Popular Post

Resensi buku Dasar-dasar Filsafat India

By : Unknown
Resensi buku buku dasar-dasar filsafat india




Judul Buku : Dasar-dasar Filsafat India
Penulis : IB Putu Suamba
Penerbit : Universitas Hindu Indonesia
Tebal : xv + 420 hlm, Tahun 2003

Jika sekadar ingin mendapat pengantar untuk memahami “hutan” filsafat India, buku ini memberi lumayan gambaran terstruktur, runtut, dan lengkap. Tapi, tidak sebagai bacaan lanjut dan mendalam.
Sejarah mengalir terus, peradaban timbul tenggelam. Sebutlah, misalnya, kebesaran peradaban Iran, Yunani Roma, dan Byzantium hilang dalam bebarapa abad. Prancis modern berakhir dari Treaty of Westphalia pada limit waktu 1648 hingga 1942.

Tapi di belahan dunia lain Cina dan India mencatat peradaban gemilang dalam suatu oase panjang. Di sini penting disimak pemikiran sejarawan Inggris, Arnold A Toynbee, bahwa kebesaran suatu peradaban tidak bisa diukur dari lamanya manusia menjegal manusia lain dalam pertempuran, dari kekayaan yang dirampas, atau penghancuran kebudayaan atas wilayah yang ditaklukkan. Menurut Toynbee, peradaban harus dihitung dalam hal pengetahuan, keindahan, dan kebudayaan yang telah disumbangkan kepada umat manusia dalam perjalanan mencapai tujuan realisasi hidup. Inilah apologi dasar yang diketengahkan I B Putu Suamba saat mengawali pemaparan panjang penulisan buku Dasar-Dasar Filsafat India.

Dengan mengutip AL Basham, editor buku A Cultural History of India (1975), Suamba, kini pengajar di Program Magister Ilmu Agama dan Kebudyaan Universitas Hindu Indonesia, mencatatkan empat tempat asal mula utama peradaban, dari mana elemen-elemen kebudayaan telah menyebar ke bagian-bagian lain dunia. Keempat tempat tersebut bergerak dari Timur ke Barat adalah Cina, anak benua India, dan wilayah Mediterania, khususnya Yunani dan Italia.

Di antara keempat ini, India telah memberikan sumbangan teramat besar daripada yang biasa diberikan kepadanya. Pada penilaian yang minimal, India secara dalam telah mempengaruhi kehidupan religius hampir sebagian besar bangsa Asia dan telah menyediakan elemen-elemen penting dalam budaya Asia Tenggara. Hingga kini Asia tetap mewakili satu pola besar pengaruh peradaban India.

Secara umum diyakini dunia Barat bahwa sebelum dampak pembelajaran Eropa, ilmu pengetahuan dan teknologi Timur telah sedikit berubah selama beberapa abad. Namun “kebijaksanaan Timur” tidak berubah selama mileniuman tahun, hal ini diperkirakan semata untuk menjaga varitas-varitas eternal yang dilupakan peradaban Barat. Di sisi lain, Timur tidak siap memasuki dunia modern yang kasar, tanpa panduan untuk masa yang tidak pasti dari negara-negara Barat yang lebih maju.

Kenapa Timur enggan memasuki peradaban modern? Suamba tak memberi pembahasan lanjut. Ia hanya menyajikan sketsa-sketsa psiko-religius peradaban Timur, khususnya yang diwakili India. Maklum buku ini tak hendak bicara tentang filsafat kebudayaan secara luas, utuh menyeluruh. Sejak awal buku ini memang diniatkan untuk menjabarkan dasar-dasar filsafat India.

Memang, sebagaimana diakui banyak pemerhati kebudayaan, India memiliki kontribusi penting bagi perkembangan peradaban dunia, terutama menyangkut bidang yang sangat luas, meliputi agama, etika, moral, kesenian, bahasa, dan ilmu pengetahuan. Tetapi penting dicermati, dalam konteks sejarah filsafat, India tidak memiliki kesadaran sejarah yang kuat, memori sejarah mereka sangatlah lemah. Dengan begitu jangan berharap memperoleh gambaran yang faktual, dan bisa dipertanggungjawabkan—seperti apa sesungguhnya perjalanan peradaban benua India yang besar itu.

Dengan demikian ketika hendak menulis sejarah filsafat India, tak jarang harus berhadapan dengan hutan belantara, pekat berliku. Justru itu, sebagaimana diakui penulis, mustahil bisa menulis kronologi yang tepat bagaimana pemikiran filsafat berkembang di India. Di sini jelas, pemikiran filsafat bukanlah pemikiran yang mati. Filsafat terang berkaitan dengan sejarah, bertemali dengan kehidupan intelektual, serta mencerminkan kondisi sosial pada zamanya.

Ini diakui filosuf S. Radhakrishnan. Menurut penulis buku Indian Philosophy ini, pendahulu-pendahulu pemikir India kerap terlalu asketik, tidak memperhatikan kronologi sejarah, untuk itu adalah tidak mungkin menulis masa-masa yang tepat kapan suatu peristiwa terjadi. Karena kekaburan periodisasi, tak salah bila kemudian muncul sejumlah tafsir kronologi perkembangan filsafat India. Dalam perdebatan filsafat, hal ini memang merupakan sistesa penting. Debat dalam tradisi filsafat selalu punya nalar khusus, bahwa tidak ada yang final dalam pergumulan filsafat. Sering sebuah akumulasi harus runtuh bila berhadapan dengan akumulasi lebih kompetitif, logis, dan terang. Namun perlu diingat, filsafat India bukan semata menyajikan “olah otak”, sebaliknya ia menjadi jalan realiasi diri. Dalam realisasi itu, pemungsian hati, perasaan, ketajaman citta-budhi, menjadi elemen penting menuju kebenaran tertinggi.

Kendatipun buku ini berniat menjabarkan dasar-dasar filsafat India, di sana sini ditemui kerumitan “nalar”, belum lagi kerumitan logika bahasa penulisnya. Sejumlah jabarannya terkesan hanyut dalam logika terjemahan, yang barangkali perlu disederhanakan. Bukankah di antara filosof yang paling berhasil adalah mereka yang bisa menyajikan pikiran dengan bahasa sederhana, runtut, dan mengalir? Namun sebagai pengantar memahami “hutan” filsafat India, buku ini memberi lumayan gambaran terstruktur, runtut, dan lengkap.


Tag : , ,

Agama dan Bingkai Dunia

By : Unknown
Ada tulisan menarik tentang agama dan bingkai dunia yang ditulis oleh isngadi marwah atmadja di kompas. yuk baca tulisannya. 





Agama dan Bingkai Dunia

Penulis: Isngadi Marwah Atmadja
Kompas, 
ABAD ke-21 yang baru kita tapak sekarang ini dapat dikatakan sebagai abad yang paling menyakitkan bagi kaum agamawi. Dikatakan demikian, mengingat komitmen keagamaan kerap kali menjadi faktor sentral dalam eskalasi kekerasan dan kejahatan di seluruh dunia.
Beberapa berita utama surat kabar di seluruh dunia menampilkan judul-judul : "Hindu dan Muslim di Ujung Peperangan Khasmir", "Kristen Serbia Diadili atas Pelaku Tindak Kekerasan Terhadap Muslim Bosnia", "Militan Yahudi Membunuh Puluhan Kaum Muslim di Kamp Pengungsian", "Militan Muslim Menewaskan Belasan Orang Israel Melalui Bom Bunuh Diri di Restoran Pizza Yerussalem", "Pemeriksaan Pengadilan Mulai Mengarah kepada Menteri Kristen Fundamentalis dalam Kasus Doktor Aborsi", dan masih banyak lagi.
Dalam koridor semacam ini menjadi sangat beralasan apabila ada kalangan yang mengatakan bahwa agama adalah sumber masalah dari dunia keagamaan yang cenderung bersifat anakronistik (tidak cocok untuk zaman tertentu) memang sangat berpotensi untuk memecah belah dan klaim kebenaran yang saling berlawanan dapat dipastikan akan berujung dengan konflik. Akan tetapi, menyatakan agama semata-mata sebagai sumber masalah jelas tidak arif dan a-historis, karena selama berabad-abad pula orang bisa melihat iman yang memperteguh kehidupan telah menopang dan memberi makna bagi jutaan orang. Maka sungguh tepat apabila ada yang menyatakan kalau berbicara tentang agama berarti berbicara tentang sebuah paradoks.
Hanya saja yang lebih mengkhawatirkan sekarang ini adalah paradoks tersebut berjalan semakin timpang. Beberapa dasawarsa terakhir ini kita dipaksa menyakinkan serangkaian tragedi semisal teror 11 September 2001, bom Bali, kasus gas beracun Aum Shinrikiyo pimpinan Asahara Shoko di Jepang, bom Oklahoma, kehancuran Afganistan, Perang Khasmir, kekerasan tentara Israel atas sipil Palestina, bunuh diri massal di People Temple pimpinan Jim Jones di Guyana, gerakan David Koresh di Texas, dan lain sebagainya. Atau dalam spekturm kecil keindonesiaan seperti kasus Poso, Ambon, Papua, Aceh, bom Marriott, bom Natal, dan yang semacamnya. Wajah teduh agama semakin hilang, Yang tersisa hanya kebringasan, dan hari-hari belakangan ini-- atas semua peristiwa yang terjadi-- agama pun dikenal sebagai sebuah nama yang membuat gentar dan cemas.
Paradok-paradoks itulah yang dijadikan konteks Kimball dalam menulus buku yang berjudul asli When Religion Becomes Evil ini. Gagasan guru besar agama di Universitas Wake Forest, Amerika Serikat (AS)  ini berangkat dari semua jejak historis yang menunjukkan kegagalan agama dalam memberikan keselamatan, cinta, dan perdamaian kepada umat manusia. Akan tetapi Kimball tidak mengajak kita untuk menyerah kepada semua pesimisme  itu, sebaliknya dengan optimisme yang agak berlebihan ia malah menunjukkan kalau kita bisa mengolah aneka paradoks yang ada, maka agama dalam milenium baru ini justru akan bisa menjadi jalan dan pemberi keselamatan, cinta serta perdamaian yang dibutuhkan manusia.
Sebagai kata kunci untuk bisa keluar dari jebakan sifat agama yang cenderung anakronistik dan suka berkonflik tersebut, agama harus kembali pada sifat autentiknya. Itulah modus keberagamaan yang tidak sekadar bersetia dengan doktrin skriptural yang statis, tetapi pada sebuah iman hidup dan menghidupi kemanusiaan universal. Agama autentik di sini harus dipahami sebagai lawan dari agama yang telah mengalami proses pengkorupan dan pembusukan. Proses pembusukan dan pengkorupan ini paling sering dimulai dengan menjadikan komponen religius-- yang sebenarnya hanya sarana-- menjadi tujuannya.
Misalnya agama Yahudi yang menjadikan terciptanya negara bagi bangsa Israel di tanah yang menjanjikan Tuhan, sebagai tujuan agamanya yang berarti harus mengusir bangsa Arab di tanah Palestina. Sedang umat Isalam di Palestina juga menganggap bahwa melindungi Masjid Al-Aqsa sebagai tujuan agamanya pula. Konflik ini sama persis dengan yang terjadi di India yang memperebutkan masjid bekas kuil Raja Ram di Ayodya. Demikian pula cita-cita terciptanya komunitas Kristiani yang eksklusif bagi agama Kristen di masa awal yang akhirnya berkembang menjadi memusuhi komunitas Yahudi adalah contoh yang lain lagi.
Beberapa problem yang bisa menjadi akar kekerasan religius tersebut dicoba ditelusuri dan dipetakan oleh Kimball sehingga semua sumber kinflik itu dapat dijelaskan dengn runtut sekaligus dicarikan beberapa jalan keluar yang agak cerdas. Khusus pada solusi konflik kepentingan politis yang menyeret-nyeret sentimen keagamaan, pakar sejarah dan perbandingan agama semit (Islam, Yahudi, Kristen) ini menyarankan dunia untuk belajar kepada sosok Mahatma Gandhi. Gandhi mempunyai tujuan jelas, sesuai dengan ajaran agamanya, namun dalam merealisasikan tujuannya itu ia tidak pernah mengecualikan kelompok mana pun. Ia malah mengajak kelompok dalam mewujudkan tujuannya. Lebih dari itu, Gandhi tidak pernah mengubah tujuan menjadi sarana, dan memutlakkan sarana menjadi tujuan.
Pada bagian lain Kimball juga melontarkan kritik yang cukup tajam dan beberapa doktrin teologi agama monoteisme. Menurut Kimball, sekarang ini teologi tidak lagi berhak bertanya, apakah umat di luar agamaku diselematakan atau tidak? Apabila bertanya bagaimana mereka bisa diselamatkan? Teologi harus meninggalkan perspektif sempit tersebut. Teologi mesti terbuka bahwa Tuhan mempunyai rencana keselamatan umat manusia yang menyeluruh. Rencana itu tidak pernah terduga dan mungkin agamaku tidak cukup menyelaminya secara sendirian. Maka teologi mesti mengambil posisi bahwa bisa jadi agama-agama lain mempunyai pengertian dan sumbangan untuk menyelami rencana keselamatan Tuhan tersebut, Dengan demikian teologi pluralisme religius bukan lagi menjadi teologi teoritis, melainkan teologi praktis. Dari sini inilah, menurut Kimball, dialog antar-agama bisa dimulai dengan terbuka dan jujur. Karena harus menyingkirkan keyakinan religiusnya yang paling tinggi (mengakui agamanya tidak sempurna), pendapat Kimball ini tampaknya masih sulit untuk bisa diterima oleh mayoritas kaum agamawi apa pun.
Lepas dari berbagai kontraversi yang menyelubunginya, dalam konteks keindonesiaan buku Kimball ini tampaknya sangat relevan untuk dibaca saat ini, yang sejak reformasi hingga sekarang selalu dihadapkan pada pelbagai krisis yang seakan tanpa solusi. Pelbagai masalah kita hadapi:krisis ekonomi, jurang antara yang kaya dan yang miskin yang semakin lebar, ancaman perpecahan bangsa, merekahnya gerakan-gerakan fundamentalis, dan tindak kekerasan merebak di mana-mana. Walaupun bukan sebagai penyebab satu-satunya, agama sering dituduh sebagai agen yang ikut memperparah semua krisis tersebut. Untuk semua itu, agama harus mawas diri. Menyingkirkan kekorupan dan kebusukannya sehingga bisa kembali pada roh autentiknya dan benar-benar bisa menyumbang sesuatu yang lain dituntut untuk mengatasi krisis bangsa ini, yakni perdamaian dan kesatuan antara warga negara. Dalam hal ini buku Tarmizi Taher yang berjudul Membumikan Ajaran Ketuhanan; Agama Dalam Tranformasi Bangsa (Hikmah/2003) sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai acuan teknis gagasan Kimball.
Paralel dengan semua pertimbangan yang ada, khusus dari sisi inklusifisme agama, buku Kimball ini menjadi semakin menarik apabila sempat diperbandingkan dengan buku The Heart of Islam Karya Seyyed Hossein Nashr (Mizan/2003; edisi Indonesia) Khaled Abouel-Fadl, The Place of Tolerance in Islam yang telah diterjemahkan dengan judul Cita dan Fakta Toleransi Islam; Puritanisme Versus Pluralisme (Arasy/2003), dan History of God-nya Karen Armstrong (Mizan/2001).



Pendidikan Karakter dan Persoalan Bangsa

By : Unknown
sebuah opini



                Di tengah-tengah carut marut persoalan bangsa, seperti korupsi, narkoba, kecurangan, dan ketidak adilan, kembali dipertanyakan peranan pendidikan dalam menjawab persoalan bangsa seperti apa ?
                Sebagian sekolah mulai berusaha untuk menjawabnya dengan mengubah pembelajarannya dengan tambahan waktu pelajaran yang dikhususkan untuk mendalami nilai-nilai tertentu. Seperti melakukan pendekatan agama, pendekatan emosional dan lain sebagainya saat menjelang pembelajaran dimulai. Tak luput juga peran pemerintah yang mulai berikhtiar dalam menjawab persoalan bangsa dengan cara mencantumkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam kurikulum 2013
                Kegelisahan dalam usaha membangun bangsa, tak lain dan tak bukan karena pendidikan mempunyai tanggung jawab dalam menciptakan peserta didik yang mempunyai watak dan karakter sesuai dengan yang dbutuhkan oleh masa depannya. Termasuk persoalan bangsa dan negara.
                Sebenarnya keinginan untuk merubah bangsa menjadi lebih baik bukan hanya diwacanakan sekarang saja. Jauh-jauh hari bapak pendidikan indonesia, Ki Hajar Dewantara telah melahirkan keinginan dan kesadarannya akan perubahan. Tentunya perjuangan Ki Hajar mendapatkan reaksi yang keras dari belanda yang mengakibatkannya diasingkan ke belanda. Sepulang dari pengasingan, Ki Hajar mulai mendirikan gerakan pendidikan melalui perguruan taman siswa.
                Usaha yang telah dilakukan Ki Hajar bukan hanya untuk dinikmati dalam sejarah saja, melainkan pula harus diteruskan oleh generasi berikutnya agar tujuan dari pendidikan bisa tercapai. Pada era itu, pendidikan karakter sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Mengingat pada jaman penjajahan, peran pendidikanlah yang mampu menjawab kebodohan sehingga mampu mencapai kemerdekaan sebagai pintu gerbang menuju masyarakat yang adil dan sejahtera. Nilai-nilai yang ditanamkan pada waktu itu antara lain adalah kepercayaan kepada kekuatan sendiri, cinta kebenaran dan kemerdekaan, solidaritas, kesadaran akan kesamaan derajat, serta pengaruh dari pimpinan yang sanggup berkarya dan memberi contoh.

Hari ini, pendidikan kembali dipertanyakan peranannya. Karena dalam kurun waktu yang sangat panjang, persoalan bangsa kita semakin bertambah. Kehebatan para pemimpin adalah wujud nyata sebagai orang terdidik. Kelicikan yang dilakukan para pemimpin pun merupakan wujud nyata tidak berkarakter.
Tantangan jaman tentu akan berbeda. Penanaman karakter jangan sampai terjebak pada ranah formal, sehingga guru melaksanakannya hanya karena untuk memenuh formalitas saja. Indikasinya, tidak sedikit guru yang mengeluh karena merasa kesulitan dalam hal penilaian karakter anak. Dikarenakan, peserta didik semakin kompleks dalam bergaul, masalah lingkungan yang mulai mengalami transisi modernitas, dan latar belakang keluarga yang tentunya memiliki metode tersendiri dalam mendidik karakter anak.
Selain itu, peserta didik mulai memasuki lingkungan remaja labil, serta didorong dengan perlengkapan teknologi canggih, menambah keluhan akan keberhasilannya proses pendidikan karakter. Bahkan tidak sedikit guru juga turut mengeluhkan hal itu. Terlihat dengan masih adanya sekolah-sekolah yang tidak mengantisipasi siwanya terkait maraknya kenakalan remaja. Seperti terjerumus narkoba, tawuran, pergaulan bebas, dan lain sebagainya.
Masalah pendidikan harus dijawab secara bersama dan merupakan tanggung jawab bersama juga yang harus diterapkan dengan dasar keinginan dan kesadaran. Persoalan bangsa akan terjawab dengan sendirinya, apabila pendidikan sudah mulai tertata rapi dan mampu melahirkan siswa yang berkarakter serta mampu menghadapi tantangan di jamannya kelak. Mengutip buku karya Abdurrachman, pendidikan watak menjadi salah satu sendi yang unsur-unsurnya terdiri atas kecakapan, tahu harga diri dan kewajiban, kekuatan sendiri, dan kekuatan rohani yang dikembangkan untuk berfaedah bagi masyarakat Indonesia.
Di tengah segala perubahan itu, seperti yang diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dalam pidato saat upacara Hari Pendidikan Nasional, secara institusional pemerintah memfasilitasi, tetapi secara moral tugas mendidik merupakan ikhtiar kolektif. Sebagai contoh, Pak Anies mengajak masyarakat beramai-ramai memerangi kecurangan dalam ujian nasional yang saat itu akan dijalankan para murid SMP.

Bandung 2015

.
Tag : ,

Jejaring sosial tampil sebagai penjajah era modern

By : Unknown
sebuah opini



                                Munurut   Professor J.A Barnes (Pada tahun 1954), Jejaring sosial merupakan sebuah sistem struktur sosial yang terdiri dari elemen-elemen individu atau organisasi. Jejaring sosial ini akan membuat mereka yang memiliki kesamaan sosialitas, mulai dari mereka yang telah dikenal sehari-hari sampai dengan keluarga bisa saling berhubungan.
Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa jejaring sosial pada intinya mempunyai manfaat untuk menyalurkan hubungan manusia satu sama lain pada jarak yang berjauhan. Namun disadari atau tidak, disamping manfaat baik tersebut banyak sekali manusia memggunakannya dengan hal-hal yang merujuk pada kesenangan semata. Seperti misalnya menggunakan jejaring sosial sebagai ajang modus kejahatan oleh kelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Tak jarang juga pengguna jejaring sosial memanfaatkannya dengan hanya sebatas iseng, kenalan, bercanda, hura-hura dan lain sebagainya. Ironinya, masyarakat semakin terlena dengan hal-hal yang berbau kesenangan semata dan belum lagi dengan sajian yang disuguhkan dengan begitu menggiurkan sehingga masyarakat semakin lebih intens hidup dalam dunia maya dan melupakan dunia nyata.
                Jika kita terawang jaman dahulu kala, yang namanya penjajahan adalah suatu mimpi buruk bagi bangsa kita. Akan tetapi dalam konteks penjajahan yang dialami oleh ndonesia tentu berbeda dengan penjajahan era modern yang dimaksud dengan internet dan teknologi. Jika dulu penjajah bangsa ini adalah para penjajah yang jelas wujud dan rupanya, tapi yang terjadi saat ini, penjajah yang tampil adalah bukan mereka yang bersenjata lengkap lagi, namun mereka hadir dengan candu kesenangan dan kemalasan yang berwujud lebih absurd seperti halnya sosial media. Dampaknya, akan terjadi proses dehumanisasi yang bukan lain merupakan hal yang sama adanya dengan jaman penjajahan dulu.
                Kita beranjak pada proses dehumanisasi. Jaman penjajahan dulu memperlakukan manusia dengan sewena-wena, memperbudak, kekerasan, pemerasan, dan lain-lain dengan tujuan memiliki segala harta kekayaan negeri ini, lalu pada era modern jejaring sosial memperlakukan manusia yang lebih akrab berhubungan dalam dunia maya dibanding dengan hubungan dalam dunia nyata. Tentu saja hal tersebut merupakan upaya penghilangan nilai-niai kemanusiaan yang dengan disengaja dan terencana agar masyarakat modern cenderung pemalas, hura-hura, dan mudah untuk diadu domba. Hasilnya pun sama, sebagian kekayaan masyarakat berupa uang akan dengan mudah didapat oleh bangsa asing. Sementara itu, ditengah-tengah masyarakat yang hedon, kekayaan alam kita pun akan mudah diserapnya dengan memasang invenstor-investor asing di indonesia. Kalau harta perorangan sudah dirampas, harta alam pun dirampas, maka sama halnya dengan penjajahan dan pembodohan yang dilakukan jaman dulu. Hanya saja caranya lebih halus.
                Hal yang mengerikan lagi, pengguna internet di indonesia akan terus meningkat. Sesuai dengan targetan kementrian komunikasi dan informatika (kemenkoninfo) bahwa pada akhir tahun 2015, pengguna internet di indonesia diharapkan mencapai angka 150 juta pengguna atau 60 % dari jumlah penduduk yang didominasi oleh pengguna jejaring sosial lalu pengguna terbesarnya adalah kalangan remaja. Jumlah angka yang sangat mengejutkan. Bayangkan apabila jumlah segitu banyaknya, lalu semuanya terlibat aktif dalam hubungan jejaring sosial dan menghasilkan masyarakat modern yang meninggalkan dunia nyatanya, maka bangsa ini akan menjadi autis dibuatnya. Hal ini yang harus kita waspadai bersama. Dengan jumlah pecandu jejaring sosial yang besar, akan membuka ruang-ruang konflik horizontal yang dipicu oleh hal-hal sepele. Serta lama kelamaan akan berdampak pada kehidupan nyata.
Belum lagi kaum muda yang seharusnya menjadi tonggak penerus estafet kepemimpinan indonesia, akan menjadi kaku karena tidak dibiasakan interaksi di kalangan sosial. Bahkan dengan bantuan internet yang begitu instan, kenakalan anak muda akan mudah tersalurkan. Kebanyakan pemuda ketika disodorkan kesenangan paling diminatinya. Apa jadinya bangsa ini jika sebagian besar calon pemimpinnya seperti itu ?. Sebab banyak sekali pepatah yang menjadikan pemuda sebagai lambang kekuatan terbesar. Bahkan bapak Ir Soekarno pun berkata “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan ku ubah dunia.” Sudah sangat jelas peranan pemuda dalam membangun peradaban begitu besar. Maka harus ada inisiatif yang dilakukan kaum muda untuk menghadapi tantangan tersebut. .
Saya kutip perkataan mas Emha Ainun Najib atau Cak Nun seorang budayawan dalam kongkow budayanya, beliau mengatakan “bahwa bangsa indonesia ratusan tahun dijajah oleh asing, kita masih tetap tegar melawan dan sampai mencpai kemerdekaannya bukan karena didorong oleh peralatan pertempuran yang lengkap, akan tetapi karena kita dulu bersatu dan tidak mudah dipecah belah. Alat pengikatnya ialah budaya dan religius.”
                Pandangan saya, dulu kita dijajah tetap bersatu dan diketahui oleh bangsa asing bahwa persatuan bangsa ini diikat oleh budaya dan agama yang kental, maka diciptakanlah konspirasi baru dengan menyuguhkan internet yang didalamnya banyak hal-hal yang justru lebih membuat candu pemakainya, sehingga menimbulkan disintegrasi di setiap sektor, jauh dari perilaku agama dan melunturkan nilai-nilai kebudayaan. Sementara hura-hura, mencari kenikmatan sesaat, menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh bukanlah bagian dari nilai-nilai budaya kita. Bukan pula nilai-nilai religius yang diwarisi oleh pendahulu kita. Sehingga dengan mudah bangsa ini diutak-atik dan diadu dombakan. Singkatnya penjajahan dengan tujuan yang sama tapi memakai kendaraan dan cara yang baru.

                Sangat disayangkan apabila dijaman milenium ini kita justru terjebak oleh arus global. Karena akan mudah diadu domba. Akan tetapi kita juga jangan terlalu antipati pada arus global, karena konsekuensinya akan tertinggal informasi. Justru kita harus melek keduanya dan tentunya harus punya skala prioritas diantaranya. Hal-hal yang disebut diatas dapat dibendung hanya dengan keteguhan para pemakainya dalam nilai kebudayaan dan religius. Kalo tidak, maka lambat laun peradaban bangsa ini yang dibangun oleh pendahulu kita akan semakin terkikis dan yang mengerikannya lagi, peradaban macam apa yang akan kita berikan kepada anak cucu kita kelak.


Bandung 2015
Tag : ,

peringati hari ibu, Kopri pmii uninus bagikan bunga dan galang dana.

By : Unknown
Memperingati hari ibu, Kopri pmii uninus membagikan bunga dan menggalang dana untuk panti jompo.





Bandung 22, desember 2016.


Hari ibu diperingati tiap tahun tepatnya pada tgl 22 desember. Dalam memperingatinya, masyarat mengadakan beragam kegiatan. Dalam hal ini, korp pergerakan mahasiswa islam indonesia putri (kopri) komisariat uninus kota bandung turut berpartisipasi dalam memperingati hari ibu. Rangkaian kegian nya dengan memberikan bunga untuk semua ibu yg sedang dalam perjalanan di sekitar stopan jl. Soekarno-hatta. Selain membagikan bunga, agenda memperingati hari ibu juga diperingati dengan menggalang dana yang nantinya akan disalurkan ke panti jompo.


Seluruh agenda peringatan hari ibu, sepenuhnya dilaksanakan dalam semangat menjunjung tinggi rasa kasih sayang pada seluruh ibu. karena seluruh ibu di indonesia merupakan orang hebat, karena tanpa nya kita tdk akan pernah ada.



Salam pergerakan !
Tag : , ,

- Copyright © Pembelajar - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Tubagus Bakhtiar -