Cara membatasi filsafat
By : Unknown
Cara membatasi filsafat
Kerana sangat luasnya lapangan ilmu filsafat,
maka menjadi sukar pula
orang mempelajarinya, dari mana hendak
dimulai dan bagaimana cara
membahasnya agar orang yang mempelajarinya
segera dapat mengetahuinya.
Pada zaman modern ini pada umunya orang
telah sepakat untuk mempelajari
ilmu filsafat itu dengan dua cara, yaitu
dengan memplajari sejarah
perkembangan sejak dahulu kala hingga
sekarang (metode historis), dan
dengan cara mempelajari isi atau lapangan
pembahasannya yang diatur dalam
bidang-bidang tertentu (metode sistematis).
Dalam metode historis orang mempelajari
perkembangan aliran-aliran
filsafat sejak dahulu kala sehingga
sekarang. Di sini dikemukakan riwayat
hidup tokoh-tokoh filsafat di segala masa,
bagaimana timbulnya aliran
filsafatnya tentang logika, tentang
metafisika, tentang etika, dan tentang
keagamaan. Seperti juga pembicaraan tentang
zaman purba dilakukan secara
berurutan (kronologis) menurut waktu masing
masing.
Dalam metode sistematis orang membahas
langsung isi persoalan ilmu
filsafat itu dengan tidak mementingkan
urutan zaman perjuangannya
masing-masing. Orang membagi persoalan ilmu
filsafat itu dalam
bidang-bidang yang tertentu. Misalnya,
dalam bidang logika dipersoalkan
mana yang benar dan mana yang salah menurut
pertimbangan akal, bagaimana
cara berpikir yang benar dan mana yang
salah. Kemudian dalam bidang etika
dipersoalkan tentang manakah yang baik dan
manakah yang baik dan manakah
yang buruk dalam pembuatan manusia. Di sini
tidak dibicarakan
persoalan-persoalan logika atau metafisika.
Dalam metode sistematis ini
para filsuf kita konfrontasikan satu sama
lain dalam bidang-bidang
tertentu. Misalnya dalam soal etika kita
konfrontasikan saja pendapat
pendapat filsuf zaman klasik (Plato dan
Aristoteles) dengan pendapat
filsuf zaman pertengahan (Al-Farabi atau
Thimas Aquinas), dan pendapat
filsuf zaman 'aufklarung' (Kant dan
lain-lain) dengan pendapat-pendapat
filsuf dewasa ini (Jaspers dan Marcel)
dengan tidak usah mempersoalkan
tertib periodasi masing-masing. Begitu juga
dalam soal-soal logika,
metafisika, dan lain-lain.
Pengertian Filsafat
By : Unknown
Pengertian Filsafat
1. Arti filsafat
Apakah filsafat itu? Bagaimana definisinya?
Demikianlah pertanyaan pertama
yang kita hadapi tatkala akan mempelajari
ilmu filsafat. Istilah
"filsafat" dapat ditinjau dari
dua segi, yakni:
a. Segi semantik: perkataan filsafat
berasal dari bahasa Arab 'falsafah',
yang berasal dari bahasa Yunani,
'philosophia', yang berarti 'philos' =
cinta, suka (loving), dan 'sophia' =
pengetahuan, hikmah(wisdom). Jadi
'philosophia' berarti cinta kepada
kebijaksanaan atau cinta kepada
kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang
berfilsafat akan menjadi
bijaksana. Orang yang cinta kepada
pengetahuan disebut 'philosopher',
dalam bahasa Arabnya 'failasuf".
Pecinta pengetahuan ialah orang yang
menjadikan pengetahuan sebagai tujuan
hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan
dirinya kepada pengetahuan.
b. Segi praktis : dilihat dari pengertian
praktisnya, filsafat bererti
'alam pikiran' atau 'alam berpikir'.
Berfilsafat artinya berpikir. Namun
tidak semua berpikir bererti berfilsafat.
Berfilsafat adalah berpikir
secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah
semboyan mengatakan bahwa
"setiap manusia adalah filsuf".
Semboyan ini benar juga, sebab semua
manusia berpikir. Akan tetapi secara umum
semboyan itu tidak benar, sebab
tidak semua manusia yang berpikir adalah
filsuf.
Filsuf hanyalah orang yang memikirkan
hakikat segala sesuatu dengan
sungguh-sungguh dan mendalam.
Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal
seorang manusia yang mencari dan
memikirkan suatu kebenaran dengan
sedalam-dalamnya. Dengan kata
lain: Filsafat adalah ilmu yang mempelajari
dengan sungguh-sungguh hakikat
kebenaran segala sesuatu.
Beberapa definisi
Kerana luasnya lingkungan pembahasan ilmu
filsafat, maka tidak mustahil
kalau banyak di antara para filsafat
memberikan definisinya secara
berbeda-beda. Coba perhatikan
definisi-definisi ilmu filsafat dari filsuf
Barat dan Timur di bawah ini:
a. Plato (427SM - 347SM) seorang filsuf
Yunani yang termasyhur murid
Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan:
Filsafat adalah pengetahuan
tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan
yang berminat mencapai kebenaran
yang asli).
b. Aristoteles (384 SM - 322SM) mengatakan
: Filsafat adalah ilmua
pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang
di dalamnya terkandung ilmu-ilmu
metafisika, logika, retorika, etika,
ekonomi, politik, dan estetika
(filsafat menyelidiki sebab dan asas segala
benda).
c. Marcus Tullius Cicero (106 SM - 43SM)
politikus dan ahli pidato Romawi,
merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan
tentang sesuatu yang mahaagung dan
usaha-usaha untuk mencapainya.
d. Al-Farabi (meninggal 950M), filsuf
Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina,
mengatakan : Filsafat adalah ilmu
pengetahuan tentang alam maujud dan
bertujuan menyelidiki hakikat yang
sebenarnya.
e. Immanuel Kant (1724 -1804), yang sering
disebut raksasa pikir Barat,
mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan
pangkal segala pengetahuan yang
mencakup di dalamnya empat persoalan,
yaitu:
" apakah yang dapat kita ketahui?
(dijawab oleh metafisika)
" apakah yang dapat kita kerjakan?
(dijawab oleh etika)
" sampai di manakah pengharapan kita?
(dijawab oleh antropologi)
f. Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar
psikologi UI, menyimpulkan: Filsafat
adalah suatu ikhtiar untuk berpikir
radikal, artinya mulai dari radiksnya
suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang
hendak dimasalahkan. Dan dengan
jalan penjajakan yang radikal itu filsafat
berusaha untuk sampai kepada
kesimpulan-kesimpulan yang universal.
g. Drs H. Hasbullah Bakry merumuskan: ilmu
filsafat adalah ilmu yang
menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam
mengenai ketuhanan, alam
semesta dan manusia, sehingga dapat
menghasilkan pengetahuan tentang
bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat
dicapai oleh akal manusia, dan
bagaimana sikap manusia itu seharusnya
setelah mencapai pengetahuan itu.
Kesimpulan
Setelah mempelajari rumusan-rumusan
tersebut di atas dapatlah disimpulkan
bahwa:
a. Filsafat adalah 'ilmu istimewa' yang
mencoba menjawab masalah-masalah
yang tidak dapat dijawab oleh ilmu
pengetahuan biasa kerana
masalah-masalah tersebut di luar jangkauan
ilmu pengetahuan biasa.
b. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia
dengan akal budinya untuk
memahami atau mendalami secara radikal dan
integral serta sistematis
hakikat sarwa yang ada, yaitu:
" hakikat Tuhan,
" hakikat alam semesta, dan
" hakikat manusia,
serta sikap manusia sebagai konsekuensi
dari paham tersebut. Perlu
ditambah bahwa definisi-definisi itu
sebenarnya tidak bertentangan, hanya
cara mengesahkannya saja yang berbeda.
2. Tujuan, fungsi dan manfaat filsafat
Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah
suatu usaha memahami alam
semesta, maknanya dan nilainya. Apabila
tujuan ilmu adalah kontrol, dan
tujuan seni adalah kreativitas,
kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi
dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah
pengertian dan kebijaksanaan
(understanding and wisdom).
Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi
kepada kita pengatahuan, dan
filsafat memberikan hikmah. Filsafat
memberikan kepuasan kepada keinginan
manusia akan pengetahuan yang tersusun
dengan tertib, akan kebenaran.
S. Takdir Alisyahbana menulis dalam
bukunya: filsafat itu dapat memberikan
ketenangan pikiran dan kemantapan hati,
sekalipun menghadapi maut. Dalam
tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran)
itulah letaknya kebesaran,
kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat
di antara kerja manusia yang
lain. Kebenaran dalam arti yang
sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya
baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan
satu-satunya. Bagi manusia,
berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya
seinsaf-insafnya,
senetral-netralnya dengan perasaan tanggung
jawab, yakni tanggung jawab
terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya,
baik Tuhan, alam, atau pun
kebenaran.
Radhakrishnan dalam bukunya, History of
Philosophy, menyebutkan: Tugas
filsafat bukanlah sekadar mencerminkan
semangat masa ketika kita hidup,
melainkan membimbingnya maju. Fungsi
filsafat adalah kreatif, menetapkan
nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah
dan menuntun pada jalan
baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan
keyakinan kepada kita untuk
menompang dunia baru, mencetak
manusia-manusia yang menjadikan
penggolongan-penggolongan berdasarkan
'nation', ras, dan keyakinan
keagamaan mengabdi kepada cita mulia
kemanusiaan. Filsafat tidak ada
artinya sama sekali apabila tidak universal,
baik dalam ruang lingkupnya
maupun dalam semangatnya.
Studi filsafat harus membantu orang-orang
untuk membangun keyakinan
keagamaan atas dasar yang matang secara
intelektual. Filsafat dapat
mendukung kepercayaan keagamaan seseorang,
asal saja kepercayaan tersebut
tidak bergantung pada konsepsi prailmiah
yang usang, yang sempit dan yang
dogmatis. Urusan (concerns) utama agama
ialah harmoni, pengaturan, ikatan,
pengabdian, perdamaian, kejujuran,
pembebasan, dan Tuhan.
Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata,
yaitu mempelajari filsafat
adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka
H. De Vos berpendapat bahwa
filsafat tidak hanya cukup diketahui,
tetapi harus dipraktekkan dalam
hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan
bahwa filsafat akan memberikan
kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang
dibutuhkan untuk hidup secara
baik. Filsafat harus mengajar manusia,
bagaimana ia harus hidup secara
baik. Filsafat harus mengajar manusia,
bagaimana ia harus hidup agar dapat
menjadi manusia yang baik dan bahagia.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
tujuan filsafat adalah mencari
hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam
logika (kebenaran berpikir), etika
(berperilaku), maupun metafisik (hakikat
keaslian).
Resensi buku Dasar-dasar Filsafat India
By : Unknown
Resensi buku buku dasar-dasar filsafat india
Judul Buku : Dasar-dasar Filsafat India
Penulis : IB Putu Suamba
Penerbit : Universitas Hindu Indonesia
Tebal : xv + 420 hlm, Tahun 2003
Penulis : IB Putu Suamba
Penerbit : Universitas Hindu Indonesia
Tebal : xv + 420 hlm, Tahun 2003
Jika sekadar ingin mendapat pengantar untuk memahami “hutan” filsafat India, buku ini memberi lumayan gambaran terstruktur, runtut, dan lengkap. Tapi, tidak sebagai bacaan lanjut dan mendalam.
Sejarah mengalir terus, peradaban timbul
tenggelam. Sebutlah, misalnya, kebesaran peradaban Iran, Yunani Roma, dan
Byzantium hilang dalam bebarapa abad. Prancis modern berakhir dari Treaty of
Westphalia pada limit waktu 1648 hingga 1942.
Tapi di belahan dunia lain Cina dan India mencatat peradaban gemilang dalam suatu oase panjang. Di sini penting disimak pemikiran sejarawan Inggris, Arnold A Toynbee, bahwa kebesaran suatu peradaban tidak bisa diukur dari lamanya manusia menjegal manusia lain dalam pertempuran, dari kekayaan yang dirampas, atau penghancuran kebudayaan atas wilayah yang ditaklukkan. Menurut Toynbee, peradaban harus dihitung dalam hal pengetahuan, keindahan, dan kebudayaan yang telah disumbangkan kepada umat manusia dalam perjalanan mencapai tujuan realisasi hidup. Inilah apologi dasar yang diketengahkan I B Putu Suamba saat mengawali pemaparan panjang penulisan buku Dasar-Dasar Filsafat India.
Dengan mengutip AL Basham, editor buku A Cultural History of India (1975), Suamba, kini pengajar di Program Magister Ilmu Agama dan Kebudyaan Universitas Hindu Indonesia, mencatatkan empat tempat asal mula utama peradaban, dari mana elemen-elemen kebudayaan telah menyebar ke bagian-bagian lain dunia. Keempat tempat tersebut bergerak dari Timur ke Barat adalah Cina, anak benua India, dan wilayah Mediterania, khususnya Yunani dan Italia.
Di antara keempat ini, India telah memberikan sumbangan teramat besar daripada yang biasa diberikan kepadanya. Pada penilaian yang minimal, India secara dalam telah mempengaruhi kehidupan religius hampir sebagian besar bangsa Asia dan telah menyediakan elemen-elemen penting dalam budaya Asia Tenggara. Hingga kini Asia tetap mewakili satu pola besar pengaruh peradaban India.
Secara umum diyakini dunia Barat bahwa sebelum dampak pembelajaran Eropa, ilmu pengetahuan dan teknologi Timur telah sedikit berubah selama beberapa abad. Namun “kebijaksanaan Timur” tidak berubah selama mileniuman tahun, hal ini diperkirakan semata untuk menjaga varitas-varitas eternal yang dilupakan peradaban Barat. Di sisi lain, Timur tidak siap memasuki dunia modern yang kasar, tanpa panduan untuk masa yang tidak pasti dari negara-negara Barat yang lebih maju.
Kenapa Timur enggan memasuki peradaban modern? Suamba tak memberi pembahasan lanjut. Ia hanya menyajikan sketsa-sketsa psiko-religius peradaban Timur, khususnya yang diwakili India. Maklum buku ini tak hendak bicara tentang filsafat kebudayaan secara luas, utuh menyeluruh. Sejak awal buku ini memang diniatkan untuk menjabarkan dasar-dasar filsafat India.
Memang, sebagaimana diakui banyak pemerhati kebudayaan, India memiliki kontribusi penting bagi perkembangan peradaban dunia, terutama menyangkut bidang yang sangat luas, meliputi agama, etika, moral, kesenian, bahasa, dan ilmu pengetahuan. Tetapi penting dicermati, dalam konteks sejarah filsafat, India tidak memiliki kesadaran sejarah yang kuat, memori sejarah mereka sangatlah lemah. Dengan begitu jangan berharap memperoleh gambaran yang faktual, dan bisa dipertanggungjawabkan—seperti apa sesungguhnya perjalanan peradaban benua India yang besar itu.
Dengan demikian ketika hendak menulis sejarah filsafat India, tak jarang harus berhadapan dengan hutan belantara, pekat berliku. Justru itu, sebagaimana diakui penulis, mustahil bisa menulis kronologi yang tepat bagaimana pemikiran filsafat berkembang di India. Di sini jelas, pemikiran filsafat bukanlah pemikiran yang mati. Filsafat terang berkaitan dengan sejarah, bertemali dengan kehidupan intelektual, serta mencerminkan kondisi sosial pada zamanya.
Ini diakui filosuf S. Radhakrishnan. Menurut penulis buku Indian Philosophy ini, pendahulu-pendahulu pemikir India kerap terlalu asketik, tidak memperhatikan kronologi sejarah, untuk itu adalah tidak mungkin menulis masa-masa yang tepat kapan suatu peristiwa terjadi. Karena kekaburan periodisasi, tak salah bila kemudian muncul sejumlah tafsir kronologi perkembangan filsafat India. Dalam perdebatan filsafat, hal ini memang merupakan sistesa penting. Debat dalam tradisi filsafat selalu punya nalar khusus, bahwa tidak ada yang final dalam pergumulan filsafat. Sering sebuah akumulasi harus runtuh bila berhadapan dengan akumulasi lebih kompetitif, logis, dan terang. Namun perlu diingat, filsafat India bukan semata menyajikan “olah otak”, sebaliknya ia menjadi jalan realiasi diri. Dalam realisasi itu, pemungsian hati, perasaan, ketajaman citta-budhi, menjadi elemen penting menuju kebenaran tertinggi.
Kendatipun buku ini berniat menjabarkan dasar-dasar filsafat India, di sana sini ditemui kerumitan “nalar”, belum lagi kerumitan logika bahasa penulisnya. Sejumlah jabarannya terkesan hanyut dalam logika terjemahan, yang barangkali perlu disederhanakan. Bukankah di antara filosof yang paling berhasil adalah mereka yang bisa menyajikan pikiran dengan bahasa sederhana, runtut, dan mengalir? Namun sebagai pengantar memahami “hutan” filsafat India, buku ini memberi lumayan gambaran terstruktur, runtut, dan lengkap.
Tapi di belahan dunia lain Cina dan India mencatat peradaban gemilang dalam suatu oase panjang. Di sini penting disimak pemikiran sejarawan Inggris, Arnold A Toynbee, bahwa kebesaran suatu peradaban tidak bisa diukur dari lamanya manusia menjegal manusia lain dalam pertempuran, dari kekayaan yang dirampas, atau penghancuran kebudayaan atas wilayah yang ditaklukkan. Menurut Toynbee, peradaban harus dihitung dalam hal pengetahuan, keindahan, dan kebudayaan yang telah disumbangkan kepada umat manusia dalam perjalanan mencapai tujuan realisasi hidup. Inilah apologi dasar yang diketengahkan I B Putu Suamba saat mengawali pemaparan panjang penulisan buku Dasar-Dasar Filsafat India.
Dengan mengutip AL Basham, editor buku A Cultural History of India (1975), Suamba, kini pengajar di Program Magister Ilmu Agama dan Kebudyaan Universitas Hindu Indonesia, mencatatkan empat tempat asal mula utama peradaban, dari mana elemen-elemen kebudayaan telah menyebar ke bagian-bagian lain dunia. Keempat tempat tersebut bergerak dari Timur ke Barat adalah Cina, anak benua India, dan wilayah Mediterania, khususnya Yunani dan Italia.
Di antara keempat ini, India telah memberikan sumbangan teramat besar daripada yang biasa diberikan kepadanya. Pada penilaian yang minimal, India secara dalam telah mempengaruhi kehidupan religius hampir sebagian besar bangsa Asia dan telah menyediakan elemen-elemen penting dalam budaya Asia Tenggara. Hingga kini Asia tetap mewakili satu pola besar pengaruh peradaban India.
Secara umum diyakini dunia Barat bahwa sebelum dampak pembelajaran Eropa, ilmu pengetahuan dan teknologi Timur telah sedikit berubah selama beberapa abad. Namun “kebijaksanaan Timur” tidak berubah selama mileniuman tahun, hal ini diperkirakan semata untuk menjaga varitas-varitas eternal yang dilupakan peradaban Barat. Di sisi lain, Timur tidak siap memasuki dunia modern yang kasar, tanpa panduan untuk masa yang tidak pasti dari negara-negara Barat yang lebih maju.
Kenapa Timur enggan memasuki peradaban modern? Suamba tak memberi pembahasan lanjut. Ia hanya menyajikan sketsa-sketsa psiko-religius peradaban Timur, khususnya yang diwakili India. Maklum buku ini tak hendak bicara tentang filsafat kebudayaan secara luas, utuh menyeluruh. Sejak awal buku ini memang diniatkan untuk menjabarkan dasar-dasar filsafat India.
Memang, sebagaimana diakui banyak pemerhati kebudayaan, India memiliki kontribusi penting bagi perkembangan peradaban dunia, terutama menyangkut bidang yang sangat luas, meliputi agama, etika, moral, kesenian, bahasa, dan ilmu pengetahuan. Tetapi penting dicermati, dalam konteks sejarah filsafat, India tidak memiliki kesadaran sejarah yang kuat, memori sejarah mereka sangatlah lemah. Dengan begitu jangan berharap memperoleh gambaran yang faktual, dan bisa dipertanggungjawabkan—seperti apa sesungguhnya perjalanan peradaban benua India yang besar itu.
Dengan demikian ketika hendak menulis sejarah filsafat India, tak jarang harus berhadapan dengan hutan belantara, pekat berliku. Justru itu, sebagaimana diakui penulis, mustahil bisa menulis kronologi yang tepat bagaimana pemikiran filsafat berkembang di India. Di sini jelas, pemikiran filsafat bukanlah pemikiran yang mati. Filsafat terang berkaitan dengan sejarah, bertemali dengan kehidupan intelektual, serta mencerminkan kondisi sosial pada zamanya.
Ini diakui filosuf S. Radhakrishnan. Menurut penulis buku Indian Philosophy ini, pendahulu-pendahulu pemikir India kerap terlalu asketik, tidak memperhatikan kronologi sejarah, untuk itu adalah tidak mungkin menulis masa-masa yang tepat kapan suatu peristiwa terjadi. Karena kekaburan periodisasi, tak salah bila kemudian muncul sejumlah tafsir kronologi perkembangan filsafat India. Dalam perdebatan filsafat, hal ini memang merupakan sistesa penting. Debat dalam tradisi filsafat selalu punya nalar khusus, bahwa tidak ada yang final dalam pergumulan filsafat. Sering sebuah akumulasi harus runtuh bila berhadapan dengan akumulasi lebih kompetitif, logis, dan terang. Namun perlu diingat, filsafat India bukan semata menyajikan “olah otak”, sebaliknya ia menjadi jalan realiasi diri. Dalam realisasi itu, pemungsian hati, perasaan, ketajaman citta-budhi, menjadi elemen penting menuju kebenaran tertinggi.
Kendatipun buku ini berniat menjabarkan dasar-dasar filsafat India, di sana sini ditemui kerumitan “nalar”, belum lagi kerumitan logika bahasa penulisnya. Sejumlah jabarannya terkesan hanyut dalam logika terjemahan, yang barangkali perlu disederhanakan. Bukankah di antara filosof yang paling berhasil adalah mereka yang bisa menyajikan pikiran dengan bahasa sederhana, runtut, dan mengalir? Namun sebagai pengantar memahami “hutan” filsafat India, buku ini memberi lumayan gambaran terstruktur, runtut, dan lengkap.
Agama dan Bingkai Dunia
By : Unknown
Ada tulisan menarik tentang agama dan bingkai dunia yang ditulis oleh isngadi marwah atmadja di kompas. yuk baca tulisannya.
Agama dan Bingkai Dunia
|
|
Penulis: Isngadi Marwah Atmadja
Kompas, |
ABAD ke-21 yang baru kita tapak sekarang
ini dapat dikatakan sebagai abad yang paling menyakitkan bagi kaum agamawi.
Dikatakan demikian, mengingat komitmen keagamaan kerap kali menjadi faktor
sentral dalam eskalasi kekerasan dan kejahatan di seluruh dunia.
Beberapa berita utama surat kabar di
seluruh dunia menampilkan judul-judul : "Hindu dan Muslim di Ujung
Peperangan Khasmir", "Kristen Serbia Diadili atas Pelaku Tindak
Kekerasan Terhadap Muslim Bosnia", "Militan Yahudi Membunuh Puluhan
Kaum Muslim di Kamp Pengungsian", "Militan Muslim Menewaskan Belasan
Orang Israel Melalui Bom Bunuh Diri di Restoran Pizza Yerussalem",
"Pemeriksaan Pengadilan Mulai Mengarah kepada Menteri Kristen
Fundamentalis dalam Kasus Doktor Aborsi", dan masih banyak lagi.
Dalam koridor semacam ini menjadi sangat
beralasan apabila ada kalangan yang mengatakan bahwa agama adalah sumber
masalah dari dunia keagamaan yang cenderung bersifat anakronistik (tidak cocok
untuk zaman tertentu) memang sangat berpotensi untuk memecah belah dan klaim
kebenaran yang saling berlawanan dapat dipastikan akan berujung dengan konflik.
Akan tetapi, menyatakan agama semata-mata sebagai sumber masalah jelas tidak arif
dan a-historis, karena selama berabad-abad pula orang bisa melihat iman yang
memperteguh kehidupan telah menopang dan memberi makna bagi jutaan orang. Maka
sungguh tepat apabila ada yang menyatakan kalau berbicara tentang agama berarti
berbicara tentang sebuah paradoks.
Hanya saja yang lebih mengkhawatirkan
sekarang ini adalah paradoks tersebut berjalan semakin timpang. Beberapa
dasawarsa terakhir ini kita dipaksa menyakinkan serangkaian tragedi semisal
teror 11 September 2001, bom Bali, kasus gas beracun Aum Shinrikiyo pimpinan
Asahara Shoko di Jepang, bom Oklahoma, kehancuran Afganistan, Perang Khasmir,
kekerasan tentara Israel atas sipil Palestina, bunuh diri massal di People
Temple pimpinan Jim Jones di Guyana, gerakan David Koresh di Texas, dan lain sebagainya.
Atau dalam spekturm kecil keindonesiaan seperti kasus Poso, Ambon, Papua, Aceh,
bom Marriott, bom Natal, dan yang semacamnya. Wajah teduh agama semakin hilang,
Yang tersisa hanya kebringasan, dan hari-hari belakangan ini-- atas semua
peristiwa yang terjadi-- agama pun dikenal sebagai sebuah nama yang membuat
gentar dan cemas.
Paradok-paradoks itulah yang dijadikan
konteks Kimball dalam menulus buku yang berjudul asli When Religion Becomes
Evil ini. Gagasan guru besar agama di Universitas Wake Forest, Amerika Serikat
(AS) ini berangkat dari semua jejak
historis yang menunjukkan kegagalan agama dalam memberikan keselamatan, cinta,
dan perdamaian kepada umat manusia. Akan tetapi Kimball tidak mengajak kita untuk
menyerah kepada semua pesimisme itu,
sebaliknya dengan optimisme yang agak berlebihan ia malah menunjukkan kalau
kita bisa mengolah aneka paradoks yang ada, maka agama dalam milenium baru ini
justru akan bisa menjadi jalan dan pemberi keselamatan, cinta serta perdamaian
yang dibutuhkan manusia.
Sebagai kata kunci untuk bisa keluar dari
jebakan sifat agama yang cenderung anakronistik dan suka berkonflik tersebut,
agama harus kembali pada sifat autentiknya. Itulah modus keberagamaan yang
tidak sekadar bersetia dengan doktrin skriptural yang statis, tetapi pada
sebuah iman hidup dan menghidupi kemanusiaan universal. Agama autentik di sini
harus dipahami sebagai lawan dari agama yang telah mengalami proses pengkorupan
dan pembusukan. Proses pembusukan dan pengkorupan ini paling sering dimulai dengan
menjadikan komponen religius-- yang sebenarnya hanya sarana-- menjadi
tujuannya.
Misalnya agama Yahudi yang menjadikan
terciptanya negara bagi bangsa Israel di tanah yang menjanjikan Tuhan, sebagai
tujuan agamanya yang berarti harus mengusir bangsa Arab di tanah Palestina.
Sedang umat Isalam di Palestina juga menganggap bahwa melindungi Masjid Al-Aqsa
sebagai tujuan agamanya pula. Konflik ini sama persis dengan yang terjadi di
India yang memperebutkan masjid bekas kuil Raja Ram di Ayodya. Demikian pula cita-cita
terciptanya komunitas Kristiani yang eksklusif bagi agama Kristen di masa awal
yang akhirnya berkembang menjadi memusuhi komunitas Yahudi adalah contoh yang
lain lagi.
Beberapa problem yang bisa menjadi akar
kekerasan religius tersebut dicoba ditelusuri dan dipetakan oleh Kimball
sehingga semua sumber kinflik itu dapat dijelaskan dengn runtut sekaligus
dicarikan beberapa jalan keluar yang agak cerdas. Khusus pada solusi konflik
kepentingan politis yang menyeret-nyeret sentimen keagamaan, pakar sejarah dan
perbandingan agama semit (Islam, Yahudi, Kristen) ini menyarankan dunia untuk
belajar kepada sosok Mahatma Gandhi. Gandhi mempunyai tujuan jelas, sesuai
dengan ajaran agamanya, namun dalam merealisasikan tujuannya itu ia tidak
pernah mengecualikan kelompok mana pun. Ia malah mengajak kelompok dalam
mewujudkan tujuannya. Lebih dari itu, Gandhi tidak pernah mengubah tujuan
menjadi sarana, dan memutlakkan sarana menjadi tujuan.
Pada bagian lain Kimball juga melontarkan
kritik yang cukup tajam dan beberapa doktrin teologi agama monoteisme. Menurut
Kimball, sekarang ini teologi tidak lagi berhak bertanya, apakah umat di luar
agamaku diselematakan atau tidak? Apabila bertanya bagaimana mereka bisa
diselamatkan? Teologi harus meninggalkan perspektif sempit tersebut. Teologi
mesti terbuka bahwa Tuhan mempunyai rencana keselamatan umat manusia yang
menyeluruh. Rencana itu tidak pernah terduga dan mungkin agamaku tidak cukup
menyelaminya secara sendirian. Maka teologi mesti mengambil posisi bahwa bisa
jadi agama-agama lain mempunyai pengertian dan sumbangan untuk menyelami
rencana keselamatan Tuhan tersebut, Dengan demikian teologi pluralisme religius
bukan lagi menjadi teologi teoritis, melainkan teologi praktis. Dari sini
inilah, menurut Kimball, dialog antar-agama bisa dimulai dengan terbuka dan
jujur. Karena harus menyingkirkan keyakinan religiusnya yang paling tinggi
(mengakui agamanya tidak sempurna), pendapat Kimball ini tampaknya masih sulit
untuk bisa diterima oleh mayoritas kaum agamawi apa pun.
Lepas dari berbagai kontraversi yang
menyelubunginya, dalam konteks keindonesiaan buku Kimball ini tampaknya sangat
relevan untuk dibaca saat ini, yang sejak reformasi hingga sekarang selalu
dihadapkan pada pelbagai krisis yang seakan tanpa solusi. Pelbagai masalah kita
hadapi:krisis ekonomi, jurang antara yang kaya dan yang miskin yang semakin
lebar, ancaman perpecahan bangsa, merekahnya gerakan-gerakan fundamentalis, dan
tindak kekerasan merebak di mana-mana. Walaupun bukan sebagai penyebab
satu-satunya, agama sering dituduh sebagai agen yang ikut memperparah semua
krisis tersebut. Untuk semua itu, agama harus mawas diri. Menyingkirkan
kekorupan dan kebusukannya sehingga bisa kembali pada roh autentiknya dan
benar-benar bisa menyumbang sesuatu yang lain dituntut untuk mengatasi krisis
bangsa ini, yakni perdamaian dan kesatuan antara warga negara. Dalam hal ini
buku Tarmizi Taher yang berjudul Membumikan Ajaran Ketuhanan; Agama Dalam
Tranformasi Bangsa (Hikmah/2003) sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai
acuan teknis gagasan Kimball.
Paralel dengan semua pertimbangan yang ada,
khusus dari sisi inklusifisme agama, buku Kimball ini menjadi semakin menarik
apabila sempat diperbandingkan dengan buku The Heart of Islam Karya Seyyed
Hossein Nashr (Mizan/2003; edisi Indonesia) Khaled Abouel-Fadl, The Place of
Tolerance in Islam yang telah diterjemahkan dengan judul Cita dan Fakta
Toleransi Islam; Puritanisme Versus Pluralisme (Arasy/2003), dan History of God-nya
Karen Armstrong (Mizan/2001).
Pendidikan Karakter dan Persoalan Bangsa
By : Unknownsebuah opini
Di
tengah-tengah carut marut persoalan bangsa, seperti korupsi, narkoba,
kecurangan, dan ketidak adilan, kembali dipertanyakan peranan pendidikan dalam
menjawab persoalan bangsa seperti apa ?
Sebagian
sekolah mulai berusaha untuk menjawabnya dengan mengubah pembelajarannya dengan
tambahan waktu pelajaran yang dikhususkan untuk mendalami nilai-nilai tertentu.
Seperti melakukan pendekatan agama, pendekatan emosional dan lain sebagainya
saat menjelang pembelajaran dimulai. Tak luput juga peran pemerintah yang mulai
berikhtiar dalam menjawab persoalan bangsa dengan cara mencantumkan nilai-nilai
pendidikan karakter dalam kurikulum 2013
Kegelisahan
dalam usaha membangun bangsa, tak lain dan tak bukan karena pendidikan
mempunyai tanggung jawab dalam menciptakan peserta didik yang mempunyai watak
dan karakter sesuai dengan yang dbutuhkan oleh masa depannya. Termasuk
persoalan bangsa dan negara.
Sebenarnya
keinginan untuk merubah bangsa menjadi lebih baik bukan hanya diwacanakan
sekarang saja. Jauh-jauh hari bapak pendidikan indonesia, Ki Hajar Dewantara
telah melahirkan keinginan dan kesadarannya akan perubahan. Tentunya perjuangan
Ki Hajar mendapatkan reaksi yang keras dari belanda yang mengakibatkannya
diasingkan ke belanda. Sepulang dari pengasingan, Ki Hajar mulai mendirikan
gerakan pendidikan melalui perguruan taman siswa.
Usaha
yang telah dilakukan Ki Hajar bukan hanya untuk dinikmati dalam sejarah saja,
melainkan pula harus diteruskan oleh generasi berikutnya agar tujuan dari
pendidikan bisa tercapai. Pada era itu, pendidikan karakter sudah menjadi
bagian yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Mengingat pada jaman
penjajahan, peran pendidikanlah yang mampu menjawab kebodohan sehingga mampu
mencapai kemerdekaan sebagai pintu gerbang menuju masyarakat yang adil dan
sejahtera. Nilai-nilai yang ditanamkan pada waktu itu antara lain adalah
kepercayaan kepada kekuatan sendiri, cinta kebenaran dan kemerdekaan,
solidaritas, kesadaran akan kesamaan derajat, serta pengaruh dari pimpinan yang
sanggup berkarya dan memberi contoh.
Hari ini, pendidikan kembali dipertanyakan peranannya.
Karena dalam kurun waktu yang sangat panjang, persoalan bangsa kita semakin
bertambah. Kehebatan para pemimpin adalah wujud nyata sebagai orang terdidik.
Kelicikan yang dilakukan para pemimpin pun merupakan wujud nyata tidak
berkarakter.
Tantangan jaman tentu akan berbeda. Penanaman karakter
jangan sampai terjebak pada ranah formal, sehingga guru melaksanakannya hanya
karena untuk memenuh formalitas saja. Indikasinya, tidak sedikit guru yang
mengeluh karena merasa kesulitan dalam hal penilaian karakter anak.
Dikarenakan, peserta didik semakin kompleks dalam bergaul, masalah lingkungan
yang mulai mengalami transisi modernitas, dan latar belakang keluarga yang
tentunya memiliki metode tersendiri dalam mendidik karakter anak.
Selain itu, peserta didik mulai memasuki lingkungan remaja
labil, serta didorong dengan perlengkapan teknologi canggih, menambah keluhan
akan keberhasilannya proses pendidikan karakter. Bahkan tidak sedikit guru juga
turut mengeluhkan hal itu. Terlihat dengan masih adanya sekolah-sekolah yang
tidak mengantisipasi siwanya terkait maraknya kenakalan remaja. Seperti
terjerumus narkoba, tawuran, pergaulan bebas, dan lain sebagainya.
Masalah pendidikan harus dijawab secara bersama dan
merupakan tanggung jawab bersama juga yang harus diterapkan dengan dasar
keinginan dan kesadaran. Persoalan bangsa akan terjawab dengan sendirinya,
apabila pendidikan sudah mulai tertata rapi dan mampu melahirkan siswa yang
berkarakter serta mampu menghadapi tantangan di jamannya kelak. Mengutip buku
karya Abdurrachman, pendidikan watak menjadi salah satu sendi yang
unsur-unsurnya terdiri atas kecakapan, tahu harga diri dan kewajiban, kekuatan
sendiri, dan kekuatan rohani yang dikembangkan untuk berfaedah bagi masyarakat
Indonesia.
Di tengah segala perubahan itu, seperti yang diungkapkan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dalam pidato saat upacara Hari
Pendidikan Nasional, secara institusional pemerintah memfasilitasi, tetapi
secara moral tugas mendidik merupakan ikhtiar kolektif. Sebagai contoh, Pak
Anies mengajak masyarakat beramai-ramai memerangi kecurangan dalam ujian nasional
yang saat itu akan dijalankan para murid SMP.
Bandung 2015
.
Tag :
Opini,
Jejaring sosial tampil sebagai penjajah era modern
By : Unknownsebuah opini
Munurut Professor J.A
Barnes (Pada tahun 1954), Jejaring sosial merupakan sebuah sistem struktur
sosial yang terdiri dari elemen-elemen individu atau organisasi. Jejaring
sosial ini akan membuat mereka yang memiliki kesamaan sosialitas, mulai dari
mereka yang telah dikenal sehari-hari sampai dengan keluarga bisa saling
berhubungan.
Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa jejaring sosial
pada intinya mempunyai manfaat untuk menyalurkan hubungan manusia satu sama
lain pada jarak yang berjauhan. Namun disadari atau tidak, disamping manfaat
baik tersebut banyak sekali manusia memggunakannya dengan hal-hal yang merujuk
pada kesenangan semata. Seperti misalnya menggunakan jejaring sosial sebagai
ajang modus kejahatan oleh kelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Tak jarang
juga pengguna jejaring sosial memanfaatkannya dengan hanya sebatas iseng,
kenalan, bercanda, hura-hura dan lain sebagainya. Ironinya, masyarakat semakin
terlena dengan hal-hal yang berbau kesenangan semata dan belum lagi dengan
sajian yang disuguhkan dengan begitu menggiurkan sehingga masyarakat semakin
lebih intens hidup dalam dunia maya dan melupakan dunia nyata.
Jika
kita terawang jaman dahulu kala, yang namanya penjajahan adalah suatu mimpi
buruk bagi bangsa kita. Akan tetapi dalam konteks penjajahan yang dialami oleh
ndonesia tentu berbeda dengan penjajahan era modern yang dimaksud dengan
internet dan teknologi. Jika dulu penjajah bangsa ini adalah para penjajah yang
jelas wujud dan rupanya, tapi yang terjadi saat ini, penjajah yang tampil
adalah bukan mereka yang bersenjata lengkap lagi, namun mereka hadir dengan
candu kesenangan dan kemalasan yang berwujud lebih absurd seperti halnya sosial
media. Dampaknya, akan terjadi proses dehumanisasi yang bukan lain merupakan
hal yang sama adanya dengan jaman penjajahan dulu.
Kita
beranjak pada proses dehumanisasi. Jaman penjajahan dulu memperlakukan manusia
dengan sewena-wena, memperbudak, kekerasan, pemerasan, dan lain-lain dengan
tujuan memiliki segala harta kekayaan negeri ini, lalu pada era modern jejaring
sosial memperlakukan manusia yang lebih akrab berhubungan dalam dunia maya
dibanding dengan hubungan dalam dunia nyata. Tentu saja hal tersebut merupakan
upaya penghilangan nilai-niai kemanusiaan yang dengan disengaja dan terencana
agar masyarakat modern cenderung pemalas, hura-hura, dan mudah untuk diadu
domba. Hasilnya pun sama, sebagian kekayaan masyarakat berupa uang akan dengan
mudah didapat oleh bangsa asing. Sementara itu, ditengah-tengah masyarakat yang
hedon, kekayaan alam kita pun akan mudah diserapnya dengan memasang
invenstor-investor asing di indonesia. Kalau harta perorangan sudah dirampas,
harta alam pun dirampas, maka sama halnya dengan penjajahan dan pembodohan yang
dilakukan jaman dulu. Hanya saja caranya lebih halus.
Hal
yang mengerikan lagi, pengguna internet di indonesia akan terus meningkat. Sesuai
dengan targetan kementrian komunikasi dan informatika (kemenkoninfo) bahwa pada
akhir tahun 2015, pengguna internet di indonesia diharapkan mencapai angka 150
juta pengguna atau 60 % dari jumlah penduduk yang didominasi oleh pengguna
jejaring sosial lalu pengguna terbesarnya adalah kalangan remaja. Jumlah angka
yang sangat mengejutkan. Bayangkan apabila jumlah segitu banyaknya, lalu semuanya
terlibat aktif dalam hubungan jejaring sosial dan menghasilkan masyarakat
modern yang meninggalkan dunia nyatanya, maka bangsa ini akan menjadi autis
dibuatnya. Hal ini yang harus kita waspadai bersama. Dengan jumlah pecandu
jejaring sosial yang besar, akan membuka ruang-ruang konflik horizontal yang
dipicu oleh hal-hal sepele. Serta lama kelamaan akan berdampak pada kehidupan
nyata.
Belum lagi kaum muda yang seharusnya menjadi tonggak penerus
estafet kepemimpinan indonesia, akan menjadi kaku karena tidak dibiasakan
interaksi di kalangan sosial. Bahkan dengan bantuan internet yang begitu
instan, kenakalan anak muda akan mudah tersalurkan. Kebanyakan pemuda ketika
disodorkan kesenangan paling diminatinya. Apa jadinya bangsa ini jika sebagian
besar calon pemimpinnya seperti itu ?. Sebab banyak sekali pepatah yang
menjadikan pemuda sebagai lambang kekuatan terbesar. Bahkan bapak Ir Soekarno
pun berkata “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan ku ubah dunia.” Sudah sangat
jelas peranan pemuda dalam membangun peradaban begitu besar. Maka harus ada
inisiatif yang dilakukan kaum muda untuk menghadapi tantangan tersebut. .
Saya kutip perkataan mas Emha Ainun Najib atau Cak Nun
seorang budayawan dalam kongkow budayanya, beliau mengatakan “bahwa bangsa
indonesia ratusan tahun dijajah oleh asing, kita masih tetap tegar melawan dan
sampai mencpai kemerdekaannya bukan karena didorong oleh peralatan pertempuran
yang lengkap, akan tetapi karena kita dulu bersatu dan tidak mudah dipecah
belah. Alat pengikatnya ialah budaya dan religius.”
Pandangan
saya, dulu kita dijajah tetap bersatu dan diketahui oleh bangsa asing bahwa
persatuan bangsa ini diikat oleh budaya dan agama yang kental, maka
diciptakanlah konspirasi baru dengan menyuguhkan internet yang didalamnya
banyak hal-hal yang justru lebih membuat candu pemakainya, sehingga menimbulkan
disintegrasi di setiap sektor, jauh dari perilaku agama dan melunturkan
nilai-nilai kebudayaan. Sementara hura-hura, mencari kenikmatan sesaat,
menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh bukanlah bagian dari
nilai-nilai budaya kita. Bukan pula nilai-nilai religius yang diwarisi oleh
pendahulu kita. Sehingga dengan mudah bangsa ini diutak-atik dan diadu
dombakan. Singkatnya penjajahan dengan tujuan yang sama tapi memakai kendaraan
dan cara yang baru.
Sangat
disayangkan apabila dijaman milenium ini kita justru terjebak oleh arus global.
Karena akan mudah diadu domba. Akan tetapi kita juga jangan terlalu antipati
pada arus global, karena konsekuensinya akan tertinggal informasi. Justru kita
harus melek keduanya dan tentunya harus punya skala prioritas diantaranya.
Hal-hal yang disebut diatas dapat dibendung hanya dengan keteguhan para
pemakainya dalam nilai kebudayaan dan religius. Kalo tidak, maka lambat laun
peradaban bangsa ini yang dibangun oleh pendahulu kita akan semakin terkikis
dan yang mengerikannya lagi, peradaban macam apa yang akan kita berikan kepada
anak cucu kita kelak.
Bandung 2015
Tag :
Opini,





