)

By : Unknown

Berbicara mengenai sosok Bung Karno memang tidak akan habisnya. Meskipun beliau telah tiada, Namun nama beliau tetap harum dan jasa-jasa nya akan selalu tetap dikenang dalam setiap sanubari rakyat Indonesia.
Kata Motivasi Bijak Soekarno ini adalah sebuah ungkapan Kata kata Mutiara dari seorang Proklamator kita yaitu Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno, Bung karno atau sang proklamator kita, memiliki jasa-jasa hebat selama massa hidupnya demi mengabdi untuk negara kita tercinta, yaitu Indonesia Raya. Pria kharismatik ini lahir pada tanggal 06 Juni 1901 merupakan proklamator kemerdekaan Indonesia yang sangat nasionalis, disegani dan berkarakter tegas. Sebagai bangsa yang besar, kita pada masa kini mungkin sangat meng idam-idamkan jiwa pemimpin seperti beliau, dan pidato-pidatonya yang lantang dan berwibawa pada zaman perjuangan dahulu kala, Untuk mengingat sosok beliau berikut saya bagikan Kumpulan Kata kata Motivasi Soekarno dan Semoga saja dapat menginspirasi kita semua, untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Kumpulan Kata Motivasi Bijak Ir. Soekarno
  Tuhan telah menciptakan bangsa ini untuk maju melawan kebohongan para elit-elit atas, hanya bangsanya sendirilah yang mampu membuatnya untuk maju dan merubah nasib negerinya sendiri.

Aku meninggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara-2 besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya.

Barang siapapun yang ingin mutiara, Maka harus berani terjun di lautan yang dalam, Untuk menemukan mutiara itu.

Tuhan berfirman inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” Bung Karno, Pidato HUT Proklamasi, 1964

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pejuang dan pahlawannya.” Ir. Soekarno, Pidato Hari Pahlawan 10 November 1961″

Kita belum hidup didalam sinar bulan purnama, kita masih hidup dimasa pancaroba. Jadi tetaplah bersemangat elang rajawali.”

Gantungkanlah cita-cita mu setinggi langit! 
Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.

Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang tinggi, setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapat terbanglah burung itu sama sekali.

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir para penjajah dari luar, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan orang-orangmu dan bangsamu sendiri.

Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan seluruh dunia”

Merdeka hanyalah sebuah jembatan, Walaupun itu sebuah jembatan emas.., di seberang jembatan itu jalan terpecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa.., satu ke dunia sama ratap sama tangis!”
Orang tidaklah bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia.. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.”

Apakah kelemahan kita kurang percaya diri sebagai bangsa yang kuat, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri dan kurang mempercayai satu dan yang lainnya, padahal kita ini berasal dari rakyat yang bergotong royong.”

Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat indonesia. Dan diatas segalanya adalah Kekuasaan Tuhan Yang Maha kuasa.”

Bangunlah sebuah dunia dimana semuanya bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan.”
Kita adalah bangsa yang sangat besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! 

Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak.” Bung Karno, Pidato HUT Proklamasi”

Aku lebih suka sebuah lukisan samudra yang gelombangnya menggebu-gebu daripada lukisan sawah yang adem ayem tentram.”

Jangan mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk derita pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” Ir. Soekarno, Pidato HUT Proklamasi”

Apabila dalam di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebajikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemu dengan yang namanya kemajuan walaupun satu langkah.”

Jangan melihat ke masa depan dengan mata tertutup dan buta. Masa yang lampau sangat berguna sebagai kaca benggala daripada masa yang akan datang.

Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. Ir. Soekarno, Pidato HUT Proklamasi 1956

Apakah kita mau Indonesia merdeka, yang kaum Kapitalnya merajalela ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang dan pangan?” Ir. Soekarno Pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945

Gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja, para kawula iyeg rumagang ing gawe, tebih saking laku cengengilan adoh saking juti. Wong kang lumaku dagang, rinten dalu tan wonten pedote, labet sakin9 tan wonten sansayangi margi. Subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Bebek ayam raja kaya enjang medal ing panggenan, sore bali ing kandange dewe-dewe. Ucapan-dalang dari bapaknya-embahnya-buyutnya-canggahnya, warengnya-udeg-udegnya gantung siwurnya. 

Bekerja bersatu padu, jauh daripada hasut, dengki, orang berdagang siang malam tiada hentinya, tidak ada halangan di jalan. Inipun menggambarkan cita-cita sosialisme.” Bung Karno, Pidato Hari Ibu 22 Desember 1960″


Itulah sedikit kumpulan Kata kata Bijak dan Kata kata Motivasi sang proklamator kita Ir. Soekarno baik tentang pemuda, kemerdekaan, dan yang lainnya. Semoga Kata kata Mutiara diatas bisa bermanfaat untuk kita semua dan dapat meningkatkan rasa nasionalisme atau kecintaan kita terhadap bangsa Indonesia yang perlahan mulai terkikis karena zaman semakin hari terus berubah dan mulai hilangnya norma-norma sosial untuk melakukan kebaikan.
Untuk itu marilah kita satukan visi dan misi terutama bagi para elit politik di Republik Indonesia ini Siapa lagi yang akan membuat bangsa ini maju kalo bukan kita, kapan lagi kalau tidak sekarang, Perangi Korupsi Kolusi dan Nepotisme, setidaknya mari kita mulai dari diri kita sendiri



- dari berbagai sumber
Tag : , , ,

- Copyright © Pembelajar - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Tubagus Bakhtiar -